Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hari Bumi 2026: Tema dan Sejarahnya

Kompas.com, 22 April 2026, 11:18 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Hari Bumi diperingati setiap 22 April, sebagai pengingat masyarakat dunia untuk menjaga planet ini. Tema Hari Bumi 2026 Our Power, Our Planet yang artinya Kekuatan Kita, Planet Kita.

Tema ini menegaskan bahwa kemajuan lingkungan tidak bergantung pada satu pemerintahan atau kebijakan tertentu saja, melainkan pada aksi kolektif masyarakat di seluruh dunia dalam menjaga tempat sekitarnya.

World Economic Forum (WEF) menyatakan, Hari Bumi juga berkait dengan kesehatan hutan, lautan, sistem air tawar, tanah, dan keanekaragaman hayati.

Sistem-sistem itu menopang produksi pangan, kesehatan manusia, ketahanan ekonomi, dan ekonomi masyarakat.

Baca juga: Hari Bumi dan Semangat Transisi Energi

"Kampanye resmi Hari Bumi 2026 berfokus pada mobilisasi warga dan aksi demokratis. Kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan literasi lingkungan sekaligus menyelenggarakan berbagai acara pendidikan komunitas, dan pertemuan umum untuk membela perlindungan lingkungan di tingkat lokal dan nasional," kata WEF dalam laman resminya, dikutip Rabu (22/4/2026).

Inisiatif utama tahun 2026 mencakup Revolusi 25 persen, sebuah kampanye yang berfokus pada bagaimana aksi sosial dapat mengubah norma dan mendorong pasar.

Kemudian, upaya reboisasi global untuk meningkatkan kualitas udara dan keanekaragaman hayati lokal melalui Proyek Canopy. Mengakhiri polusi plastik, dan memberdayakan masyarakat untuk mengumpulkan data ilmiah tentang kualitas udara serta populasi serangga melalui aplikasi seluler.

Bagaimana Sejarah Hari Bumi? 

Sejarah Hari Bumi bermula dari pencemaran lingkungan yang terjadi di Amerika Serikat. Masyarakat di sana menggunakan bensin bertimbal untuk mobil-mobil besar.

Baca juga: Krisis Iklim Perpanjang Durasi Kebakaran Hutan di Amerika Utara

Sementara industrinya menyebabkan emisi dan lumpur tanpa khawatir terkena sanksi hukum. Polusi udara umumnya diterima sebagai bau kemakmuran.

Mengutip Earthday.org, kala itu, masyarakat Amerika pada umumnya tetap tidak menyadari masalah lingkungan dan bagaimana lingkungan yang tercemar mengancam kesehatan manusia.

Senator Gaylord Nelson, senator junior dari Wisconsin, merasa prihatin dengan memburuknya lingkungan di AS. Kemudian pada Januari 1969, ia dan beberapa orang lainnya menyaksikan pencematan akibat tumpahan minyak di Santa Barbara, California.

Nelson ingin menggabungkan energi protes anti-perang mahasiswa dengan kesadaran publik yang sedang berkembang tentang polusi udara dan air.

Dia lalu mengumumkan ide mengadakan kegiatan edukasi di kampus-kampus perguruan tinggi kepada media nasional dan membujuk Pete McCloskey, anggota Kongres dari Partai Republik untuk menjadi ketua bersamanya.

Nelson turut merekrut Denis Hayes, aktivis muda bertugas mengorganisir kegiatan belajar-mengajar di kampus dan memperluas gagasan tersebut ke khalayak yang lebih luas, dan mereka memilih tanggal 22 April. 

Menyadari potensinya untuk menginspirasi seluruh warga Amerika, Hayes membangun tim nasional yang terdiri dari 85 orang untuk mempromosikan acara-acara di seluruh negeri. Upaya tersebut segera meluas hingga mencakup berbagai organisasi, kelompok keagamaan, dan lainnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Banjir dan Air Limbah Tingkatkan Risiko Paparan Bakteri yang Resisten Antibiotik
Banjir dan Air Limbah Tingkatkan Risiko Paparan Bakteri yang Resisten Antibiotik
LSM/Figur
Tingkatkan Efisiensi Produksi, Industri Makanan Mulai Adopsi AI
Tingkatkan Efisiensi Produksi, Industri Makanan Mulai Adopsi AI
Swasta
Konsumsi Daging Global Naik 4 Kali Lipat, Apa Dampaknya Bagi Lingkungan?
Konsumsi Daging Global Naik 4 Kali Lipat, Apa Dampaknya Bagi Lingkungan?
LSM/Figur
IPB University Promosikan Potensi Agromaritim Indonesia di Korea Selatan
IPB University Promosikan Potensi Agromaritim Indonesia di Korea Selatan
Pemerintah
Menaikkan Pajak UMKM saat Terjadi Ketidakpastian Global Dinilai Kurang Tepat
Menaikkan Pajak UMKM saat Terjadi Ketidakpastian Global Dinilai Kurang Tepat
LSM/Figur
Studi Ungkap Hambatan Sulitnya Pensiunkan PLTU Batu Bara di Indonesia
Studi Ungkap Hambatan Sulitnya Pensiunkan PLTU Batu Bara di Indonesia
Pemerintah
Pakar IPB University Dorong Hilirisasi Industri Lobster Nasional
Pakar IPB University Dorong Hilirisasi Industri Lobster Nasional
Pemerintah
Kemenhut : Gap Pendanaan Konservasi Keanekaragaman Hayati Capai 74 Persen
Kemenhut : Gap Pendanaan Konservasi Keanekaragaman Hayati Capai 74 Persen
Pemerintah
Fitoplankton Bisa 'Kunci' Karbon di Lautan hingga Ribuan Tahun
Fitoplankton Bisa "Kunci" Karbon di Lautan hingga Ribuan Tahun
LSM/Figur
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Swasta
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
Pemerintah
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Pemerintah
Program 'SNI Goes to Campus' Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Program "SNI Goes to Campus" Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Swasta
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Pemerintah
Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030
Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau