Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 1 Mei 2024, 16:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com - Tuan rumah KTT iklim COP29, Azerbaijan, menegaskan akan tetap berinvestasi dalam produksi gas bumi.

Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev mengatakan, langkah tersebut diambil untuk memenuhi kebutuhan energi Uni Eropa.

Pernyataan tersebut merupakan bagian dari pidato Aliyev pada hari kedua konferensi internasional Petersberg Climate Dialogue yang diselenggarakan Kementerian Luar Negeri Jerman dan dengan negara kepresidenan COP, Jumat (26/4/2024).

Baca juga: Greta Thunberg: Kesepakatan COP28 adalah Pengkhianatan

Mengutip perjanjian antara Azerbaijan dan Komisi Eropa, Aliyev mengatakan negaranya akan meningkatkan produksi gasnya dan terus mengekspor pasokan gasnya ke Uni Eropa selama bertahun-tahun lagi.

Pada 2023, Azerbaijan mengekspor hampir separuh pasokan gasnya ke Uni Eropa, sekitar 12 miliar meter kubik, sebagaimana dilansir Earth.org, Senin (29/4/2024).

Pada bulan Desember 2023, Azerbaijan menyampaikan pasokannya berada di jalur yang tepat untuk meningkat dua kali lipat pada 2027.

Berpidato di depan delegasi dari hampir 40 negara dalam Petersberg Climate Dialogue, Aliyev mengatakan negaranya siap mengambil tanggung jawab untuk memimpin perundingan iklim paling penting tahun ini.

COP29 sendiri sedianya akan berlangsung pada November di ibu kota Azerbijan, Baku.

Baca juga: Investigasi BBC: UEA Dorong Kesepakatan Gas Bumi Jelang KTT Iklim COP28

Aliyev menyampaikan, negara-negara yang kaya akan minyak dan gas bumi seperti negaranya seharusnya berada di barisan depan untuk menangani isu-isu perubahan iklim.

"(Kami) sebagian besar berinvestasi dalam meningkatkan produksi gas karena Eropa membutuhkan lebih banyak gas dari sumber-sumber baru," kata Aliyev.

Perdebatan

Azerbaijan merupakan negara yang sangat bergantung pada bahan bakar fosil dan wilayah penghasil minyak tertua di dunia.

Menurut Badan Energi Internasional (IEA), minyak dan gas bumi menyumbang sekitar 90 persen pendapatan ekspor dan 60 persen anggaran pemerintah Azerbaijan.

Penunjukan Azerbaijan sebagai tuan rumah COP29 menghidupkan kembali perdebatan mengenai peran bahan bakar fosil dalam KTT iklim akbar tersebut.

Baca juga: Kesepakatan COP28 Dinilai Kurang Ambisius Cegah Krisis Iklim

Pasalnya, Azerbaijan menjadi negara minyak ketiga berturut-turut yang menjadi tuan rumah COP.

Pada COP28 tahun lalu, Uni Emirat Arab (UEA) menjadi ruan rumahnya. Sedangkan pada 2022, Mesir menjadi tuan rumah COP27.

Dalam pidatonya, Aliyev mengkritik media karena memusatkan liputan atas ketergantungan Azerbaijan terhadap bahan bakar fosil.

Aliyev menyampaikan, Azerbaijan akan memanfaatkan COP29 untuk mempertahankan haknya dalam melanjutkan investasi dan produksi bahan bakar fosil.

"Memiliki cadangan migas bukan salah kami. Itu anugerah Tuhan. Kita harus dinilai bukan dari hal tersebut, tapi dari bagaimana kita menggunakan sumber daya ini untuk pembangunan negara, untuk pengentasan kemiskinan, pengangguran dan apa target kita sehubungan dengan agenda hijau," ucap Alivev.

Baca juga: COP28 Berakhir, Ini Janji-janji yang Terjalin Selama KTT

Azerbaijan sendiri memiliki target mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 35 persen pada 2030 dibandingkan dengan tingkat emisi GRK pada 1990.

Pada 2040, emisi GRK ditargetkan turun 40 persen. Target tersebut masih jauh dari desakan net zero emission (NZE) yang menurut komunitas ilmiah diperlukan untuk menghindari konsekuensi terburuk dari perubahan iklim.

Azerbaijan juga berupaya meningkatkan kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB).

Menurut Aliyev, PLTS dan PLTB di Azerbaijan diperkirakan akan menghasilkan listrik sebesar 2.000 megawatt (MW) pada 2027 dan 5.000 MW pada tahun 2030.

Akan tetapi, negara tersebut juga meningkatkan produksi gas, yang bertentangan dengan komunitas internasional dalam COP28 yang sepakat untuk beralih dari energi fosil.

Baca juga: COP28 Rampung: Dunia Sepakat Lakukan Transisi, Awal dari Akhir Era Fosil

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Swasta
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Pemerintah
BPDLH Siapkan Skema 'Blended Finance' untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
BPDLH Siapkan Skema "Blended Finance" untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
Pemerintah
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
LSM/Figur
United Tractors Gelar Wisuda 'Release Stunting' 2026
United Tractors Gelar Wisuda "Release Stunting" 2026
Swasta
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
Pemerintah
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana 'Loss and Damage', BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana "Loss and Damage", BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
LSM/Figur
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Pemerintah
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Pemerintah
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Pemerintah
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Pemerintah
Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal
Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau