Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Herman Agustiawan
Anggota DEN 2009-2014

Anggota Dewan Energi Nasional periode 2009-2014

Swasembada Energi Bukan Mimpi (3)

Kompas.com, 10 Januari 2025, 15:01 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Dari sisi lingkungan, krisis ini telah menekankan pentingnya investasi pada sumber EBT, guna mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Bagi Indonesia, faktor penyebabnya antara lain karena ketergantungan pada sumber energi fosil, infrastruktur energi terbatas, daya beli energi masyarakat rendah, tidak ada kepastian hukum dan bisnis energi, serta kebijakan energi pemerintah yang tidak berjalan efektif.

Hal ini ditandai dengan pasokan energi tidak stabil, harga energi berfluktuasi, ketergantungan terhadap impor, investasi pada sumber EBT terkendala, serta terpaparnya terhadap risiko keamanan dan sabotase.

Dampak utama dari ketahanan energi semu adalah roda perekonomian tidak bergulir, dampak lingkungan yang merugikan, dan kehilangan peluang pemanfaatan EBT.

Apabila ketahanan energi semu ini berlangsung dalam jangka waktu yang lama, maka krisis energi senyap bisa berubah menjadi krisis energi ‘berisik’ atau nyata.

Baca juga: BPH Migas: Penguatan Infrastruktur Gas Bumi Jadi Strategi Utama Menjaga Ketahanan Energi Nasional

Pertanyaan: “Bagaimana mengukur ketahanan energi semu?” Terdapat banyak cara untuk mengukurnya, antara lain:

  • Menganalisis Indikator Konsumsi Energi
  • Menghitung Ketergantungan pada Energi Fosil
  • Mengukur Rasio Akses Energi
  • Menilai Infrastruktur Energi
  • Mengukur Emisi Gas Rumah Kaca (GRK)
  • Memonitor Fluktuasi Harga Energi
  • Menganalisis Investasi untuk EBT
  • Memonitor Melakukan Survei
  • Menghitung Indeks Ketahanan Energi

Salah satu penyebab utama ketahanan energi semu adalah karena para pengambil keputusan “enggan” untuk berinvestasi karena “takut” dikriminalisasi. Sehingga, semua kebijakan di bidang energi tidak berjalan efektif, dan mengakibatkan pembangunan infrastruktur serta target bauran energi tidak tercapai karena tata-niaga energi tersumbat.

Patut diwaspadai bahwa ketahanan energi semu juga bisa disebabkan karena “perang asimetris” telah dan sedang terjadi di Indonesia, baik oleh aktor-aktor internal maupun eksternal.

Baca juga: Swasembada Energi Bukan Mimpi (1)

Kesimpulannya, meskipun kaya akan ragam SDE, Indonesia belum mampu memenuhi aspek-aspek ketahanan energi sehingga yang terwujud ketahanan energi “semu.”

Beberapa indikasinya antara lain: taget bauran energi tidak tercapai, konsumsi energi per kapita sangat rendah, investasi untuk infrastruktur energi terkendala, daya beli energi rakyat rendah, dan ketergantungan pada fosil semakin tinggi.

“Pengelolaan energi yang salah diawali dengan Krisis Energi Senyap dan berubah menjadi Nyata, menghasilkan Ketahanan Energi Semu dan akhirnya Swasembada Energi hanyalah sebuah khayalan.”

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau