KOMPAS.com - Pemilik aset dalam beberapa tahun terakhir meningkatkan permintaan akan transparansi laporan aktivitas terkait dengan lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) pada manajer aset mereka sebagai bagian mendasar dari proses investasi.
Hasil laporan terbaru dari firma riset Cerulli Associates itu menemukan lebih dari separuh investor institusional (58 persen) yang disurvei memiliki rencana yang mengharuskan manajer aset untuk menawarkan paparan tingkat portfolio terhadap risiko ESG beserta dengan pelaporan tematik dan dampaknya.
Sementara itu, hampir seperempat (23 persen) pemilik aset mengharuskan manajer aset untuk melaporkan aktivitas keterlibatan ESG.
Baca juga: Bursa Efek Indonesia: ESG Aspek Penting dalam Keputusan Investasi
Temuan tersebut berdasarkan survei yang dilakukan terhadap 200 investor institusional dengan aset kelolaan mulai dari 100 juta dollar AS hingga lebih dari 5 miliar dollar AS yang dilakukan pada kuartal kedua tahun 2024 dan survei terhadap 35 manajer aset dengan kelolaan mulai dari 350 juta dollar AS hingga sekitar 5 triliun dollar AS yang dilakukan pada kuartal pertama 2024.
Mengutip ESG Dive, Kamis (27/2/2025) perusahaan riset tersebut mengatakan ada beberapa hal yang membuat pemilik aset dan investor mendorong transparansi ESG.
Namun penggerak tunggal terbesar untuk transparansi adalah meningkatnya tekanan dari pemangku kepentingan termasuk regulator, klien, dan publik.
Analisis dari Cerulli, Gloria Pais mengungkapkan permintaan akan transparansi tersebut mencerminkan dorongan yang lebih luas untuk praktik bisnis yang bertanggung jawab dan akuntabel di seluruh industri.
“Investor institusional ingin memastikan pertimbangan ESG bukan sekadar tren yang berlalu, tetapi bagian mendasar dari proses investasi. Dengan demikian, manajer aset harus meningkatkan upaya pelaporan mereka untuk memenuhi harapan pemilik aset dan tetap kompetitif di pasar yang terus berkembang,” katanya dikutip dari laman resmi Cerulli.
Namun untuk mencapai tingkat transparansi itu bukan tanpa tantangan. Salah satu kendala terbesar adalah kurangnya pedoman pelaporan standar untuk metrik ESG.
Hal tersebut membuat banyak pemilik aset kesulitan untuk mendefinisikan risiko dan dampak ESG secara konsisten di berbagai sektor dan industri.
Baca juga: Transformasi ESG di Tengah Guncangan Geopolitik Global
Kurangnya konsistensi ini juga menyulitkan pemilik aset untuk membandingkan kinerja di seluruh portofolio mereka dan membuat keputusan yang tepat.
Lebih dari sepertiga pemilik aset (38 persen) menyebutkan kesulitan mendefinisikan batasan ESG sebagai tantangan utama, terutama saat membedakan antara ESG dan investasi berdampak.
Manajer aset yang ingin memenuhi tuntutan pemilik aset akan akuntabilitas dan transparansi yang lebih besar pada aktivitas ESG harus berinvestasi dalam "sistem pelaporan yang kuat" untuk memenuhi harapan tersebut.
“Laporan komprehensif dan terstandarisasi tentang risiko dan dampak ESG dapat membantu manajer aset menunjukkan komitmen mereka terhadap investasi yang bertanggung jawab dan menarik lebih banyak klien institusional,” kata Pais.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya