Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

El Nino 2026 Berisiko Ganggu Rantai Pasok Batu Bara, Ini Bahayanya bagi RI dan Negara Importir

Kompas.com, 28 April 2026, 09:17 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Fenomena El Nino 'Godzilla' diprediksi akan terjadi selama musim kemarau 2026 yang berisiko menurunkan debit air sungai-sungai jalur logistik utama di Kalimantan, seperti Mahakam dan Barito, ke titik terendah.

Debit air Sungai Mahakam pernah menyusut secara signifikan selama periode El Niño 2015. Saat itu, kapasitas muatan tongkang terpaksa dikurangi hingga 50 persen untuk menghindari kandas, sehingga biaya logistik untuk pengangkutan batu bara dari Kalimantan meningkat.

Penurunan debit air Sungai Mahakam juga pernah terjadi pada Agustus 2019, dengan memunculkan 14 titik gosong atau pulau pasir (sedimentasi), yang menghentikan aktivitas tongkang besar selama tiga hari dan menimbulkan antrean panjang di pelabuhan muat.

Baca juga: Godzilla El Nino Berisiko Picu Karhutla, Ancam Iklim dan Keanekaragaman Hayati

Selain Sungai Mahakam, penurunan debit air sampai level terendah pernah terjadi pula di Sungai Barito pada Oktober 2023, yang menyebabkan sejumlah produsen mengajukan keadaan kahar atau force majeure karena tongkang tidak dapat bersandar.

"Diperkirakan (dampak El Nino selama musim kemarau tahun 2026) bisa lebih parah," ujar Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), Iwa Garniwa kepada Kompas.com, Senin (27/4/2026).

Ketiga kasus di atas merupakan contoh penurunan debit air Sungai Mahakam dan Barito hingga ke titik kritis, yang menghambat pelayaran tongkang dan berpotensi melumpuhkan rantai pasok batu bara.

Berkaca dari ketiga kasus tersebut, Iwa mengungkapkan, potensi dampaknya terhadap sektor ketenagakerjaan, penerimaan negara, reputasi pasokan, serta ketahanan energi nasional, jika penurunan debit air Sungai Mahakam dan Barito hingga ke titik kritis terulang.

Dampak ke Industri

Ia memperingatkan bahwa penghentian operasi tongkang akan berdampak langsung pada industri dan penerimaan negara.

Pendapatan anak buah kapal (ABK), tenaga kerja bongkar muat (TKBM), dan pelaku usaha pendukung di Samarinda, Balikpapan, serta Banjarmasin tentu akan terpengaruh oleh kondisi tersebut.

Lainnya, gangguan logistik selama 1 bulan berpotensi mengurangi penerimaan negara Rp 6 triliun- Rp 8 triliun. Keterlambatan pengiriman batu bara juga akan melemahkan kepercayaan pembeli internasional dan membuka peluang substitusi ke negara produsen lain.

Di sisi lain, lebih dari 60 persen pasokan listrik Jawa-Bali bersumber dari PLTU batu bara. Gangguan pasokan domestik dapat menekan keandalan sistem kelistrikan.

"Ketergantungan pada moda transportasi sungai menjadikan sistem logistik batubara rentan terhadap variabilitas iklim. Diperlukan langkah mitigasi berupa pengerukan alur berkala dan percepatan diversifikasi moda transportasi," tutur Rektor Institut Teknologi PLN (ITPLN) ini.

Baca juga: Pemerintah Percepat Strategi Mitigasi Kekeringan Hadapi El Nino

Lonjakan harga batu bara global

Gangguan rantai pasok akibat penurunan debit air Sungai Mahakam dan Barito juga berpotensi mendorong kenaikan harga batu bara global secara signifikan. Apalagi, Indonesia menguasai 48 persen pangsa pasar batu bara termal seaborne global, dengan volume ekspor sekitar 550 juta ton per tahun.

Indonesia mengekspor batu bara ke negara-negara tujuan utama, seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan. Indonesia juga mengekspor batu bara ke negara-negara ASEAN.

"Posisi ini menjadikan Indonesia sebagai pemasok dominan. Akibatnya supply export (permintaan ekspor) akan tergganggu," ujar Iwa.

Gangguan rantai pasok dari Kalimantan akan berdampak pada harga batu bara global melalui tiga mekanisme. Pertama, supply shock. Gangguan selama satu bulan pada jalur logistik utama melalui Sungai Mahakam diperkirakan akan menahan sekitar 40 juta ton pasokan atau setara 7 persen pasokan global tahunan.

Kedua, stok terbatas. Rata-rata stok persediaan batu bara untuk mengamankan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di China dan India hanya 15-20 hari. Imbasnya, kondisi gangguan dalam rantai pasok batu bara akan mempercepat respons pasar.

Ketiga, preseden Januari 2022. Ketika Indonesia menghentikan ekspor selama satu bulan, maka harga acuan Newcastle naik 32 persen dalam 10 hari perdagangan.

Dampak ke Tarif Listrik

Lonjakan harga batubara akan merambat ke tarif listrik industri di negara importir, yang mendorong peralihan ke liquefied natural gas (LNG) dan berpotensi menyumbang tekanan inflasi. Sementara itu, kapasitas substitusi dari Australia dan Rusia terbatas akibat kendala infrastruktur dan geopolitik.

Baca juga: PBB Prediksi El Nino Terjadi Lagi Tahun Ini, Suhu Global Terancam Naik

Iwa merekomendasikan kebijakan dalam jangka pendek dan menengah dalam menghadapi permasalahan rantai pasok batu bara ini. Dalam jangka pendek, Indonesia perlu mengoptimalisasikan pengerukan alur sungai dan sistem monitoring debit air secara real-time.

Dalam jangka menengah, Indonesia harus mempercepat pembangunan infrastruktur kereta api batubara sebagai alternatif logistik untuk mengurangi ketergantungan pada sungai.

"Stabilitas logistik batubara Kalimantan bukan hanya isu sektoral, melainkan bagian dari agenda ketahanan energi nasional dan stabilitas ekonomi makro," tutur Iwa.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dampak Perubahan Iklim: Kedelai Bisa Tumbuh Lebih Besar tapi Kurang Bergizi
Dampak Perubahan Iklim: Kedelai Bisa Tumbuh Lebih Besar tapi Kurang Bergizi
Pemerintah
Lestari Summit 2026, Hadirkan Isu Keberlanjutan yang Dekat dengan Masyarakat
Lestari Summit 2026, Hadirkan Isu Keberlanjutan yang Dekat dengan Masyarakat
Swasta
Penggemar Piala Dunia Kini Lebih Pilih Produk Ramah Lingkungan
Penggemar Piala Dunia Kini Lebih Pilih Produk Ramah Lingkungan
Pemerintah
Komitmen Lingkungan Perusahaan Terbesar Dunia Naik Tiga Kali Lipat Sejak 2019
Komitmen Lingkungan Perusahaan Terbesar Dunia Naik Tiga Kali Lipat Sejak 2019
Pemerintah
ISO Rilis Draf Panduan Net Zero untuk Perusahaan Sedunia
ISO Rilis Draf Panduan Net Zero untuk Perusahaan Sedunia
Pemerintah
Tempat Kerja Inklusif dan Berkelanjutan semakin Diperhatikan Korporasi
Tempat Kerja Inklusif dan Berkelanjutan semakin Diperhatikan Korporasi
Swasta
Terbitkan Sustainability Report 2025, TelkomGroup Perkuat Integrasi ESG dalam Transformasi Bisnis
Terbitkan Sustainability Report 2025, TelkomGroup Perkuat Integrasi ESG dalam Transformasi Bisnis
BrandzView
WVI Kampanyekan Water fo Timor, Dekatkan Akses Air Bersih dan Sanitasi di NTT
WVI Kampanyekan Water fo Timor, Dekatkan Akses Air Bersih dan Sanitasi di NTT
LSM/Figur
60 Persen Lembaga Keuangan Terkemuka di Dunia Abaikan Risiko Deforestasi
60 Persen Lembaga Keuangan Terkemuka di Dunia Abaikan Risiko Deforestasi
Pemerintah
Mayoritas Bos Perusahaan RI Akui Elektrifikasi Dongkrak Daya Saing Bisnis
Mayoritas Bos Perusahaan RI Akui Elektrifikasi Dongkrak Daya Saing Bisnis
LSM/Figur
MagnaMinds Dorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk Perkuat Pendidikan Inklusif di Sulawesi Utara
MagnaMinds Dorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk Perkuat Pendidikan Inklusif di Sulawesi Utara
Swasta
Bebani Listrik, Pusat Data di Asia Pasifik Kini Diperketat
Bebani Listrik, Pusat Data di Asia Pasifik Kini Diperketat
Pemerintah
Perempuan Pesisir Kehilangan Pekerjaan akibat Perubahan Iklim
Perempuan Pesisir Kehilangan Pekerjaan akibat Perubahan Iklim
LSM/Figur
BPOM dan PYFA Kolaborasi Kejar 'Net Zero Carbon', Hubungkan Kesehatan Manusia dan Bumi
BPOM dan PYFA Kolaborasi Kejar "Net Zero Carbon", Hubungkan Kesehatan Manusia dan Bumi
Swasta
Kita Salah Menghitung Risiko
Kita Salah Menghitung Risiko
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau