Kebanyakan nelayan mau membawa kembali sampah plastik ke daratan daripada membuangnya lagi ke laut jika ada pihak yang mau membeli sampah tersebut dengan harga murah.
Untuk membayar satu kapal agar mau membawa pulang semua sampah plastik yang mereka jaring, biayanya sekitar 60 dolar AS per tahun.
Baca juga: KKP Tak Tenggelamkan Kapal Asing Ilegal Seperti Era Susi Pudjiastuti, tapi Diberikan ke Nelayan
Saat ini, kebanyakan nelayan langsung melempar kembali sampah yang tersangkut di jaring ke dalam laut. Mereka merasa usaha mengumpulkan sampah itu sia-sia selama orang-orang lain masih terus membuang sampah sembarangan.
Lebih lanjut, sebelum adanya penelitian ini, kerugian akibat polusi plastik bagi keluarga nelayan sebagian besar hanyalah tebakan yang disusun dari hitungan rumus komputer. Sekarang, sudah ada angka pasti yang nyata berdasarkan cerita langsung dari para nelayan sendiri, dan kerusakan yang terjadi ternyata jauh lebih parah daripada sekadar biaya perbaikan alat yang selama ini dihitung orang-orang.
Beban kerugian itu jatuh kepada orang-orang yang sebenarnya paling tidak mampu untuk menanggungnya seperti nelayan tradisional yang menyumbang sebagian besar hasil tangkapan ikan dunia dan memberi makan miliaran orang di bumi. Oleh karena itu, berkurangnya pendapatan mereka secara diam-diam ini dampaknya akan meluas jauh melampaui wilayah muara sungai itu saja.
Para penulis penelitian ini memaparkan langkah nyata berikutnya yang bisa dilakukan yaitu memetakan komunitas nelayan paling miskin yang tinggal di sekitar sungai-sungai paling penuh sampah, lalu mengirimkan dana bantuan pembersihan ke sana terlebih dahulu. Jika sasarannya tepat, program-program ini bisa meringankan beban hidup di tempat yang dampaknya paling parah.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya