KOMPAS.com - Fenomena El Nino 'Godzilla' diprediksi akan terjadi selama musim kemarau 2026 yang berisiko menurunkan debit air sungai-sungai jalur logistik utama di Kalimantan, seperti Mahakam dan Barito, ke titik terendah.
Debit air Sungai Mahakam pernah menyusut secara signifikan selama periode El Niño 2015. Saat itu, kapasitas muatan tongkang terpaksa dikurangi hingga 50 persen untuk menghindari kandas, sehingga biaya logistik untuk pengangkutan batu bara dari Kalimantan meningkat.
Penurunan debit air Sungai Mahakam juga pernah terjadi pada Agustus 2019, dengan memunculkan 14 titik gosong atau pulau pasir (sedimentasi), yang menghentikan aktivitas tongkang besar selama tiga hari dan menimbulkan antrean panjang di pelabuhan muat.
Baca juga: Godzilla El Nino Berisiko Picu Karhutla, Ancam Iklim dan Keanekaragaman Hayati
Selain Sungai Mahakam, penurunan debit air sampai level terendah pernah terjadi pula di Sungai Barito pada Oktober 2023, yang menyebabkan sejumlah produsen mengajukan keadaan kahar atau force majeure karena tongkang tidak dapat bersandar.
"Diperkirakan (dampak El Nino selama musim kemarau tahun 2026) bisa lebih parah," ujar Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), Iwa Garniwa kepada Kompas.com, Senin (27/4/2026).
Ketiga kasus di atas merupakan contoh penurunan debit air Sungai Mahakam dan Barito hingga ke titik kritis, yang menghambat pelayaran tongkang dan berpotensi melumpuhkan rantai pasok batu bara.
Berkaca dari ketiga kasus tersebut, Iwa mengungkapkan, potensi dampaknya terhadap sektor ketenagakerjaan, penerimaan negara, reputasi pasokan, serta ketahanan energi nasional, jika penurunan debit air Sungai Mahakam dan Barito hingga ke titik kritis terulang.
Ia memperingatkan bahwa penghentian operasi tongkang akan berdampak langsung pada industri dan penerimaan negara.
Pendapatan anak buah kapal (ABK), tenaga kerja bongkar muat (TKBM), dan pelaku usaha pendukung di Samarinda, Balikpapan, serta Banjarmasin tentu akan terpengaruh oleh kondisi tersebut.
Lainnya, gangguan logistik selama 1 bulan berpotensi mengurangi penerimaan negara Rp 6 triliun- Rp 8 triliun. Keterlambatan pengiriman batu bara juga akan melemahkan kepercayaan pembeli internasional dan membuka peluang substitusi ke negara produsen lain.
Di sisi lain, lebih dari 60 persen pasokan listrik Jawa-Bali bersumber dari PLTU batu bara. Gangguan pasokan domestik dapat menekan keandalan sistem kelistrikan.
"Ketergantungan pada moda transportasi sungai menjadikan sistem logistik batubara rentan terhadap variabilitas iklim. Diperlukan langkah mitigasi berupa pengerukan alur berkala dan percepatan diversifikasi moda transportasi," tutur Rektor Institut Teknologi PLN (ITPLN) ini.
Baca juga: Pemerintah Percepat Strategi Mitigasi Kekeringan Hadapi El Nino
Gangguan rantai pasok akibat penurunan debit air Sungai Mahakam dan Barito juga berpotensi mendorong kenaikan harga batu bara global secara signifikan. Apalagi, Indonesia menguasai 48 persen pangsa pasar batu bara termal seaborne global, dengan volume ekspor sekitar 550 juta ton per tahun.
Indonesia mengekspor batu bara ke negara-negara tujuan utama, seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan. Indonesia juga mengekspor batu bara ke negara-negara ASEAN.
"Posisi ini menjadikan Indonesia sebagai pemasok dominan. Akibatnya supply export (permintaan ekspor) akan tergganggu," ujar Iwa.
Gangguan rantai pasok dari Kalimantan akan berdampak pada harga batu bara global melalui tiga mekanisme. Pertama, supply shock. Gangguan selama satu bulan pada jalur logistik utama melalui Sungai Mahakam diperkirakan akan menahan sekitar 40 juta ton pasokan atau setara 7 persen pasokan global tahunan.
Kedua, stok terbatas. Rata-rata stok persediaan batu bara untuk mengamankan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di China dan India hanya 15-20 hari. Imbasnya, kondisi gangguan dalam rantai pasok batu bara akan mempercepat respons pasar.
Ketiga, preseden Januari 2022. Ketika Indonesia menghentikan ekspor selama satu bulan, maka harga acuan Newcastle naik 32 persen dalam 10 hari perdagangan.
Lonjakan harga batubara akan merambat ke tarif listrik industri di negara importir, yang mendorong peralihan ke liquefied natural gas (LNG) dan berpotensi menyumbang tekanan inflasi. Sementara itu, kapasitas substitusi dari Australia dan Rusia terbatas akibat kendala infrastruktur dan geopolitik.
Baca juga: PBB Prediksi El Nino Terjadi Lagi Tahun Ini, Suhu Global Terancam Naik
Iwa merekomendasikan kebijakan dalam jangka pendek dan menengah dalam menghadapi permasalahan rantai pasok batu bara ini. Dalam jangka pendek, Indonesia perlu mengoptimalisasikan pengerukan alur sungai dan sistem monitoring debit air secara real-time.
Dalam jangka menengah, Indonesia harus mempercepat pembangunan infrastruktur kereta api batubara sebagai alternatif logistik untuk mengurangi ketergantungan pada sungai.
"Stabilitas logistik batubara Kalimantan bukan hanya isu sektoral, melainkan bagian dari agenda ketahanan energi nasional dan stabilitas ekonomi makro," tutur Iwa.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya