KOMPAS.com - Sebuah studi internasional yang dipimpin University of Freiburg di Jerman menemukan hutan yang terdiri dari banyak spesies pohon dapat menyimpan lebih banyak karbon secara signifikan daripada hutan dengan satu spesies saja.
Dalam studi tersebut peneliti menggunakan data dari eksperimen keanekaragaman pohon tropis tertua di dunia yang berlokasi di Panama.
Wilayah yang disebut Percobaan Sardinilla tersebut berisi lima spesies pohon asli yang telah mencapai tahap perkembangan lanjut karena tumbuh cepat di daerah tropis.
Tim kemudian meneliti data yang terkait dengan berbagai stok serta aliran karbon yang berbeda, mulai dari karbon dalam biomassa pohon di atas tanah hingga karbon dalam serasah daun dan tanah mineral.
Baca juga: Energi Terbarukan Diklaim Lebih Menguntungkan Dari Teknologi Penangkapan Karbon
Peneliti menemukan bahwa hutan yang ditanami dengan lima spesies pohon memiliki stok karbon di atas tanah yang jauh lebih tinggi dan aliran karbon yang lebih besar daripada hutan yang hanya memiliki satu spesies.
Misalnya, seperti dikutip dari Phys, Kamis (27/2/2025) hutan yang kaya spesies menangkap 57 persen lebih banyak dalam biomassa pohon di atas tanah daripada hutan yang monokultur.
Namun tidak ada perbedaan stok dan aliran karbon di bawah tanah.
Hebatnya, efek positif keberagaman pohon dalam menyimpan karbon menguat dari waktu ke waktu meski terjadi peristiwa ekstrem iklim yang berulang seperti kekeringan parah yang disebabkan oleh El Niño dan badai.
Baca juga: Pertama Kali, China Kenalkan Kapal Minyak dengan Penangkap Karbon
"Hutan yang beragam menunjukkan stabilitas ekologi yang lebih baik dan risiko karbon tersimpan yang dilepaskan kembali ke atmosfer lebih rendah daripada hutan monokultur," kata Dr. Florian Schnabel, penulis pertama penelitian dan juga ilmuwan kehutanan di Fakultas Lingkungan dan Sumber Daya Alam University of Freiburg.
Temuan ini pun menyoroti manfaat hutan dengan spesies pohon campuran sebagai bagian restorasi hutan yang bertujuan mengurangi perubahan iklim melalui penyerapan karbon.
"Rata-rata serapan CO2 bersih tahunan dari hutan yang ditanam adalah 5,7 ton setara CO2 per hektar per tahun. Oleh karena itu, diperlukan pertumbuhan pohon selama satu tahun di 11 hektar hutan jenis ini untuk mengimbangi emisi dari satu penerbangan satu arah berdurasi 15-20 jam," kata Dr. Catherine Potvin, dari Universitas McGill di Montreal, Kanada yang juga salah satu pemrakarsa studi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya