Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kabar Baik, Populasi Penyu di Seluruh Dunia Mulai Pulih

Kompas.com, 29 April 2025, 19:47 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Studi baru dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) mengungkapkan berita baik terkait dengan populasi penyu di dunia.

Setelah mengevaluasi dan meneliti 48 populasi dari enam spesies penyu di seluruh dunia, para peneliti menemukan bahwa populasi penyu global mulai pulih.

Populasi penyu selama ini mengalami berbagai ancaman, terutama yang berasal dari manusia. Misalnya saja terjerat dalam peralatan penangkapan ikan dan sampah lain yang ditinggalkan di lautan.

Mereka juga secara tidak sengaja memakan plastik. Penyu muda juga bisa tersangkut cincin plastik yang bakal merusak cangkang saat mereka tumbuh.

Ancaman lain terjadi ketika kapal menabrak penyu atau tumpahan minyak yang menyebabkan masalah kesehatan mereka. Yang lebih kejam lagi, manusia juga memburu merek untuk daging maupun cangkangnya untuk alasan pengobatan maupun dekorasi.

Baca juga: IUCN: 38 Persen Pohon di Dunia Terancam Punah

“Ancaman terhadap penyu banyak jumlahnya, tetapi risiko terbesar bagi kelangsungan hidup mereka adalah kita,” tulis Natural History Museum (NHM) London, dikutip dari IFL Science, Selasa (29/4/2025).

Perubahan iklim juga merupakan ancaman eksistensial, karena jenis kelamin penyu laut bergantung pada suhu saat telurnya dierami. Saat suhu meningkat, populasi mungkin sangat didominasi betina, yang menyebabkan jatuhnya tingkat reproduksi.

Tak heran studi dari IUCN pun menjadi kabar baik di tengah berbagai ancaman terhadap reptil laut purba itu.

"Secara keseluruhan, ini adalah berita bagus bahwa konservasi penyu laut selama puluhan tahun telah membuahkan hasil,” kata Roderic Mast, wakil ketua MTSG dan presiden Oceanic Society, dalam sebuah pernyataan.

“Tetapi, pada saat yang sama, ini adalah seruan untuk bertindak dan pengingat bahwa kita harus terus melanjutkan pekerjaan yang telah kita lakukan, dan melipatgandakan upaya kita untuk populasi yang paling terancam,” katanya.

Studi IUCN menemukan tren positif di mana risiko terhadap populasi yang diteliti menurun, dan ukuran populasi meningkat.

Sebagai contoh, 40 persen dari unit manajemen regional menunjukkan kondisi yang baik dengan populasi yang banyak, stabil atau bertambah, dan dampak ancaman yang rendah.

Jumlah unit manajemen regional dengan risiko dan ancaman rendah meningkat hampir dua kali lipat sejak 2011, dan jumlah unit dengan ancaman tinggi berkurang hampir setengahnya.

Lebih lanjut, sebagian besar unit menunjukkan perbaikan dalam status risiko dan/atau ancaman, yang semakin memperkuat pandangan bahwa upaya konservasi membuahkan hasil yang menjanjikan.

Peningkatan ini merupakan berita yang luar biasa karena tidak hanya untuk penyu itu sendiri, tetapi juga untuk ekosistem di seluruh dunia yang bergantung pada mereka sebagai spesies kunci.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Banjir Sumatera, KLH Setop Operasional 3 Perusahaan untuk Sementara
Banjir Sumatera, KLH Setop Operasional 3 Perusahaan untuk Sementara
Pemerintah
Berkomitmen Sejahterakan Umat, BSI Maslahat Raih 2 Penghargaan Zakat Award 2025
Berkomitmen Sejahterakan Umat, BSI Maslahat Raih 2 Penghargaan Zakat Award 2025
BUMN
Veronica Tan Bongkar Penyebab Pekerja Migran Masih Rentan TPPO
Veronica Tan Bongkar Penyebab Pekerja Migran Masih Rentan TPPO
Pemerintah
Mengapa Sumatera Barat Terdampak Siklon Tropis Senyar Meski Jauh? Ini Penjelasan Pakar
Mengapa Sumatera Barat Terdampak Siklon Tropis Senyar Meski Jauh? Ini Penjelasan Pakar
LSM/Figur
Ambisi Indonesia Punya Geopark Terbanyak di Dunia, Bisa Cegah Banjir Terulang
Ambisi Indonesia Punya Geopark Terbanyak di Dunia, Bisa Cegah Banjir Terulang
Pemerintah
Saat Hutan Hilang, SDGs Tak Lagi Relevan
Saat Hutan Hilang, SDGs Tak Lagi Relevan
Pemerintah
Ekspansi Sawit Picu Banjir Sumatera, Mandatori B50 Perlu Dikaji Ulang
Ekspansi Sawit Picu Banjir Sumatera, Mandatori B50 Perlu Dikaji Ulang
LSM/Figur
SBTi Rilis Peta Jalan untuk Industri Kimia Global
SBTi Rilis Peta Jalan untuk Industri Kimia Global
Pemerintah
Bukan Murka Alam: Melacak Jejak Ecological Tech Crime di Balik Tenggelamnya Sumatra
Bukan Murka Alam: Melacak Jejak Ecological Tech Crime di Balik Tenggelamnya Sumatra
Pemerintah
Agroforestri Sawit: Jalan Tengah di Tengah Ancaman Banjir dan Krisis Ekosistem
Agroforestri Sawit: Jalan Tengah di Tengah Ancaman Banjir dan Krisis Ekosistem
Pemerintah
Survei FTSE Russell: Risiko Iklim Jadi Kekhawatiran Mayoritas Investor
Survei FTSE Russell: Risiko Iklim Jadi Kekhawatiran Mayoritas Investor
Swasta
Tuntaskan Program KMG-SMK, BNET Academy Dorong Penguatan Kompetensi Guru Vokasi
Tuntaskan Program KMG-SMK, BNET Academy Dorong Penguatan Kompetensi Guru Vokasi
Swasta
Harapan Baru, Peneliti Temukan Cara Hutan Tropis Beradaptasi dengan Iklim
Harapan Baru, Peneliti Temukan Cara Hutan Tropis Beradaptasi dengan Iklim
Pemerintah
Jutaan Hektare Lahan Sawit di Sumatera Berada di Wilayah yang Tak Layak untuk Monokultur
Jutaan Hektare Lahan Sawit di Sumatera Berada di Wilayah yang Tak Layak untuk Monokultur
LSM/Figur
Industri Olahraga Global Bisa Jadi Penggerak Konservasi Satwa Liar
Industri Olahraga Global Bisa Jadi Penggerak Konservasi Satwa Liar
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau