Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

3R, Cara Efektif Pangkas Penggunaan Plastik di Dapur

Kompas.com, 5 Januari 2024, 17:00 WIB
Faqihah Muharroroh Itsnaini,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Setiap tahun, manusia membuang 10 juta ton plastik ke laut. Membunuh sekitar satu juta hewan laut setiap tahunnya.

Salah satu penghasil sampah plastik terbesar adalah dari perlengkapan dapur. Dengan masifnya penggunaan plastik dan fakta fenomena tersebut, penyelesaian masalah ini perlu tindakan regulasi yang ketat dari pemerintah.

Namun, ada beberapa cara sederhana yang bisa kita lakukan untuk meminimalisir sampah plastik.

Baca juga: Bolehkah Menggunakan Botol Plastik Bekas Minuman Lebih dari Sekali?

Jika belum benar-benar bisa menolak penggunaan plastik dalam keseharian, kamu dapat mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang atau 3R (Reduce, reuse, refuse).

Dilansir dari The Guardian, Jumat (5/1/2024), berikut beberapa tips dari para pakar ahli lingkungan, tentang cara mengurangi sampah plastik di dapur.

1. Belanja

Plastik ada dimana-mana, terutama di toko kelontong. Mulai dari plastik yang digunakan untuk menutupi buah yang sudah dipotong, karton susu, dan kemasan daging yang sudah diiris.

Warga berbelanja menggunakan kantong belanja ramah lingkungan di Pasar Bendungan Hilir (Benhil) di Jakarta Pusat, Kamis (9/7/2020). Larangan penggunaan kantong plastik sekali pakai di Jakarta mulai berlaku sejak Rabu (1/7/2020), pelarangan ini diberlakukan di pusat-pusat perbelanjaan, mulai dari toko swalayan hingga pasar rakyat.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Warga berbelanja menggunakan kantong belanja ramah lingkungan di Pasar Bendungan Hilir (Benhil) di Jakarta Pusat, Kamis (9/7/2020). Larangan penggunaan kantong plastik sekali pakai di Jakarta mulai berlaku sejak Rabu (1/7/2020), pelarangan ini diberlakukan di pusat-pusat perbelanjaan, mulai dari toko swalayan hingga pasar rakyat.
Sulit untuk benar-benar menghindari plastik, namun salah satu cara yang tepat adalah dengan belanja lebih sedikit.

Coba belajar untuk menghindari membeli produk yang tidak kamu perlukan. Lalu, jika kamu memerlukannya, carilah produk yang terbuat dari bahan-bahan alami yang bersumber secara berkelanjutan.

Saat berbelanja, tidak hanya untuk bahan makanan tetapi juga untuk peralatan dapur, ahli merekomendasikan untuk mempertanyakan terlebih dahulu apakah kamu memerlukan sesuatu.

Baca juga:

Kemudian, coba gunakan kembali dengan barang yang sudah kamu miliki, sebelum akhirnya mencari “opsi yang menyertakan konten daur ulang".

Hal ini akan dapat menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan. Sebab, menurut laporan Forum Ekonomi Dunia pada 2021, dengan menggunakan kembali 10 persen produk plastik, dapat mencegah hampir setengah dari sampah plastik laut setiap tahunnya.

Kemudian, biasakan membawa kantong belanja saat berbelanja bahan makanan, baik ke pasar maupun supermarket besar.

2. Memasak

Peralatan masak kayu aman untuk kesehatan.SHUTTERSTOCK/I am Kulz Peralatan masak kayu aman untuk kesehatan.
Kamu mungkin berpikir, tidak banyak benda plastik di dapur. Namun nyatanya, hampir setiap rumah tangga memiliki setidaknya beberapa peralatan dapur plastik. Seperti talenan, mangkuk, wajan anti lengket (dilapisi Teflon), spatula, blender, atau gelas.

Peralatan plastik dapat melepaskan mikro dan nanoplastik dalam jumlah tinggi, terutama jika kita memanaskan, memotong, atau mencampurkannya.

Baca juga: Tarik Ulur Perjanjian Pengendalian Plastik Global, Daur Ulang atau Batasi Produksi

Cara terbaik untuk mengatasi persoalan ini, adalah mengganti peralatan plastik dengan peralatan logam, kaca, atau kayu.

Namun berhati-hatilah saat melihat peralatan kayu atau bambu yang dianggap sebagai lem yang digunakan untuk menyatukannya. Bahkan lem yang digunakan untuk menutup kantong teh saja sudah bisa melepaskan miliaran mikroplastik.

3. Menyimpan

Bungkus plastik menjadi salah satu dampak terbesar terhadap lingkungan. Kita hanya menggunakan wadah penyimpanan plastik sekali, namun memerlukan waktu hampir 1.000 tahun untuk terurai di tempat pembuangan sampah.

Untuk menghindari wadah plastik penyimpanan sekali pakai, ada baiknya kamu menggunakan stoples beraneka ukuran.

Alat masak dari kacaShutterstock/Canan Asik Alat masak dari kaca
Stoples atau wadah penyimpanan kaca juga bagi lingkungan maupun tubuh. Sebab, wadah plastik dapat menyerap bahan kimia penyebab kanker dan pengganggu hormon ke dalam makanan yang kita konsumsi.

4. Membersihkan

Tidak sampai hanya pada tahap penyimpanan, rupanya unsur plastik juga masih ditemukan saat dalam tahap pembersihan. Ketika mencuci piring, misalnya.

Jika kamu menggunakan sabun cuci piring cair, kemungkinan besar sabun tersebut dikemas dalam botol plastik.

Untungnya, beberapa merek sudah mulai menjual sabun cuci piring batangan dan sabun cuci piring cair yang dikemas dalam karton.

Sebagian besar spons juga terbuat dari plastik, tetapi semakin banyak toko yang menjual spons dan serbet alami seiring meningkatnya permintaan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
LSM/Figur
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
LSM/Figur
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
LSM/Figur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Pemerintah
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
LSM/Figur
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
LSM/Figur
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Swasta
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Pemerintah
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Pemerintah
Kue Delapan Jam, 'Waktu' Jadi Bahan Utama
Kue Delapan Jam, "Waktu" Jadi Bahan Utama
Swasta
Video Viral Anak Gajah Diduga Terjerat, Kemenhut Sebut Lokasinya di Malaysia
Video Viral Anak Gajah Diduga Terjerat, Kemenhut Sebut Lokasinya di Malaysia
Pemerintah
Satgas Transisi Energi dan Usulan Potensi Dana Pungutan Batu Bara Rp 675 Triliun
Satgas Transisi Energi dan Usulan Potensi Dana Pungutan Batu Bara Rp 675 Triliun
LSM/Figur
Waspada, Ancaman Kebakaran Hutan di Indonesia Lebih Berat Saat Musim Kemarau 2026
Waspada, Ancaman Kebakaran Hutan di Indonesia Lebih Berat Saat Musim Kemarau 2026
Pemerintah
Singapura Latih 100.000 Pekerja agar Mahir AI, Bagaimana Indonesia?
Singapura Latih 100.000 Pekerja agar Mahir AI, Bagaimana Indonesia?
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau