Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gerakan Menanam Pohon dari Kader Jadi Kado Ulang Tahun ke-78 Megawati

Kompas.com, 23 Januari 2025, 15:06 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Editor

KOMPAS.com - Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri diberi hadiah ulang tahun (ultah) berupa gerakan menanam pohon oleh seluruh anggota dan kader partai.

Gerakan menanam pohon tersebut merupakan salah satu kado yang dipersembahkan untuk memperingati hari ultah ke-78 Presiden Kelima RI itu.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI-P Hasto Kristiyanto mengatakan, gerakan menanam pohon diambil karena merefleksikan cinta kasih kepada Ibu Pertiwi.

Baca juga: Dukung Pelestarian Lingkungan, Pertamina Tanam Pohon di Hulu Sungai Ciliwung

Dia menambahkan, Megawati mendidik semua anggota dan kader PDI-P bahwa berpolitik harus menyentuh seluruh aspek kehidupan.

"Kami memberi hadiah ultah dengan mempersembahkan gerakan menanam pohon dan merawat Bumi yang dilakukan seluruh anggota dan kader partai," kata Hasto dikutip dari Kompas.com, Kamis (23/1/2025). 

Selain gerakan menanam pohon, ada beberapa kegiatan yang dilakukan anggota dan kader PDI-P untuk menyemarakkan ultah Megawati.

Contohnya, pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI-P di wilayah Jakarta mengadakan kegiatan doa bersama, tumpengan, dan penampilan kebudayaan di kawasan Taman Suropati.

Baca juga: Pemerintah Tanam 1 Juta Pohon untuk Program Ketahanan Pangan

"Badan Kebudayaan Nasional di bawah pimpinan Rano Karno, Aria Bima, dan Vita Ervina menggelar acara di Taman Suropati, Menteng, Jakarta, dengan tema 'Hari Bahagia Ibu Rakyat, Harmoni Dalam Nada dan Rupa'," ujar Hasto.

Seloroh tanam pohon

Saat pemungutan suara Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jakarta 2024, Hasto sempat menuturkan bahwa Megawati berseloroh bakal rutin menanamkan pohon di taman-taman jika Pramono Anung-Rano Karno menang.

Hal it dilontarkna Hasto usai mendampingi Megawati menggunakan hak suaranya di TPS 024, Jakarta Selatan, Rabu (27/11/2024) lalu, dilansir dari Kompas.com.

Baca juga: Studi: Pohon Pinus Hitam Bisa Redam Gelombang Tsunami

"Sambil bercanda Ibu Mega mengatakan kepada Pak Pramono Anung, 'pokoknya nanti setiap hari saya akan menanam di taman-taman di Jakarta'," ujar Hasto kepada wartawan kala itu.

Menurut Hasto, Megawati memang hobi menanam dan merawat pohon. 

Untuk itu, dia ingin agar kegemarannya bisa membantu memperbaiki kualitas lingkungan Jakarta. 

"Karena ibu Mega memberikan oksigen kehidupan melalui hobi beliau untuk menanam, merawat tanaman, merawat pertiwi, membersihkan sungai, membersihkan suatu politik tata ruang, yang membuka ruang-ruang publik," ujar Hasto.

(Penulis: Tria Sutrisna | Editor: Robertus Belarminus, Novianti Setuningsih)

Baca juga: Bisakah Menanam Pohon di Kutub Utara Atasi Pemanasan Global?

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kemenhut Usul Kelompok Usaha Perhutanan Sosial Dukung Program MBG
Kemenhut Usul Kelompok Usaha Perhutanan Sosial Dukung Program MBG
Pemerintah
Perkuat Komitmen ESG, Viva Apotek Tanam Mangrove di Angke
Perkuat Komitmen ESG, Viva Apotek Tanam Mangrove di Angke
Swasta
Menhut Dorong Hutan Berkelanjutan melalui Perhutanan Sosial
Menhut Dorong Hutan Berkelanjutan melalui Perhutanan Sosial
Pemerintah
DPR Soroti Penertiban 4,09 Juta Hektar Sawit oleh Satgas PKH, Minta Kepastian Hukum
DPR Soroti Penertiban 4,09 Juta Hektar Sawit oleh Satgas PKH, Minta Kepastian Hukum
Pemerintah
8 Kuskus Tembung Dilindungi Ditemukan Mati, Penjual di Sulawesi Utara Ditangkap
8 Kuskus Tembung Dilindungi Ditemukan Mati, Penjual di Sulawesi Utara Ditangkap
Pemerintah
RI Luncurkan Rencana Aksi 2025-2030 untuk Amankan 17 Persen Karbon Biru Dunia
RI Luncurkan Rencana Aksi 2025-2030 untuk Amankan 17 Persen Karbon Biru Dunia
Pemerintah
Kadar Garam di Samudra Hindia Menurun Drastis, Apa Dampaknya?
Kadar Garam di Samudra Hindia Menurun Drastis, Apa Dampaknya?
LSM/Figur
Dorong Investasi Berkelanjutan di Pasar Modal, KEHATI Kembali Gelar ESG Award 2026
Dorong Investasi Berkelanjutan di Pasar Modal, KEHATI Kembali Gelar ESG Award 2026
LSM/Figur
Asia-Pasifik Terancam Gagal Capai Target SDG PBB
Asia-Pasifik Terancam Gagal Capai Target SDG PBB
Pemerintah
Polusi Roket Masuk Atmosfer Diukur Pertama Kali, Ada Lonjakan Lithium
Polusi Roket Masuk Atmosfer Diukur Pertama Kali, Ada Lonjakan Lithium
LSM/Figur
Dari Bekas Tambang Jadi Hutan, Jejak Keberlanjutan PT Vale di Sorowako
Dari Bekas Tambang Jadi Hutan, Jejak Keberlanjutan PT Vale di Sorowako
Swasta
EY Luncurkan Kerangka Kerja untuk Integrasi Keberlanjutan Bisnis
EY Luncurkan Kerangka Kerja untuk Integrasi Keberlanjutan Bisnis
Swasta
Ratusan Ikan Salmon Mati akibat Pipa PLTA Pecah di Amerika Serikat
Ratusan Ikan Salmon Mati akibat Pipa PLTA Pecah di Amerika Serikat
LSM/Figur
Trump Mundur dari Komitmen Iklim, Indonesia Harus Berani Mandiri
Trump Mundur dari Komitmen Iklim, Indonesia Harus Berani Mandiri
Pemerintah
Hadapi Banjir Rob dan Abrasi, BRIN Rancang Tanggul Tegak Multifungsi
Hadapi Banjir Rob dan Abrasi, BRIN Rancang Tanggul Tegak Multifungsi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau