Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 1 Juli 2023, 19:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com - Luas es laut Antarktika di Kutub Selatan mencapai rekor terendahnya pada bulan Juni ini.

Dilansir dari Financial Times, Sabtu (24/6/2023), permukaan es laut Antarktika pada Juni lebih rendah 2,4 juta kilometer persegi di bawah rata-rata jangka panjang untuk sepanjang tahun.

Luas es laut Antarktika pada Juni ini hampir 1,1 juta km persegi lebih kecil dari periode yang sama tahun lalu.

Baca juga: 6 Dampak Mengerikan Mencairnya Es Kutub Akibat Pemanasan Global

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) sebelumnya telah memperingatkan bahwa es laut secara global menurun pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Besarnya penurunan es kutub tak hanya berimplikasi serius terhadap ekosistem di sana, tetapi juga cuaca dan iklim global.

Situasi ini membuat para ilmuwan meningkatkan seruannya untuk mengintensifkan penelitian dan pemantauan lapisan es kutub Bumi.

Dilansir dari The Economist, Pada 12 Juni, luas es laut di Antarktika hanya menutupi 10,7 juta kilometer persegi.

Baca juga: Disinformasi soal Lapisan Es di Antarktika Tidak Mencair

Di belahan bumi lain, laut es di Arktika di Kutub Utara secara konsisten terus menurun karena pemanasan global akibat menumpuknya gas rumah kaca menumpuk di atmosfer.

Sejak 1979, luas permukaan es di Arktika saat musim panas turun sekitar 12,6 persen per 10 tahun.

Meskipun suhu rata-rata meningkat di Arktika, Antarktika bernasib agak berbeda.

Antara tahun 1979 hingga 2014, luas es laut tahunannya (wilayah lautan yang tertutup es) sedikit meningkat secara keseluruhan.

Baca juga: Lapisan Es Antarktika Timur Mulai Mencair, Sang Raksasa Tidur Dikhawatirkan Bangun

Kemudian menurun dengan cepat, jatuh dari rekor tertinggi sepanjang masa pada 2014 ke rekor terendah sepanjang masa pada 2017.

Rekor penurunan es laut Antarktika itu kemudian dipecahkan pada 2022 dan lagi pada Februari 2023. Ada dua rekor terendah lagi tahun ini.

Belum jelas mengapa baru-baru ini terjadi penurunan yang begitu tajam di laut es Antartika, atau mengapa luas laut es di sana naik sebelumnya.

Kepala Polar Climate Group Ed Blockley mengatakan, biasanya luas es laut Antartika mencapai titik minimum sekitar akhir Februari dan maksimum sekitar akhir September.

Baca juga: Apakah Ada Negara di Antarktika?

"Pada akhir Juni, luas es laut akan terbentuk di titik tengah antara maksimum dan minimum," kata Blockley, sebagaimana dilansir The Independent, Jumat (30/6/2023).

"Namun, tahun ini es mengembang sangat lambat dengan konsekuensi luasnya jauh di bawah rata-rata jangka panjang (1981-2010)," sambungnya.

Beberapa ilmuwan menduga bahwa fenomena El Nino dan pola sirkulasi atmosfer yang tidak normal di sekitar Antartika mencegah es laut pulih seperti biasanya di musim dingin.

Suhu di Kutub Selatan akan terus turun seiring dengan berjalannya musim dingin yang akan memberi es laut lebih banyak waktu untuk meluas lebih jauh.

"Masih terlalu dini untuk berspekulasi apakah tingkat es laut akan tetap pada tingkat yang sangat rendah. Masih ada waktu musim ini untuk es pulih tetapi mengingat rekor terendah yang telah kami lihat, kami harus tetap khawatir tentang kemungkinan rekor terendah musim dingin maksimum," ucap Blockley.

Baca juga: INFOGRAFIK: Hoaks, Foto Antarktika Diklaim Bukti Tak Ada Perubahan Iklim

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
TPST Bantargebang Tak Bisa Diperluas Lagi, Sampah Jakarta Dibawa ke Mana?
TPST Bantargebang Tak Bisa Diperluas Lagi, Sampah Jakarta Dibawa ke Mana?
Pemerintah
Kepedulian Lingkungan Turun saat Seseorang Berlibur, Mengapa?
Kepedulian Lingkungan Turun saat Seseorang Berlibur, Mengapa?
LSM/Figur
Bantargebang Kritis, Sampah Jakarta Tembus 7.300 Ton per Hari
Bantargebang Kritis, Sampah Jakarta Tembus 7.300 Ton per Hari
Pemerintah
Usai Banjir Sumatera, Banyak Warga yang Tinggal di Pengungsian dengan Fasilitas Terbatas
Usai Banjir Sumatera, Banyak Warga yang Tinggal di Pengungsian dengan Fasilitas Terbatas
LSM/Figur
Dari Kulit Buah Jadi Energi, Eksperimen Sederhana yang Ubah Cara Pandang tentang Sampah
Dari Kulit Buah Jadi Energi, Eksperimen Sederhana yang Ubah Cara Pandang tentang Sampah
LSM/Figur
Sistem Pengelolaan Terpadu Bisa Tekan Biaya dan Emisi Limbah Makanan
Sistem Pengelolaan Terpadu Bisa Tekan Biaya dan Emisi Limbah Makanan
LSM/Figur
Kemenhut Terapkan Syarat Ketat untuk Pengelola Baru Bandung Zoo
Kemenhut Terapkan Syarat Ketat untuk Pengelola Baru Bandung Zoo
Pemerintah
Mandatori Biodiesel B50 Ditunda, Ini Alasan Tak Perlu Buru-buru
Mandatori Biodiesel B50 Ditunda, Ini Alasan Tak Perlu Buru-buru
Swasta
Daftar 10 Spesies Terancam Punah 2026, Belut hingga Tulip
Daftar 10 Spesies Terancam Punah 2026, Belut hingga Tulip
LSM/Figur
Gajah Sumatera Mati Tanpa Kepala di Riau, Kemenhut Pastikan Pidanakan Pelaku
Gajah Sumatera Mati Tanpa Kepala di Riau, Kemenhut Pastikan Pidanakan Pelaku
Pemerintah
Bulog Pasok Komoditas Pangan ke 648 KDMP di Jawa Timur
Bulog Pasok Komoditas Pangan ke 648 KDMP di Jawa Timur
BUMN
Dilarang Naik Gajah, Ini Alasan Kemenhut Hentikan Wisata Gajah Tunggang
Dilarang Naik Gajah, Ini Alasan Kemenhut Hentikan Wisata Gajah Tunggang
Pemerintah
IPB University Dorong Desa Kembangkan Koperasi dan Ekosistem Bisnis Berkelanjutan
IPB University Dorong Desa Kembangkan Koperasi dan Ekosistem Bisnis Berkelanjutan
Pemerintah
Peneliti Ungkap Kondisi Oksigen Laut Masa Depan lewat Plankton Purba
Peneliti Ungkap Kondisi Oksigen Laut Masa Depan lewat Plankton Purba
LSM/Figur
133.792 Petani Jawa Timur Kelola 198.326 Ha Hutan dalam Skema Perhutanan Sosial
133.792 Petani Jawa Timur Kelola 198.326 Ha Hutan dalam Skema Perhutanan Sosial
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau