Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perubahan Iklim Bikin Separuh Dunia Rasakan Panas Ekstrem Sebulan

Kompas.com, 2 Juni 2025, 15:28 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Separuh dari populasi dunia mengalami tambahan satu bulan hari-hari dengan suhu ekstrem dalam satu tahun terakhir.

Hal ini disebabkan secara langsung oleh perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia.

Temuan tersebut merupakan hasil analisis dari para ilmuwan World Weather Attribution, Climate Central, dan Red Cross Red Crescent Climate Centre.

Temuan studi tentang panas ekstrem ini pun membuktikan bahwa pembakaran bahan bakar fosil terus-menerus merusak kesehatan dan kesejahteraan manusia di seluruh dunia.

Para peneliti juga menyoroti bahwa dampak tersebut, terutama di negara-negara berkembang, sering kali belum sepenuhnya disadari atau didokumentasikan, mungkin karena keterbatasan data atau fokus pada masalah lain.

"Dengan setiap barel minyak yang dibakar, setiap ton karbon dioksida yang dilepaskan, dan setiap fraksi derajat pemanasan, gelombang panas akan memengaruhi lebih banyak orang," kata Friederike Otto, ilmuwan iklim di Imperial College London dan salah satu penulis laporan tersebut, dikutip dari Phys, Senin (2/6/2025).

Baca juga: Panas Ekstrem Pengaruhi Produksi Susu, Peternak Kecil Kena Imbasnya

Untuk mengevaluasi pengaruh pemanasan global terhadap fenomena panas ekstrem, peneliti menganalisis data selama periode satu tahun penuh, yaitu dari 1 Mei 2024 hingga 1 Mei 2025.

Peneliti kemudian mendefinisikan 'hari-hari dengan suhu panas ekstrem' sebagai hari-hari yang suhunya lebih panas dari 90 persen suhu yang tercatat di lokasi tertentu antara tahun 1991 dan 2020.

Dengan menggunakan pendekatan pemodelan yang ditinjau sejawat, peneliti lantas membandingkan jumlah hari tersebut dengan simulasi tanpa pemanasan yang disebabkan oleh manusia.

Hasilnya mengejutkan.

Sekitar 4 miliar orang atau 49 persen dari populasi global mengalami setidaknya 30 hari lebih banyak suhu panas ekstrem daripada yang seharusnya.

Tim peneliti mengidentifikasi 67 peristiwa suhu ekstrem selama tahun penelitian dan menemukan jejak perubahan iklim di peristiwa tersebut.

Menurut peneliti, di antara semua lokasi yang dianalisis dalam studi tersebut, pulau Aruba di Karibia mengalami dampak terburuk dari panas ekstrem.

Dalam periode satu tahun yang dianalisis, Aruba mencatat 187 hari yang digolongkan sebagai hari panas ekstrem atau 45 hari lebih banyak dibandingkan dengan jumlah hari panas ekstrem yang seharusnya terjadi di Aruba jika tidak ada perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia.

Secara rata-rata dalam lima tahun terakhir, suhu global telah meningkat 1.3 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah pada tahun 2024 saja, suhu global sudah melampaui batas 1.5 derajat Celsius, yang merupakan ambang batas krusial yang disepakati dalam Perjanjian Iklim Paris untuk menghindari dampak perubahan iklim yang paling parah. Ini menunjukkan bahwa target iklim global sedang terancam.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau