Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PKM AKB Bantu Kelompok Tani Melon Kediri lewat Teknologi Pemberian Pupuk dan Monitoring Lingkungan

Kompas.com, 1 September 2023, 21:28 WIB
Yohanes Enggar Harususilo

Penulis

KOMPAS.com - Akademi Komunitas Negeri Putra Sang Fajar Blitar (AKB) melakukan pemberdayaan masyarakat membantu petani melon binaan di Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Hal ini merupakan bagian program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) AKB.

Tim peneliti AKB terdiri dari Adimas Ketut Nalendra, M Mujiono, Dona Wahyudi serta tiga mahasiswa semester akhir membantu kelompok petani binaan Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Pertanian Terpadu Organik (PTO) dalam penerapkan Intenet of Things (IoT) untuk memantau kondisi lingkungan dan pemberian nutrisi/pupuk pada tanaman.

“Kami membantu penerapan iptek alat kontrol nutrisi serta irigasi berbasis IoT, yang harapannya petani dapat melakukan kontrol nutrisi dengan presisi, sehingga petani dapat melakukan efisiensi penggunaan pupuk serta SDM dan efektif dalam pemberian pupuk ke tanaman melon,” jelas Adimas Ketut Nalendra, Dosen AKB melalui rilis resmi (1/9/2023).

Ia menambahkan, melalui penerapan IoT ini terdapat dua solusi untuk permasalahan yang dihadapi saat ini yakni terkait bidang produksi dan dan manajemen usaha.

Di bidang produksi, penggunaan IoT akan membantu petani memantau kondisi lingkungan secara akurat seperti suhu, kelembapan dan curah hujan.

“Dari parameter ini petani dapat melakukan pencegahan terhadap hama yang menyerang tanaman melon sehingga diharapkan dapat mengurangi penggunaan pestisida dan hama atau penyakit dapat berkurang,” terang Adimas.

Sedangkan di bidang manajemen, bantuan teknologi diharapkan membuat budidaya tanaman melon menjadi lebih efisien dan efektif dari segi penggunaan pupuk dan SDM mengingat salah satu komponen biaya paling tinggi adalah penggunaan nutrisi pupuk yang dilarutkan ke dalam air dan tenaga kerja untuk penyiraman ke tanaman.

“Harapan kami, pengabdian masyarakat melalui pemberdayaan petani ini mengalami peningkatan dalam penerapan iptek teknologi IoT pada kelompok tani melon sehingga menciptakan model pertanian presisi sehingga dapat meningkatkan ekonomi petani,” papar Adimas.

Kegiatan PKM ini berlangsung hingga akhir Agustus 2023 melibatkan kelompok tani melon binaan sebanyak 30 anggota, dengan sasaran awal yang menjadi percontohan 5 petani. Setiap anggota kelompok memiliki greenhouse tersendiri dengan lahan seluas 200 meter persegi.

Baca juga: Pentingnya Inovasi Ramah Lingkungan dalam Produk Rumah Tangga

Para petani ini merupakan eks karyawan yang terdampak PHK akibat pandemi Covid-19 yang dikumpulkan untuk diberdayakan oleh Pemda.

Adimas juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Direktorat Jenderal Vokasi, Kemendikbudristek yang telah mendanai kegiatan pengabdian masyarakat ini serta Akademi Komunitas Negeri Putra Sang Fajar yang telah mendorong dosen dan mahasiswa menerapkan hasil penelitian di masyarakat.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menteri LH Sebut Gelondongan Kayu Terseret Banjir Sumatera Bisa Dimanfaatkan
Menteri LH Sebut Gelondongan Kayu Terseret Banjir Sumatera Bisa Dimanfaatkan
Pemerintah
Bioetanol dari Sorgum Disebut Lebih Unggul dari Tebu dan Singkong, tapi..
Bioetanol dari Sorgum Disebut Lebih Unggul dari Tebu dan Singkong, tapi..
LSM/Figur
Asia Tenggara Catat Kenaikan 73 Persen pada Hasil Obligasi ESG
Asia Tenggara Catat Kenaikan 73 Persen pada Hasil Obligasi ESG
Pemerintah
4 Penambang Batu Bara Ilegal di Teluk Adang Kalimantan Ditangkap, Alat Berat Disita
4 Penambang Batu Bara Ilegal di Teluk Adang Kalimantan Ditangkap, Alat Berat Disita
Pemerintah
Drone Berperan untuk Pantau Gajah Liar Tanpa Ganggu Habitatnya
Drone Berperan untuk Pantau Gajah Liar Tanpa Ganggu Habitatnya
Swasta
6 Kukang Sumatera Dilepasliar di Lampung Tengah
6 Kukang Sumatera Dilepasliar di Lampung Tengah
Pemerintah
RI dan UE Gelar Kampanye Bersama Lawan Kekerasan Digital terhadap Perempuan dan Anak
RI dan UE Gelar Kampanye Bersama Lawan Kekerasan Digital terhadap Perempuan dan Anak
Pemerintah
UNCTAD Peringatkan Sistem Perdagangan Dunia Rentan Terhadap Risiko Iklim
UNCTAD Peringatkan Sistem Perdagangan Dunia Rentan Terhadap Risiko Iklim
Pemerintah
Tak Perbaiki Tata Kelola Sampah, 87 Kabupaten Kota Terancam Pidana
Tak Perbaiki Tata Kelola Sampah, 87 Kabupaten Kota Terancam Pidana
Pemerintah
Bencana di Sumatera, Menteri LH Akui Tak Bisa Rutin Pantau Jutaan Unit Usaha
Bencana di Sumatera, Menteri LH Akui Tak Bisa Rutin Pantau Jutaan Unit Usaha
Pemerintah
DP World: Rantai Pasok Wajib Berubah untuk Akhiri Krisis Limbah Makanan
DP World: Rantai Pasok Wajib Berubah untuk Akhiri Krisis Limbah Makanan
LSM/Figur
KLH Periksa 8 Perusahaan terkait Banjir Sumatera, Operasional 4 Perusahaan Dihentikan
KLH Periksa 8 Perusahaan terkait Banjir Sumatera, Operasional 4 Perusahaan Dihentikan
Pemerintah
TN Way Kambas Sambut Kelahiran Bayi Gajah Betina, Berat 64 Kilogram
TN Way Kambas Sambut Kelahiran Bayi Gajah Betina, Berat 64 Kilogram
LSM/Figur
Menteri LH Sebut Kayu Banjir Bukan dari Hulu Batang Toru
Menteri LH Sebut Kayu Banjir Bukan dari Hulu Batang Toru
Pemerintah
TPA Suwung Bali Ditutup 23 Desember 2025, Ini Alasannya
TPA Suwung Bali Ditutup 23 Desember 2025, Ini Alasannya
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau