Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Badan Geologi Temukan Lokasi Layak untuk Relokasi Korban Gempa

Kompas.com, 2 Juli 2025, 10:02 WIB
Yunanto Wiji Utomo

Editor

KOMPAS.com - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan lahan seluas satu hektare di Desa Sukamaju, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, layak menjadi lokasi relokasi warga korban bencana gerakan tanah di kabupaten itu.

Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid di Jakarta, Senin (1/7/2025), mengatakan lahan relokasi tersebut berada di Kampung Tegal Panjang, Desa Sukamaju, Sukabumi, yang memiliki morfologi datar hingga landai dengan kemiringan lereng antara 1- 4 derajat, sehingga cukup aman untuk pembangunan hunian tetap.

Lokasi tersebut diperuntukkan bagi sekitar 35 rumah warga yang terdampak bencana gerakan tanah di Kampung Cihonje, Desa Sukamaju, beberapa bulan lalu.

"Dari hasil pemeriksaan Badan Geologi, lahan itu memiliki daya dukung yang baik untuk bangunan ringan," katanya seperti dikutip Antara.

Dia menjelaskan secara geologi, lahan tujuan relokasi berada di atas batuan breksi gunung api bersusunan andesit basal, dengan ketebalan tanah pelapukan mencapai 4–6 meter. Lokasi juga dinilai bebas dari ancaman langsung gawir, tebing curam, lembah, atau alur sungai yang dapat memicu longsor.

Baca juga: Kenaikan Permukaan Air Laut Bisa Jadi Bencana, meski Target 1,5°C Tercapai

“Kami tidak menemukan jejak longsoran lama maupun baru di lokasi ini,” ujar Wafid.

Badan Geologi juga memastikan dari sisi keairan, muka air tanah berada di kedalaman lebih dari 15 meter, dan air untuk kebutuhan sehari-hari dapat diperoleh melalui sumur bor di sekitar lokasi.

Meski berada di zona kerentanan gerakan tanah menengah berdasarkan peta skala kabupaten, kata dia, namun hasil penyelidikan lapangan mendetail menunjukkan lokasi memiliki kerentanan rendah karena kondisi lereng yang relatif landai.

Badan Geologi merekomendasikan pembangunan drainase dengan saluran kedap air atau pipa untuk mencegah erosi, serta tidak membangun kolam penampungan air di sekitar permukiman yang dapat menyebabkan kejenuhan tanah.

“Kami juga menekankan agar pembangunan mengikuti rencana tata ruang dan wilayah Kabupaten Sukabumi, untuk memastikan keselamatan jangka panjang,” kata Wafid, seraya menambahkan bahwa tanah hasil kupasan atau timbunan tidak boleh dibuang sembarangan agar tidak meningkatkan risiko erosi di lokasi tersebut.

Dengan hasil analisa ini, Badan Geologi menilai lokasi relokasi tersebut layak dijadikan hunian tetap bagi warga terdampak, dengan tetap memperhatikan rekomendasi teknis dan penataan lingkungan secara menyeluruh.

Baca juga: PBB: Kerugian Bencana 10 Kali Lebih Besar dari Perkiraan

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Pemerintah
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Pemerintah
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Pemerintah
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
Pemerintah
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
LSM/Figur
Konsorsium Tiga Media di Asia Tenggara Kerja Sama untuk Perkuat ESG
Konsorsium Tiga Media di Asia Tenggara Kerja Sama untuk Perkuat ESG
Pemerintah
Menilik Upaya BNI dalam Mendorong Pemerataan Pendidikan di Tanah Air
Menilik Upaya BNI dalam Mendorong Pemerataan Pendidikan di Tanah Air
BUMN
Survei KPMG: 4 dari 5 Perusahaan Bingung Ukur Nilai Ekonomi Bisnis Berkelanjutan
Survei KPMG: 4 dari 5 Perusahaan Bingung Ukur Nilai Ekonomi Bisnis Berkelanjutan
Pemerintah
BNPB Catat Banjir-Kekeringan Landa Sejumlah Wilayah, Ribuan Orang Terdampak
BNPB Catat Banjir-Kekeringan Landa Sejumlah Wilayah, Ribuan Orang Terdampak
Pemerintah
Ilusi Lahan Baru di Tengah Deforestasi
Ilusi Lahan Baru di Tengah Deforestasi
Pemerintah
Regulasi ESG di Indonesia Belum Penuhi Aspek yang Dipersyaratkan Pasar Global
Regulasi ESG di Indonesia Belum Penuhi Aspek yang Dipersyaratkan Pasar Global
Pemerintah
Krisis Iklim Rusak Keanekaragaman Hayati Mikroba Sungai
Krisis Iklim Rusak Keanekaragaman Hayati Mikroba Sungai
Pemerintah
BRIN dan YKAN Uji Pembakaran Gambut Terkendali untuk Perbaiki Akurasi Data Emisi Nasional
BRIN dan YKAN Uji Pembakaran Gambut Terkendali untuk Perbaiki Akurasi Data Emisi Nasional
LSM/Figur
Paparan Suhu Panas Ekstrem Global Naik 22 Persen, Apa Dampaknya?
Paparan Suhu Panas Ekstrem Global Naik 22 Persen, Apa Dampaknya?
LSM/Figur
PBB Peringatkan AI Perparah Bias Gender dan Kekerasan di Dunia Maya
PBB Peringatkan AI Perparah Bias Gender dan Kekerasan di Dunia Maya
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau