KOMPAS.com - Selama ini, kampanye tentang iklim selalu menggunakan cara lama yang sama untuk menyentuh emosi kita: tunjukkan sesuatu yang menakutkan, buat orang merasa bersalah, dan berharap rasa tidak nyaman itu akan berubah menjadi tindakan nyata.
Namun, sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa cara tersebut ternyata keliru. Ketika tujuannya adalah memancing ide-ide kreatif yang tulus untuk mengatasi perubahan iklim, rasa optimis alias harapan terbukti menjadi alat yang jauh lebih ampuh daripada rasa takut.
Melansir Earth, Selasa (19/5/2026) rasa takut, rasa bersalah, dan rasa marah sebenarnya bukan tidak ada gunanya. Emosi-emosi itu bisa memancing orang untuk langsung bertindak. Namun, tindakan tersebut biasanya hanya bersifat spontan, berlangsung sebentar, dan sering kali tidak bertahan lama.
Hal yang kurang bisa dilakukan oleh rasa takut dan rasa bersalah adalah memancing cara berpikir yang luwes dan kreatif. Padahal cara berpikir seperti itulah yang sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang rumit.
Baca juga: Dampak Tersembunyi Krisis Iklim, dari Kemiskinan hingga Kerja Paksa
Para ahli psikologi sudah lama punya teori bahwa emosi positif bekerja dengan cara yang berbeda. Bukannya membuat fokus kita menyempit karena panik melihat ancaman, emosi positif justru membuka pikiran kita menjadi lebih luas.
Hal ini membuat orang lebih terbuka terhadap ide-ide baru, hubungan baru, dan cara-cara baru dalam menyelesaikan masalah.
Penelitian yang dipimpin oleh Profesor Alexa Spence dari Sekolah Psikologi Universitas Nottingham ini kemudian ingin menguji apakah teori tersebut benar-benar terbukti dalam kenyataan, khususnya dalam pembahasan tentang perubahan iklim.
"Kita terlalu sering melihat emosi negatif seperti rasa takut, rasa bersalah, dan rasa marah digunakan untuk memaksa orang agar peduli pada lingkungan. Memang, cara itu bisa membuat orang langsung bertindak dalam jangka pendek. Namun, kami yakin bahwa emosi positif bisa memberikan efek yang berbeda, dampaknya jauh lebih luas dan bertahan jauh lebih lama," jelasnya.
Para peneliti kemudian melakukan dua kali percobaan, yang masing-masing diikuti oleh 160 orang dan 334 orang peserta.
Tim peneliti lantas membuat sebuah tugas bernama "tugas kreativitas iklim". Mereka meminta para peserta untuk memikirkan berbagai cara unik agar gaya hidup mereka sendiri bisa lebih ramah lingkungan. Setelah itu, tim peneliti memberikan nilai berdasarkan seberapa asli dan seberapa luas ide-ide yang dihasilkan tersebut.
Tugas tersebut kemudian digabungkan dengan tes lainnya, termasuk tes menghubungkan kata-kata dan latihan menyelesaikan masalah lingkungan.
Selanjutnya, dalam percobaan kedua peserta dibagi secara acak untuk menonton salah satu dari dua video tentang perubahan iklim, yang sengaja dibuat untuk memancing rasa penuh harapan atau rasa takut.
Video yang memancing rasa harapan mengambil sudut pandang yang optimis. Video ini menunjukkan berbagai solusi yang bisa dilakukan, menggunakan bahasa yang positif dan ceria, serta diiringi musik latar yang membakar semangat.
Baca juga: Krisis Iklim Picu Deoksigenisasi Sungai Tropis
Sebaliknya, video yang memancing rasa takut sama sekali berbeda. Video ini menunjukkan rasa ragu apakah solusi yang ada akan berhasil, menggunakan bahasa yang penuh peringatan bahaya, memberikan efek warna gelap pada videonya, dan dipadukan dengan musik yang suram.
Setelah menonton video tersebut, para peserta diminta menyelesaikan tes kreativitas umum dan juga tugas kreativitas iklim yang baru.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya