Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mayoritas Bos Perusahaan RI Akui Elektrifikasi Dongkrak Daya Saing Bisnis

Kompas.com, 17 Juni 2026, 20:30 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Survei mengungkapkan, 88 persen pemimpin perusahaan di Indonesia sepakat memprioritaskan elektrifikasi peralatan langkah terbaik bagi bisnis dalam 10 tahun ke depan dibanding alat berbasis bahan bakar fosil. Hal ini juga dinilai mendorong daya saing ekonomi serta ketahanan energi.

Jajak pendapat yang dilakukan lembaga think tank E3G, We Mean Business Coalition dan the Global Renewables Alliance Powering Up: Business Perspectives on Electrification menunjukkan, 91 persen eksekutif perusahaan Indonesia berencana menerapkan elektrifikasi dalam operasi bisnis sebelum 2030.

Rencana tersebut sejalan dengan tren global, di mana mayoritas eksekutif perusahaan mendorong elektrifikasi bisnis dan ekonomi yang berbasis pada energi terbarukan.

“Jajak pendapat ini menunjukkan pergeseran mendalam dalam lanskap ekonomi global. Semakin banyak pelaku bisnis yang melihat elektrifikasi sebagai fondasi daya saing masa depan, keamanan energi, dan ketahanan ekonomi," ujar Direktur Utama We Mean Business Coalition, Maria Mendiluce dalam keterangannya, Rabu (17/6/2026).

Baca juga: Konsumsi Nikel untuk Baterai EV Diprediksi Melonjak 218 Persen pada 2035

"Di tengah ketidakstabilan geopolitik dan volatilitas bahan bakar fosil, perusahaan tidak mundur dari transisi mereka justru bergerak lebih cepat menuju transisi tersebut,” imbuh dia.

Kendati demikian, rencana elektrifikasi pengusaha Indonesia terhalang lambannya langkah pemerintah. Mengacu jajak pendapat, 83 persen pemimpin bisnis menyatakan perusahaan mereka melakukan elektrifikasi lebih cepat dibandingkan dengan kesiapan sistem yang disediakan pemerintah.

Sebanyak 64 persen eksekutif menyebut kurangnya investasi pemerintah pada infrastruktur jaringan listrik sebagai salah satu tantangan terbesar, proporsi tertinggi dibandingkan dengan seluruh negara yang disurvei. Mendiluce menjelaskan, laporan ini menemukan adanya kesenjangan antara minat perusahaan beralih ke listrik bersih dengan rencana penyediaan listrik nasional.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 PT PLN (Persero) sendiri masih memproyeksikan pemanfaatan batu bara hingga 2059, dengan kapasitas tambahan PLTU hingga 6,3 gigawatt pada dekade mendatang. Sehingga, 65 persen responden menilai Indonesia berisiko tertinggal dalam perlombaan elektrifikasi global.

Baca juga: Pemanfaatan EBT di Laut Indonesia Bisa Ganggu Migrasi Paus-Burung

Meski begitu, 68 persen pelaku bisnis tidak keberatan mengucurkan investasi untuk membangun pembangkit listrik berbasis energi terbarukan untuk keperluan sendiri jika memang diperlukan.

Opsi pindah lokasi

Jika pilihan ini juga tidak dapat dilakukan dan akses terhadap listrik bersih tetap terbatas, mayoritas pelaku usaha atau 78 persen di antaranya membuka opsi memindahkan bisnis ke negara lain.

Oleh sebab itu, 55 persen dari mereka mendorong adanya rencana kebijakan jangka panjang yang lebih jelas dengan tenggat waktu nasional dari pemerintah. Terutama, mereka menuntut adanya ekspansi dan digitalisasi jaringan transmisi listrik serta pendekatan perencanaan yang lebih cepat untuk konektivitas jaringan.

Direktur utama Global Renewables Alliance, Bruce Douglas berpandangan para pelaku bisnis saat ini mengetahui ke mana arah tren bergerak.

"Jajak pendapat ini menyoroti bahwa daya saing mereka bergantung pada seberapa cepat mereka dapat melakukan elektrifikasi dengan energi terbarukan. Tidak mengherankan jika permintaan utama mereka kepada pemerintah adalah untuk membangun dan memodernisasi jaringan listrik yang memfasilitasi akses ke listrik yang murah dan aman,” beber dia.

Baca juga: Penjualan Mobil Listrik Dunia Diprediksi Tembus 23 Juta Unit Tahun Ini

Adapun jajak pendapat dilakukan di 18 negara mencakup negara maju dan berkembang, dan melibatkan 1.994 pemimpin bisnis. Temuannya menunjukkan pergeseran global yang signifikan dalam cara bisnis memandang elektrifikasi.

Di semua negara maju, berkembang, dan negara miskin, bisnis kian melihat elektrifikasi sebagai prioritas ekonomi dan strategis yang dikaitkan dengan biaya operasional lebih rendah, ketahanan tinggi terhadap guncangan eksternal, daya saing lebih kuat, dan peningkatan keamanan energi jangka panjang.

Listrik berbasis energi terbarukan secara luas dipandang sebagai fondasi yang mendukung pergeseran itu.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
60 Persen Lembaga Keuangan Terkemuka di Dunia Abaikan Risiko Deforestasi
60 Persen Lembaga Keuangan Terkemuka di Dunia Abaikan Risiko Deforestasi
Pemerintah
Mayoritas Bos Perusahaan RI Akui Elektrifikasi Dongkrak Daya Saing Bisnis
Mayoritas Bos Perusahaan RI Akui Elektrifikasi Dongkrak Daya Saing Bisnis
LSM/Figur
MagnaMinds Dorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk Perkuat Pendidikan Inklusif di Sulawesi Utara
MagnaMinds Dorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk Perkuat Pendidikan Inklusif di Sulawesi Utara
Swasta
Bebani Listrik, Pusat Data di Asia Pasifik Kini Diperketat
Bebani Listrik, Pusat Data di Asia Pasifik Kini Diperketat
Pemerintah
Perempuan Pesisir Kehilangan Pekerjaan akibat Perubahan Iklim
Perempuan Pesisir Kehilangan Pekerjaan akibat Perubahan Iklim
LSM/Figur
BPOM dan PYFA Kolaborasi Kejar 'Net Zero Carbon', Hubungkan Kesehatan Manusia dan Bumi
BPOM dan PYFA Kolaborasi Kejar "Net Zero Carbon", Hubungkan Kesehatan Manusia dan Bumi
Swasta
Kita Salah Menghitung Risiko
Kita Salah Menghitung Risiko
Pemerintah
Kerugian akibat Polusi Plastik Diperkirakan Capai Rp 44.340 Triliun Per Tahun
Kerugian akibat Polusi Plastik Diperkirakan Capai Rp 44.340 Triliun Per Tahun
Pemerintah
Ekonomi Hijau Tumbuh, Uni Eropa Catat Lonjakan Signifikan Green Jobs
Ekonomi Hijau Tumbuh, Uni Eropa Catat Lonjakan Signifikan Green Jobs
Pemerintah
World Refill Day, Mengenal Refill Station yang Bantu Kurangi Sampah Plastik
World Refill Day, Mengenal Refill Station yang Bantu Kurangi Sampah Plastik
Swasta
Tiga Bahaya Perubahan Iklim Intai Hampir Separuh Anak di Dunia
Tiga Bahaya Perubahan Iklim Intai Hampir Separuh Anak di Dunia
Pemerintah
Polusi Plastik Ancam Mata Pencarian dan Penghasilan Nelayan di Seluruh Dunia
Polusi Plastik Ancam Mata Pencarian dan Penghasilan Nelayan di Seluruh Dunia
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Masih Guyur Sejumlah Daerah Saat Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Masih Guyur Sejumlah Daerah Saat Kemarau
Pemerintah
Amazon Capai 75 Persen Target Penghematan Air Pusat Data
Amazon Capai 75 Persen Target Penghematan Air Pusat Data
Pemerintah
Ancaman Energi Bersih: Kabel Turbin Angin Lepas Pantai Ganggu Hiu dan Ikan Pari
Ancaman Energi Bersih: Kabel Turbin Angin Lepas Pantai Ganggu Hiu dan Ikan Pari
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau