Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Albert Soerjonoto, Sempat Magang di Tesla, Kini Presdir Produsen Baterai Motor Listrik

Kompas.com, 13 Desember 2023, 06:00 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Terbentuknya ekosistem kendaraan listrik di Indonesia terus didukung sejumlah pihak. Salah satunya Presiden Direktur Oyika Indonesia Albert Soerjonoto.

Dia merupakan anak muda Indonesia dengan sejumlah prestasi. Meskipun baru menempati posisi tersebut, Albert sudah lama berkecimpung di dunia teknik elektro.

Pengalamannya yang panjang memberikan keahlian dan pengetahuan yang mendalam untuk mendukung mimpinya menjadikan Indonesia sebagai pemimpin dalam industri kendaraan listrik di Asia Tenggara.

Sejak remaja, ketertarikan Albert terhadap dunia kelistrikan sudah terlihat sejak menjadi juara pertama dalam lomba karya ilmiah remaja se-Jawa dan Sumatera.

Mengambil jurusan teknik elektrikal dan elektronik dengan beasiswa penuh di Nanyang Technological University (NTU) Singapura membuktikan tekad dan dedikasinya yang tinggi dalam memahami bidang tersebut secara mendalam.

Baca juga: Jebel Ali, Pembangkit Listrik dan Air Terbesar Dunia Garapan Warga Lokal

Pada tahun pertamanya, Albert mewakili NTU dalam perlombaan robotik di Shenzen, China, dan mulai bermimpi untuk bekerja di Tesla Incorporation, Amerika Serikat, perusahaan milik Elon Musk.

Perjalanannya tentu tidak mudah, ia sempat ditolak saat mencoba melamar pekerjaan di Tesla.

Albert kemudian kembali ke Asia Tenggara untuk meraup banyak pengalaman. Di Indonesia ia sempat bekerja di Accenture dan Astra Toyota, kemudian pernah juga magang di Nutonomy, startup self-driving car dari MIT yang lalu diakuisisi Hyundai di Singapura.

Dari pembelajaran dan pengalamannya ini, kerja keras Albert membuahkan hasil. Dia menjadi satu-satunya pemagang dari Asia yang diterima di Tesla pada 2019. Ia bekerja di ruangan yang sama dengan Elon Musk di Pabrik Tesla.

Pengalaman magangnya di Tesla tidak hanya memperdalam minatnya dalam industri kendaraan listrik, tetapi juga memupuk semangatnya untuk turut serta dalam mengatasi perubahan iklim.

Albert menyadari bahwa polusi kendaraan konvensional menjadi salah satu penyebab utama perubahan iklim. Bahkan, motor konvensional menghasilkan polusi udara hingga 16 kali lebih tinggi daripada mobil.

Baca juga: Ekosistem Lengkap, Indonesia Siap Jadi Pemain Kendaraan Listrik Global

Namun pada saat itu Tesla belum berfokus pada pengembangan motor listrik, sehingga Albert memilih untuk kembali ke Indonesia dan memulai petualangannya bersama Oyika.

"Selain itu, saya juga melihat adanya potensi besar Indonesia dalam mengurangi polusi dan mendorong perkembangan industri motor listrik, mengingat Indonesia memiliki populasi motor listrik terbesar ketiga di dunia dan yang terbesar di Asia Tenggara," urai Albert dalam keterangan tertulis kepada Kompas.com, Selasa (12/12/2023).

Namun, Albert sadar bahwa Indonesia juga menghadapi tantangan yang signifikan dalam mewujudkan elektrifikasi mobilitas seperti ketersediaan infrastruktur pengisian daya yang terbatas, tingginya biaya awal motor listrik, dan kesadaran masyarakat tentang manfaat dan keunggulan motor listrik.

Pendidikan dan pengalamannya di bidang kelistrikan memberikan fondasi kuat bagi Albert untuk memahami aspek teknis dan inovatifnya dalam menghadapi tantangan elektrifikasi mobilitas di Indonesia.

Baca juga: Pakar UI Sebut Sistem Penggerak Kendaraan Listrik Kunci Transportasi Bersih

Bersama Oyika, Albert berupaya membangun infrastruktur pengisian daya yang luas dan terjangkau, memberikan solusi inovatif seperti konsep Battery-as-a-Service (BaaS), serta membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah dan perusahaan lokal.

Menurutnya, kolaborasi erat antara sektor swasta, pemerintah, dan perusahaan lokal dalam pengembangan motor listrik akan menciptakan ekosistem berkelanjutan.

"Hal ini tidak hanya akan memajukan industri, tetapi juga memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan dan ekonomi nasional. Kolaborasi ini tentu akan menguntungkan semua pihak karena menciptakan solusi yang holistik dan berdaya saing," ungkap Albert.

Dengan langkah-langkah progresif ini, Albert memiliki harapan besar untuk Indonesia. Ia yakin melalui percepatan adopsi motor listrik, Indonesia dapat mengurangi polusi udara, menciptakan lapangan kerja di sektor teknologi hijau, dan menjadikan Indonesia sebagai negara yang mandiri energi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Swasta
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Pemerintah
BPDLH Siapkan Skema 'Blended Finance' untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
BPDLH Siapkan Skema "Blended Finance" untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
Pemerintah
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
LSM/Figur
United Tractors Gelar Wisuda 'Release Stunting' 2026
United Tractors Gelar Wisuda "Release Stunting" 2026
Swasta
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
Pemerintah
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana 'Loss and Damage', BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana "Loss and Damage", BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
LSM/Figur
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Pemerintah
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Pemerintah
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Pemerintah
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Pemerintah
Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal
Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau