Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Laporan SDGs 2022: Perlindungan Lautan Masih Hadapi Tantangan Berat

Kompas.com, 10 Juli 2023, 11:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com – Upaya perlindungan ekosistem laut dalam mencapai tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) masih menghadapi tantangan berat.

Perusakan terhadap lautan belumlah mereda dan masih terus terjadi. Lautan terus terancam oleh kenaikan air, penurunan stok ikan, pencemaran, dan meningkatkan sampah plastik.

Dalam laporannya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutkan bahwa lautan masih menghadapi ancaman yang serius.

Baca juga: Laporan SDGs 2022: Pemberantasan Kemiskinan Ekstrem 2030 Sulit Tercapai

Setiap tahunnya, PBB merilis laporan pencapaian SDGs. Pada Mei 2023, PBB kembali merilis capaian SDGs skala global.

Salah satu tujuan agenda SDGs tahun 2030 adalah ekosistem laut yang tertuang dalam tujuan nomor 14.

Beberapa upaya telah dilakukan dan sudah ada sejumlah kemajuan dalam perluasan kawasan perlindungan laut serta memerangi penangkapan ikan ilegal.

Di sisi lain, dibutuhkan upaya dan percepatan yang lebih terpadu untuk mengatur penangkapan ikan yang tidak dilaporkan.

PBB menyebutkan, aksi internasional yang cepat dan terkoordinasi diperlukan untuk dapat melindungi laut secara berkelanjutan.

Berikut capaian tujuan nomor 14 SDGs yaitu ekosistem lautan menurut laporan dari PBB.

Baca juga: Laporan SDGs 2022: Kesetaraan Gender Jauh Panggang dari Api

  • Pencemaran laut

Kecenderungan global dalam pencemaran laut dan pesisir masih berlanjut pada 2022 di atas kondisi baseline 2000-2004.

Keparahan pencemarannya berbeda-beda dalam beberapa tahun terakhir. Tingkat tertinggi berada di Laut Arab.

  • Pengasaman laut

Pengasaman laut terus meningkat dan akan terus meningkat jika emisi karbon dioksida tidak ditekan secara signifikan. Situasi ini mengancam ekosistem laut.

Saat ini, pH rata-rata lautan adalah 8,1. Ini berarti, lautan saat ini sekitar 30 persen lebih asam daripada di masa pra-industri.

Baca juga: Laporan SDGs 2022: 1 dari 10 Orang di Dunia Menderita Kelaparan

  • Sumber daya perikanan

Sumber daya perikanan terus terancam oleh penangkapan ikan yang berlebihan alias overfishing, polusi, pengelolaan yang buruk, dan sejumlah faktor lainnya, termasuk penangkapan ikan ilegal.

Sekitar 35,4 persen stok ikan global ditangkap secara berlebihan pada 2019, meningkat 1,2 persen sejak 2017.

Meskipun sempat terjadi penurunan, laju penurunannya telah melambat dalam beberapa tahun terakhir.

Tren sumber daya perikanan juga terus memburuk dari target bahwa 2020 dapat mengembalikan stok ikan global ke tingkat yang berkelanjutan secara biologis.

  • Kerja sama internasional

Pada akhir 2022, Agreement on Port State Measures diratifikasi oleh 100 negara. Perjanjian ini menargetkan penangkapan ikan yang ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak diatur.

Pada periode 2018 -2022, terdapat beberapa kemajuan di tingkat global dalam penerapan instrumen untuk memerangi penangkapan ikan yang ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak diatur.

Perjanjian WTO yang baru tentang Subsidi Perikanan, yang diadopsi pada Juni 2022, menandai langkah besar menuju kelestarian laut.

Baca juga: Laporan Keberlanjutan 2022 Antar Multi Bintang Dekati 100 Persen Energi Terbarukan

  • Perikanan skala kecil

Secara global, tingkat penerapan kerangka kerja yang mengakui dan melindungi hak akses perikanan skala kecil pada 2022 berada pada tingkat tertinggi.

Namun, beberapa negara tidak melaporkan capaiannya. Sehingga perlu diperdalam lebih lanjut.

  • Ilmu kelautan

Lautan menutupi lebih dari 70 persen permukaan Bumi dan menyumbang 2,5 persen dari nilai tambah bruto dunia.

Akan tetapi, antara 2013 hingga 2021, rata-rata hanya 1,1 persen dari anggaran penelitian nasional yang dialokasikan untuk ilmu kelautan.

Baca juga: Pembaca Muda KG Media Paling Peduli SDGs Perusahaan atau Merek

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Gen Z di Dunia Kerja, Pemalas atau Punya Cara Kerja Baru?
Gen Z di Dunia Kerja, Pemalas atau Punya Cara Kerja Baru?
LSM/Figur
PBB Prediksi El Nino Terjadi Lagi Tahun Ini, Suhu Global Terancam Naik
PBB Prediksi El Nino Terjadi Lagi Tahun Ini, Suhu Global Terancam Naik
Pemerintah
Ada 3 Bibit Siklon Tropis di Sekitar Indonesia, Waspada Angin Kencang
Ada 3 Bibit Siklon Tropis di Sekitar Indonesia, Waspada Angin Kencang
Pemerintah
Laba Melonjak 578 Persen, Seberapa Jauh Ambisi Keberlanjutan BTN?
Laba Melonjak 578 Persen, Seberapa Jauh Ambisi Keberlanjutan BTN?
BUMN
El Nino Diprediksi Terjadi Lagi Tahun 2026, Dunia Bisa Makin Panas
El Nino Diprediksi Terjadi Lagi Tahun 2026, Dunia Bisa Makin Panas
Pemerintah
Kurangi Camilan dan Minuman Rendah Gizi Bisa Tekan Dampak Lingkungan
Kurangi Camilan dan Minuman Rendah Gizi Bisa Tekan Dampak Lingkungan
LSM/Figur
Abrasi Ban Jadi Sumber Mikroplastik di Udara, Bisa Masuk ke Paru-paru
Abrasi Ban Jadi Sumber Mikroplastik di Udara, Bisa Masuk ke Paru-paru
LSM/Figur
PBB Sahkan Kredit Karbon Pertama Sesuai Standar Perjanjian Paris
PBB Sahkan Kredit Karbon Pertama Sesuai Standar Perjanjian Paris
Pemerintah
Inggris Berencana Pangkas Dana Iklim dan Konservasi untuk Asia dan Afrika
Inggris Berencana Pangkas Dana Iklim dan Konservasi untuk Asia dan Afrika
Pemerintah
Kasus Pembunuhan Gajah Tanpa Kepala di Riau, 15 Orang Jadi Tersangka
Kasus Pembunuhan Gajah Tanpa Kepala di Riau, 15 Orang Jadi Tersangka
Pemerintah
Hingga Akhir 2025, Xurya Kembangkan Lebih dari 300 Proyek PLTS di Indonesia
Hingga Akhir 2025, Xurya Kembangkan Lebih dari 300 Proyek PLTS di Indonesia
Swasta
Konflik Israel-AS Vs Iran Bisa Picu Transisi Energi di Indonesia?
Konflik Israel-AS Vs Iran Bisa Picu Transisi Energi di Indonesia?
LSM/Figur
Serangan AS-Israel ke Iran Ancam Transisi Energi dan Emisi Global
Serangan AS-Israel ke Iran Ancam Transisi Energi dan Emisi Global
LSM/Figur
Serangan AS-Israel ke Iran Picu Lonjakan Harga Minyak, PBB Soroti Pentingnya Energi Terbarukan
Serangan AS-Israel ke Iran Picu Lonjakan Harga Minyak, PBB Soroti Pentingnya Energi Terbarukan
Pemerintah
Perang AS-Israel Vs Iran Picu Lonjakan Harga CPO, Petani Sawit Bisa Paling Terdampak
Perang AS-Israel Vs Iran Picu Lonjakan Harga CPO, Petani Sawit Bisa Paling Terdampak
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau