Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

1 dari 3 Bayi di Indonesia Kurang Makan Daging, Telur, dan Ikan

Kompas.com, 30 Januari 2024, 10:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Editor

KOMPAS.com - Menurut penelitian terbaru, satu dari tiga bayi yang berusia di bawah usia dua tahun (baduta) di Indonesia belum mendapat protein hewani yang cukup.

Hal tersebut disampaikan peneliti senior SEAMEO RECFON dan Country Lead Action Against Stunting Hub (AASH) Indonesia Umi Fahmida, sebagaimana dilansir dari Antara, Minggu (28/1/2024).

“Indonesia berada pada peringkat ke-7 dari 9 negara di Asia Tenggara dengan konsumsi telur, ikan, daging (TID) sebesar 71 persen," ujar Umi.

Baca juga: Antara Protein Hewani dan Nabati, Mana Lebih Unggul Cegah Stunting?

Di samping mengonsumsi makanan pendamping ASI (MPAS) yang kaya protein hewani, Umi juga mendorong makanan dengan protein hewani yang beragam.

Selain itu, perlu upaya untuk meningkatkan kualitas MPASI di Indonesia, perlu adanya strategi yang terencana dengan baik.

Saat ini, Indonesia sedang berupaya mencapai target penurunan stunting pada balita menjadi 14 persen di tahun 2024.

Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Irma Ardiana MAPS menilai terdapat penurunan prevalensi stunting yang konsisten di Tanah Air dalam beberapa tahun terakhir.

"Ada penurunan angka stunting yang konsisten di Indonesia. Hal ini menunjukkan keseriusan seluruh unsur dan pemangku kepentingan yang terlibat. Terlebih konsistensi ini masih tetap terjadi, meskipun pada masa pandemi Covid-19 lalu," terang Irma.

Baca juga: Rendahnya Asupan Protein Hewani Sebabkan Anak Stunting

Pemenuhan kebutuhan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan sangat ditentukan oleh praktik pemberian MPASI.

BKKBN melalui pengembangan Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) menjadi pelengkap program pemberian makanan tambahan (PMT) oleh Kementerian Kesehatan.

“Kegiatan edukasi dalam program DASHAT mencakup pemilihan dan pengolahan makanan padat gizi lokal dengan penguatan pesan gizi seimbang berbasis pangan lokal (PGS-PL) yang telah dikembangkan oleh SEAMEO RECFON,” jelas Irma.

Salah satu daerah yang saat ini berjuang menghadapi tantangan stunting, yakni Lombok Timur. Pemerintah Lombok Timur sudah menerapkan pangan lokal kaya protein hewani ke dalam MPASI.

Menurut Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021, Lombok Timur menempati peringkat pertama dengan angka stunting tertinggi di Nusa Tenggara Barat (NTB), yaitu 37,6 persen.

Baca juga: Kejar Prevalensi Stunting 14 Persen, Protein Energy Ratio Penting Diperhatikan

"Terdapat penurunan yang cukup masuk akal, yaitu 2 persen pada 2022 menjadi 35,6 persen. Perbaikan pola pikir menjadi kunci keberhasilan," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur Pathurahman.

Penelitian AASH yang dilakukan di Lombok Timur diharapkan dapat memberikan masukan penting bagi ilmu pengetahuan dan kebijakan dalam penanggulangan stunting yang lebih efektif.

Studi AASH merupakan studi interdisiplin yang didanai oleh United Kingdom Research and Innovation-Global Challenges Research Fund (UKRI GCRF) dengan pendekatan anak secara utuh (Whole Child Approach).

Umi menuturkan, penelitian AASH menganalisis rantai nilai pangan yang akan mengetahui kombinasi makanan padat gizi.

"Studi AASH juga dapat berkontribusi terhadap definisi stunting yang lebih tegak, tidak hanya terkait keterlambatan pertumbuhan, namun juga perkembangan," terang Umi.

Baca juga: Biskuit dan Susu Tak Efektif Atasi Stunting, Anggaran Dialihkan ke Protein Hewani

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Rencana Inggris Atasi Zat Kimia Abadi PFAS yang Tahan Ratusan Tahun
Rencana Inggris Atasi Zat Kimia Abadi PFAS yang Tahan Ratusan Tahun
Pemerintah
Polusi Cahaya Kota Bisa Ganggu Sistem Biologis Hiu
Polusi Cahaya Kota Bisa Ganggu Sistem Biologis Hiu
LSM/Figur
Kemenhut Cabut Izin Operasional Bandung Zoo, Bagaimana Nasib Satwa dan Pekerja?
Kemenhut Cabut Izin Operasional Bandung Zoo, Bagaimana Nasib Satwa dan Pekerja?
Pemerintah
WWF Temukan 200 Spesies Terancam Punah di Maluku Barat Daya
WWF Temukan 200 Spesies Terancam Punah di Maluku Barat Daya
LSM/Figur
Implementasi Program 'Waste to Energy' Harus Kedepankan Prinsip Sustainability
Implementasi Program "Waste to Energy" Harus Kedepankan Prinsip Sustainability
Pemerintah
Studi: Mendengar Kicau Burung Bisa Turunkan Stres dan Tingkatkan Kesejahteraan Mental
Studi: Mendengar Kicau Burung Bisa Turunkan Stres dan Tingkatkan Kesejahteraan Mental
LSM/Figur
Kebun Raya Bogor Menang Penghargaan ASEAN Tourism Awards 2026 di Cebu
Kebun Raya Bogor Menang Penghargaan ASEAN Tourism Awards 2026 di Cebu
Swasta
Gandeng Swasta, PMI Prioritaskan Pembersihan Endapan Lumpur dan Sisa Material Banjir
Gandeng Swasta, PMI Prioritaskan Pembersihan Endapan Lumpur dan Sisa Material Banjir
Swasta
Uni Eropa Berencana Ubah Strategi Diplomasi Iklim Usai COP30
Uni Eropa Berencana Ubah Strategi Diplomasi Iklim Usai COP30
Pemerintah
Mengenal 'Kelana', Program Edukasi Penyelamatan Lahan Basah Berkelanjutan
Mengenal "Kelana", Program Edukasi Penyelamatan Lahan Basah Berkelanjutan
Pemerintah
Krisis Iklim Ubah Siklus Hidup N2O, Jadi Lebih Cepat Terurai di Atmosfer
Krisis Iklim Ubah Siklus Hidup N2O, Jadi Lebih Cepat Terurai di Atmosfer
LSM/Figur
Menteri LH Minta Pemda Konsisten Kelola Sampah demi Target 100 Persen pada 2029
Menteri LH Minta Pemda Konsisten Kelola Sampah demi Target 100 Persen pada 2029
Pemerintah
Tanah Hutan Bisa Lebih Banyak Serap Metana dari Atmosfer
Tanah Hutan Bisa Lebih Banyak Serap Metana dari Atmosfer
LSM/Figur
World Economic Forum Targetkan 1 Miliar Pekerja Melek Keterampilan Baru
World Economic Forum Targetkan 1 Miliar Pekerja Melek Keterampilan Baru
Swasta
BRIN Sebut Jakarta Jadi Hutan Beton, Risiko Banjir Meluas
BRIN Sebut Jakarta Jadi Hutan Beton, Risiko Banjir Meluas
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau