Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BRIN Ciptakan Antioksidan Glutation dari Limbah, Baik untuk Otak dan Jantung

Kompas.com, 27 Februari 2026, 18:16 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menciptakan produk glutation hasil ekstraksi limbah material organik (biomassa) yeast dari industri bahan bakar nabati (bioetanol).

Peneliti Pusat Riset Rekayasa Genetika BRIN, Farida Rahayu menjelaskan, glutation dikenal sebagai master antioksidan yang diproduksi alami dalam tubuh makhluk hidup. Senyawa ini tersusun atas asam amino yakni asam glutamat, sistein, serta glisin.

Baca juga:

“Limbah yeast-nya ternyata sudah memproduksi glutation. Jadi kami tinggal mengambil saja, mengekstraksi saja glutation yang sudah diproduksi oleh yeast,” ujar Farida dalam keterangannya, Jumat (27/2/2026).

Secara garis besar, glutation bermanfaat bagi tubuh, tidak hanya dari sisi kecantikan, tapi juga kesehatan. 

BRIN bikin antioksidan dari limbah biomasa yeast

Tantangan untuk menemukan metode pemisahan

Ilustrasi glutation. Dari limbah bioetanol, peneliti BRIN menciptakan glutation yakni antioksidan untuk kecantikan dan kesehatan tubuh.Dok. Wikimedia Commons/Choinowski Ilustrasi glutation. Dari limbah bioetanol, peneliti BRIN menciptakan glutation yakni antioksidan untuk kecantikan dan kesehatan tubuh.

Tim peneliti memisahkan sel yeast dari limbah secara bertahap melalui pengenceran dan sentrifugasi.

Farida menyampaikan, tantangan utama linbah yeast bioetanol menjadi glutation ialah menemukan metode pemisahan yang lebih optimal.

“Setelah kami menemukan teknologi ini, yang jadi pekerjaan rumah besar adalah bagaimana cara kita memisahkan sel yeast dari limbah itu,” tutur dia.

Farida menuturkan, produksi glutation dilakukan melalui tiga pendekatan antara lain ekstraksi sel, rekayasa media, dan rekayasa genetika. Pada metode ekstraksi, peneliti menguji metode kimiawi, fisik, dan biologis.

“Dari metode ekstraksi yang kita lakukan, ada kimia, biologi, dan ultrasonikasi, ternyata di sini tampak bahwa dengan metode biologi dengan enzimatis menghasilkan produk glutation yang lebih tinggi,” ucap Farida.

Konsentrasi glutation melalui metode biologis mencapai 40 miligram per liter (mg/L), angkanya lebih tinggi dibandingkan beberapa riset sebelumnya dengan produksi wine dan bir.

Sementara itu, percobaan melalui rekayasa media dengan modulasi prekursor asam amino produksi glutation bisa mencapai 95 mg/L. Farida memastikan bahwa timnya menargetkan pengembangan yeast rekombinan yang mampu memproduksi bioetanol dan glutation dengan hasil tinggi dalam satu bioreaktor.

“Dengan rekayasa genetik kami akan bisa memadukan kemampuan yeast untuk memproduksi etanol tinggi dan juga memproduksi glutation tinggi dalam satu bioreaktor. Itu cita-cita kami,” ucap Farida.

Selain menghasilkan glutation, residu sel yeast dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, biofertilizer, dan agen bioremediasi. Sejauh ini, sebagian hasil riset tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal internasional.

Kendati demikian, tim peneliti belum mendaftarkan hak paten atau kekayaan intelektualnya.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ini Kendala RI Jadi Pemimpin Bursa Karbon ASEAN Permenhut 6/2026 Dinilai Bisa Dorong Investasi Hijau dan Perkuat Posisi Indonesia di Pasar Karbon ASEAN
Ini Kendala RI Jadi Pemimpin Bursa Karbon ASEAN Permenhut 6/2026 Dinilai Bisa Dorong Investasi Hijau dan Perkuat Posisi Indonesia di Pasar Karbon ASEAN
LSM/Figur
Transisi Energi Industri dan Kendaraan Pangkas 40 Persen Polusi Jabodetabek
Transisi Energi Industri dan Kendaraan Pangkas 40 Persen Polusi Jabodetabek
LSM/Figur
Pemimpin Perusahaan Khawatir Kehilangan Pekerjaan akibat Kegagalan Adopsi AI
Pemimpin Perusahaan Khawatir Kehilangan Pekerjaan akibat Kegagalan Adopsi AI
Swasta
Bisnis Global Tetap Fokus pada Isu Iklim, Tapi Ubah Pesan Keberlanjutannya
Bisnis Global Tetap Fokus pada Isu Iklim, Tapi Ubah Pesan Keberlanjutannya
LSM/Figur
Studi: Rumput Berakar Dalam Lebih Efektif Simpan Karbon dan Jaga Kesehatan Tanah
Studi: Rumput Berakar Dalam Lebih Efektif Simpan Karbon dan Jaga Kesehatan Tanah
LSM/Figur
Memasuki Musim Kemarau, Titik Panas Karhutla Naik 3 Kali Lipat
Memasuki Musim Kemarau, Titik Panas Karhutla Naik 3 Kali Lipat
Pemerintah
Hotel di Bali Mulai Beralih ke Energi Surya, Dorong Transisi Energi di Sektor Perhotelan
Hotel di Bali Mulai Beralih ke Energi Surya, Dorong Transisi Energi di Sektor Perhotelan
Swasta
Tularkan Semangat Kartini, Srikandi Movement PLN Berdayakan 40.000 Jiwa di 140 Lokasi
Tularkan Semangat Kartini, Srikandi Movement PLN Berdayakan 40.000 Jiwa di 140 Lokasi
BUMN
Hari Bumi 2026: Tema dan Sejarahnya
Hari Bumi 2026: Tema dan Sejarahnya
Pemerintah
Akademisi: Retribusi Sampah 'Bocor' di Setiap Pos
Akademisi: Retribusi Sampah 'Bocor' di Setiap Pos
LSM/Figur
KADIN: Permenhut Baru Jadi Angin Segar Kembangkan Pasar Karbon Sukarela
KADIN: Permenhut Baru Jadi Angin Segar Kembangkan Pasar Karbon Sukarela
Swasta
Hari Bumi dan Semangat Transisi Energi
Hari Bumi dan Semangat Transisi Energi
Pemerintah
RUU Migas Dinilai Harus Selaras dengan Transisi Energi
RUU Migas Dinilai Harus Selaras dengan Transisi Energi
LSM/Figur
KLH Beberkan Kronologi Kadis LH Jakarta Jadi Tersangka, Terancam 6 Tahun Penjara
KLH Beberkan Kronologi Kadis LH Jakarta Jadi Tersangka, Terancam 6 Tahun Penjara
Pemerintah
Krisis Iklim Lemahkan Keandalan EBT, Terlalu Panas untuk PLTS dan Terlalu Berangin bagi PLTB
Krisis Iklim Lemahkan Keandalan EBT, Terlalu Panas untuk PLTS dan Terlalu Berangin bagi PLTB
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau