Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Industri Fusi Berkembang, Pasokan Tenaga Kerja Diperlukan

Kompas.com, 22 Desember 2024, 15:00 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Asosiasi Industri Fusi (FIA) telah mengindikasikan adanya pertumbuhan pesat industri fusi. Pertumbuhan tersebut membutuhkan ketrampilan khusus baik langsung maupun dalam rantai pasokan.

Sebagai informasi industri fusi adalah industri yang menghasilkan listrik dengan menggunakan panas dari reaksi fusi nuklir.

Dalam laporan baru tersebut, FIA menyoroti industri fusi telah memperoleh lebih dari 7 miliar dollar AS investasi.

Perusahaan-perusahaan baru terus bermunculan dan mayoritas dari mereka (89 persen) percaya bahwa pada 2035 pabrik fusi akan menyalurkan listrik ke jaringan listrik.

Sejalan dengan pertumbuhan tersebut, jumlah tenaga kerja juga diproyeksikan meningkat.

Berdasarkan angka yang dilaporkan oleh perusahaan fusi, dari hampir 1100 tenaga kerja di 23 perusahaan pada 2021 jumlahnya melonjak menjadi lebih dari 4100 tenaga kerja di 43 perusahaan pada 2024.

Baca juga:

Laporan juga melihat pertumbuhan besar dalam pengeluaran rantai pasokan.

Dari hampir 485 miliar dollar AS pada 2022 menjadi lebih dari 612 miliar dollar AS pada 2023, dengan peningkatan lebih lanjut sebesar 21 persen yang diproyeksikan terjadi di tahun 2024.

Peningkatan tersebut membutuhkan sekitar 5900 pekerjaan yang akan mendukung rantai pasokan.

Permintaan Tenaga Kerja

Ke depannya, seiring kemajuan teknologi tersebut, kebutuhan tenaga kerja akan semakin bertambah banyak.

Menurut FIA akan ada permintaan mendadak untuk orang-orang terampil yang dapat memproduksi suku cadang dan merakit serta memasang mesin fusi dalam skala besar.

Sementara rantai pasokan fusi yang luas akan menciptakan lebih banyak pekerjaan.

Banyak yang memperkirakan bahwa keterampilan fusi sebagian besar akan datang dari para doktor fisika, tetapi pada kenyataannya kebutuhannya berkembang pesat melampaui itu.

Laporan mencatat akan ada peningkatan permintaan yang besar untuk para insinyur, produsen, pemasang, dan banyak lagi.

Misalnya, persyaratan keterampilan khusus yang diidentifikasi mencakup pengembangan komponen canggih untuk manajemen panas, dinding pertama yang menghadap plasma, dan pompa/ruang vakum.

Baca juga:

Sementara keterampilan rekayasa presisi untuk ruang vakum, kawat superkonduktor suhu tinggi, dan komponen laser juga diharapkan tumbuh pesat.

Bidang lain dari permintaan masa depan yang disorot adalah fisikawan plasma, insinyur proses nuklir dan pabrik, insinyur desain dan perakitan fusi, dan mereka yang berpengalaman dalam menavigasi kerangka peraturan baru.

FIA pun merekomendasikan perlunya peran pemerintah untuk meningkatkan pendidikan dan pelatihan di bidang terkait energi fusi untuk pengembangan tenaga kerja yang dapat memproduksi energi fusi skala besar.

Perusahaan fusi harus membentuk kemitraan akademis untuk mengembangkan kursus dan pelatihan bersama bagi tenaga kerja masa depan.

Pemerintah juga harus mendirikan pusat sumber daya dan pedoman keterampilan, mendukung program R&D, dan meningkatkan jangkauan ke lembaga yang melayani kaum minoritas dan pekerja yang menganggur dan terlantar, misalnya mereka yang meninggalkan sektor bahan bakar fosil agar dapat beralih ke peran energi fusi.

Baca juga: Emil Salim Institute Luncurkan Buku Transisi Energi, Energi Baru dan Terbarukan

Asosiasi juga menyerukan kerangka regulasi yang jelas, kemitraan publik-swasta, dan kolaborasi internasional untuk mendorong pertumbuhan industri dan memastikan pengembangan keterampilan yang diperlukan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pertamina Lirik Tebu jadi Bahan Baku Bensin Nabati
Pertamina Lirik Tebu jadi Bahan Baku Bensin Nabati
BUMN
BRIN Dorong Pengembangan PLTSa untuk Tangani Sampah di Wilayah 3T
BRIN Dorong Pengembangan PLTSa untuk Tangani Sampah di Wilayah 3T
Pemerintah
Menteri LH Perkuat Penegakan Hukum Kasus Karhutla
Menteri LH Perkuat Penegakan Hukum Kasus Karhutla
Pemerintah
BMKG Sebut Hujan Bakal Melanda hingga 20 April, Ini Wilayah yang Harus Waspada
BMKG Sebut Hujan Bakal Melanda hingga 20 April, Ini Wilayah yang Harus Waspada
Pemerintah
Waste4Change: Produksi Sampah Nasional Per Hari Setara 12 Candi Borobudur
Waste4Change: Produksi Sampah Nasional Per Hari Setara 12 Candi Borobudur
LSM/Figur
Pangkas Emisi, Perusahaan Logistik Global Beralih ke Avtur Ramah Lingkungan
Pangkas Emisi, Perusahaan Logistik Global Beralih ke Avtur Ramah Lingkungan
Swasta
Gas Metana di Atmosfer Melonjak Dalam 4 Tahun, Tertinggi pada 2021
Gas Metana di Atmosfer Melonjak Dalam 4 Tahun, Tertinggi pada 2021
LSM/Figur
Minim Aksi Iklim, Pendapatan Rata-Rata Masyarakat Dunia Diprediksi Turun 15 Persen
Minim Aksi Iklim, Pendapatan Rata-Rata Masyarakat Dunia Diprediksi Turun 15 Persen
Pemerintah
ISO Perbarui Standar Utama Manajemen Lingkungan
ISO Perbarui Standar Utama Manajemen Lingkungan
Swasta
Dosen Unej Teliti Tanaman Zaman Prasejarah di Geopark Ijen
Dosen Unej Teliti Tanaman Zaman Prasejarah di Geopark Ijen
LSM/Figur
Krisis Selat Hormuz, FAO Ingatkan Bahaya Inflasi Pangan Global
Krisis Selat Hormuz, FAO Ingatkan Bahaya Inflasi Pangan Global
Pemerintah
KKP Tak Tenggelamkan Kapal Asing Ilegal Seperti Era Susi Pudjiastuti, tapi Diberikan ke Nelayan
KKP Tak Tenggelamkan Kapal Asing Ilegal Seperti Era Susi Pudjiastuti, tapi Diberikan ke Nelayan
Pemerintah
Pakar IPB Beberkan Cara Berantas Lonjakan Populasi Ikan Sapu-sapu
Pakar IPB Beberkan Cara Berantas Lonjakan Populasi Ikan Sapu-sapu
Pemerintah
Kepatuhan Minum Tablet Tambah Darah di Kalangan Remaja Rendah, Ngantuk Saat Jam Pelajaran
Kepatuhan Minum Tablet Tambah Darah di Kalangan Remaja Rendah, Ngantuk Saat Jam Pelajaran
LSM/Figur
Kemenhut Terbitkan Aturan Baru Perdagangan Karbon, Disebut Lebih Jelas dan Terarah
Kemenhut Terbitkan Aturan Baru Perdagangan Karbon, Disebut Lebih Jelas dan Terarah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau