JAKARTA, KOMPAS.com - Survei mengungkapkan, 88 persen pemimpin perusahaan di Indonesia sepakat memprioritaskan elektrifikasi peralatan langkah terbaik bagi bisnis dalam 10 tahun ke depan dibanding alat berbasis bahan bakar fosil. Hal ini juga dinilai mendorong daya saing ekonomi serta ketahanan energi.
Jajak pendapat yang dilakukan lembaga think tank E3G, We Mean Business Coalition dan the Global Renewables Alliance Powering Up: Business Perspectives on Electrification menunjukkan, 91 persen eksekutif perusahaan Indonesia berencana menerapkan elektrifikasi dalam operasi bisnis sebelum 2030.
Rencana tersebut sejalan dengan tren global, di mana mayoritas eksekutif perusahaan mendorong elektrifikasi bisnis dan ekonomi yang berbasis pada energi terbarukan.
“Jajak pendapat ini menunjukkan pergeseran mendalam dalam lanskap ekonomi global. Semakin banyak pelaku bisnis yang melihat elektrifikasi sebagai fondasi daya saing masa depan, keamanan energi, dan ketahanan ekonomi," ujar Direktur Utama We Mean Business Coalition, Maria Mendiluce dalam keterangannya, Rabu (17/6/2026).
Baca juga: Konsumsi Nikel untuk Baterai EV Diprediksi Melonjak 218 Persen pada 2035
"Di tengah ketidakstabilan geopolitik dan volatilitas bahan bakar fosil, perusahaan tidak mundur dari transisi mereka justru bergerak lebih cepat menuju transisi tersebut,” imbuh dia.
Kendati demikian, rencana elektrifikasi pengusaha Indonesia terhalang lambannya langkah pemerintah. Mengacu jajak pendapat, 83 persen pemimpin bisnis menyatakan perusahaan mereka melakukan elektrifikasi lebih cepat dibandingkan dengan kesiapan sistem yang disediakan pemerintah.
Sebanyak 64 persen eksekutif menyebut kurangnya investasi pemerintah pada infrastruktur jaringan listrik sebagai salah satu tantangan terbesar, proporsi tertinggi dibandingkan dengan seluruh negara yang disurvei. Mendiluce menjelaskan, laporan ini menemukan adanya kesenjangan antara minat perusahaan beralih ke listrik bersih dengan rencana penyediaan listrik nasional.
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 PT PLN (Persero) sendiri masih memproyeksikan pemanfaatan batu bara hingga 2059, dengan kapasitas tambahan PLTU hingga 6,3 gigawatt pada dekade mendatang. Sehingga, 65 persen responden menilai Indonesia berisiko tertinggal dalam perlombaan elektrifikasi global.
Baca juga: Pemanfaatan EBT di Laut Indonesia Bisa Ganggu Migrasi Paus-Burung
Meski begitu, 68 persen pelaku bisnis tidak keberatan mengucurkan investasi untuk membangun pembangkit listrik berbasis energi terbarukan untuk keperluan sendiri jika memang diperlukan.
Jika pilihan ini juga tidak dapat dilakukan dan akses terhadap listrik bersih tetap terbatas, mayoritas pelaku usaha atau 78 persen di antaranya membuka opsi memindahkan bisnis ke negara lain.
Oleh sebab itu, 55 persen dari mereka mendorong adanya rencana kebijakan jangka panjang yang lebih jelas dengan tenggat waktu nasional dari pemerintah. Terutama, mereka menuntut adanya ekspansi dan digitalisasi jaringan transmisi listrik serta pendekatan perencanaan yang lebih cepat untuk konektivitas jaringan.
Direktur utama Global Renewables Alliance, Bruce Douglas berpandangan para pelaku bisnis saat ini mengetahui ke mana arah tren bergerak.
"Jajak pendapat ini menyoroti bahwa daya saing mereka bergantung pada seberapa cepat mereka dapat melakukan elektrifikasi dengan energi terbarukan. Tidak mengherankan jika permintaan utama mereka kepada pemerintah adalah untuk membangun dan memodernisasi jaringan listrik yang memfasilitasi akses ke listrik yang murah dan aman,” beber dia.
Baca juga: Penjualan Mobil Listrik Dunia Diprediksi Tembus 23 Juta Unit Tahun Ini
Adapun jajak pendapat dilakukan di 18 negara mencakup negara maju dan berkembang, dan melibatkan 1.994 pemimpin bisnis. Temuannya menunjukkan pergeseran global yang signifikan dalam cara bisnis memandang elektrifikasi.
Di semua negara maju, berkembang, dan negara miskin, bisnis kian melihat elektrifikasi sebagai prioritas ekonomi dan strategis yang dikaitkan dengan biaya operasional lebih rendah, ketahanan tinggi terhadap guncangan eksternal, daya saing lebih kuat, dan peningkatan keamanan energi jangka panjang.
Listrik berbasis energi terbarukan secara luas dipandang sebagai fondasi yang mendukung pergeseran itu.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya