Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Investasi Pangan Terancam, Kerugian akibat Iklim Bisa Capai 38 Triliun Dollar AS

Kompas.com, 22 April 2025, 08:00 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Investor di sektor pangan didorong untuk segera meningkatkan manajemen risiko iklim, menyusul proyeksi kerugian ekonomi global yang bisa mencapai 38 triliun dolar AS pada tahun 2050 jika suhu bumi naik 2,5 derajat Celsius.

Skenario ini bukan isapan jempol. PBB memperkirakan suhu global bisa naik 2,6 hingga 2,8 derajat Celsius pada tahun 2100, meskipun semua negara menjalankan komitmen mereka dalam Perjanjian Paris.

Situasi ini diperparah oleh keputusan Amerika Serikat untuk menarik diri dari kesepakatan tersebut, yang menghambat upaya global menekan laju pemanasan.

Baca juga: BMKG Hadirkan Layanan Cuaca dan Iklim untuk Ketahanan Pangan

Dalam laporan terbaru yang dirilis oleh First Sentier MUFG Sustainable Investment Institute dan dilansir Edie pada Rabu (16/4/2025), para investor diingatkan akan ancaman nyata perubahan iklim terhadap sistem pangan global.

Kebutuhan Pangan Meningkat, Risiko Iklim Semakin Besar

Menurut laporan tersebut, permintaan pangan global diperkirakan tumbuh 1,26 persen per tahun hingga 2033, melebihi laju pertumbuhan penduduk di banyak wilayah. Ini berarti tekanan terhadap sistem pangan akan semakin besar, sementara risiko perubahan iklim justru mengancam kapasitas produksi pertanian.

Cuaca ekstrem seperti badai, gelombang panas, dan kekeringan diprediksi akan semakin sering dan intens akibat perubahan iklim. Dampaknya akan berbeda-beda di setiap wilayah—ada yang mengalami banjir dan badai besar, ada pula yang menghadapi kekeringan panjang dan suhu ekstrem. Kedua kondisi ini berpotensi merusak produksi pertanian, infrastruktur pangan, hingga rantai pasok global.

Risiko Iklim Tidak Hanya Ancaman Bagi Petani

Meski investasi pangan saat ini lebih banyak tertuju ke sektor pengolahan, distribusi, dan ritel, laporan menegaskan bahwa seluruh rantai pasok pangan terpapar risiko iklim—dari produsen hingga konsumen.

"Dunia sedang bergerak melewati titik kritis iklim yang mengancam sistem pertanian secara menyeluruh," ujar Sudip Harza, Direktur First Sentier MUFG Sustainable Investment Institute.

Ia menekankan bahwa investor punya peran strategis dalam mewujudkan sistem pangan global yang lebih tahan iklim.

Baca juga: Menanam Benih Langit di Bumi: Spirit Ketahanan Pangan Nusantara

Hal ini bisa dilakukan dengan sejumlah langkah:

Memasukkan risiko fisik akibat perubahan iklim ke dalam proses pengambilan keputusan investasi;

  • Mendorong pengembangan praktik dan teknologi pertanian yang adaptif dan berkelanjutan;
  • Berinvestasi pada infrastruktur dan inovasi yang meningkatkan ketahanan sistem pangan.
  • Investasi Cerdas: Integrasikan Risiko Iklim ke Dalam Strategi

Laporan menyarankan agar para investor:

  • Mengintegrasikan risiko iklim dan aspek keberlanjutan lingkungan dalam penilaian dan pengelolaan investasi mereka.
  • Mengembangkan struktur keuangan inovatif yang dapat membantu memobilisasi modal untuk sistem pangan yang lebih tangguh.
  • Berkolaborasi dengan pemangku kepentingan lain dalam inisiatif investasi berdampak.

Langkah-langkah itu diharapkan menciptakan pendekatan yang terstruktur dan berkelanjutan dalam seluruh siklus investasi, sehingga sektor pangan tidak hanya bertahan, tapi juga mampu berkembang di tengah tantangan iklim masa depan.

Baca juga: Lonjakan Permintaan dan Perubahan Iklim Sebabkan Kurangnya Pasokan Tenaga Surya

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
LSM/Figur
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
LSM/Figur
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Pemerintah
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Swasta
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
Swasta
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
LSM/Figur
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
LSM/Figur
Tingkatkan Keamanan dan Keselamatan Kerja, KAI Daop 7 Madiun Gelar Diklat Masinis dan Asisten
Tingkatkan Keamanan dan Keselamatan Kerja, KAI Daop 7 Madiun Gelar Diklat Masinis dan Asisten
BUMN
SAF Berbasis Limbah Sawit Diusulkan Masuk Kebijakan Mandatori
SAF Berbasis Limbah Sawit Diusulkan Masuk Kebijakan Mandatori
LSM/Figur
Gas Asam Nitrat Bocor di Cilegon, BRIN Imbau untuk Cepat Dinetralkan
Gas Asam Nitrat Bocor di Cilegon, BRIN Imbau untuk Cepat Dinetralkan
Pemerintah
Di Balik Asap Pembakaran Sampah, Ada Masalah Sosial yang Tak Sederhana
Di Balik Asap Pembakaran Sampah, Ada Masalah Sosial yang Tak Sederhana
LSM/Figur
Gajah Sumatera Ditemukan Mati Tanpa Kepala di Riau, Kemenhut Buru Pelaku
Gajah Sumatera Ditemukan Mati Tanpa Kepala di Riau, Kemenhut Buru Pelaku
Pemerintah
Enggan Jadi Tempat Pembuangan Sampah, Malaysia Larang Impor Limbah Elektronik
Enggan Jadi Tempat Pembuangan Sampah, Malaysia Larang Impor Limbah Elektronik
Pemerintah
Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Pangkas Signifikan Emisi Industri Penerbangan
Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Pangkas Signifikan Emisi Industri Penerbangan
Swasta
Unicef Desak Negara Kriminalisasi Pembuat Konten Pelecehan Anak lewat AI
Unicef Desak Negara Kriminalisasi Pembuat Konten Pelecehan Anak lewat AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau