JAKARTA, KOMPAS.com – Indah, multifungsi, dan renewable. Itulah tiga kata yang membuat mata Ratih Damayanti berbinar kala ia diminta mendeskripsikan pohon. Perempuan berkaca mata itu kini menjabat sebagai Direktur Kebijakan Lingkungan Hidup Kemaritiman, Sumber Daya Alam, dan Ketenaganukliran Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Akhir 90-an menjadi momen jatuh cinta pertama Ratih pada pohon. Saat itu, ia aktif tergabung dalam komunitas pencinta alam.
Pengalaman tersebut membuka pemahaman Ratih bahwa pohon bukan sekadar komoditas. Pohon adalah makhluk hidup dengan metabolisme unik sehingga bisa memberikan manfaat besar bagi kehidupan—salah satunya sebagai penghasil utama oksigen yang amat dibutuhkan manusia.
Dari situ, perempuan berkaca mata ini mantap masuk Program Studi Teknologi Hasil Hutan Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 1998.
Anatomi kayu lantas menjadi mata kuliah favorit hingga mengantar Ratih berkiprah sebagai Peneliti Ahli Utama Ilmu Kayu dan Teknologi Hasil Hutan, Anatomi dan Kualitas Lignoselulosa, serta Forensik Lignoselulosa
“Saat itu, saya mau kerja atau kuliah di tempat yang saya masih bisa ke hutan. Sesimpel itu,” kenang Ratih saat ditemui Kompas.com di kantor BRIN, Jakarta, Rabu (14/5/2025).
Sebagai informasi, anatomi kayu adalah ilmu yang mempelajari struktur internal kayu, baik secara makroskopis yang dilihat dengan mata telanjang atau kaca pembesar maupun mikroskopis yang dilihat dengan mikroskop.
Anatomi kayu memainkan peran penting dalam identifikasi spesies kayu, yakni salah satu ilmu botani terapan di bidang kehutanan. Di Indonesia, ilmu ini berperan penting mengingat negara ini memiliki keanekaragaman kayu yang tinggi. Antarjenis kayu pun sukar dibedakan. Untuk itu, anatomi kayu merupakan metode dasar untuk menentukan jenis kayu.
Ratih memanfaatkan perangkat portable Wood Identifier (WIDer) sebagai salah satu metode identifikasi kayu.Ratih menjelaskan, setiap jenis kayu memiliki ciri anatomi yang unik, seperti ukuran dan pola pembuluh, keberadaan parenkim, bentuk serabut, serta pola sinar kayu.
Ciri-ciri itu bisa digunakan sebagai "sidik jari" biologis untuk mengenali spesies, bahkan jika kayu tersebut sudah diolah, misalnya menjadi mebel atau bahan bangunan.
Baca juga: Plana Gunakan Mesin Ramah Lingkungan untuk Produksi Material Pengganti Kayu
Identifikasi kayu, termasuk lewat identifikasi anatomi, menjadi kunci penting untuk kebutuhan industri dan penelitian. Lebih dari itu, ilmu tersebut juga berperan penting dalam bioforensik.
“Anatomi kayu dapat membantu peneliti melacak asal kayu dan mengidentifikasikannya untuk memerangi pembalakan liar. Identifikasi kayu juga dapat diterapkan pada kayu yang menjadi alat bukti sah di pengadilan,” papar Ratih.
Kegigihan Ratih mempelajari anatomi kayu menghasilkan database ratusan ribu kayu yang tersimpan rapi di Xylarium Bogoriense di Bogor, Jawa Barat.
Berkat tangan dingin Ratih dan rekan-rekan penelitinya, Xylarium Bogoriense menjelma menjadi perpustakaan kayu terbesar di dunia—mengungguli Belanda dan Amerika Serikat—dengan 193.000 sampel kayu. Dari jumlah ini, lebih dari 3.600 spesies tumbuhan berkayu tersebar di Indonesia.
Database kayu yang begitu banyak kemudian mendorong Ratih dan sejumlah peneliti lain untuk menciptakan alat yang memudahkan identifikasi pada 2017. Alat ini diberi nama WoodID yang kemudian disebut Alat Identifikasi Kayu Otomatis (AIKO). AIKO sendiri telah hadir dalam bentuk aplikasi yang dapat diunduh di Google Play.
AIKO, alat berbasis computer vision yang berfungsi untuk memeriksa gambar penampang kayu hasil pemotretan.Kolaborasi antara Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)—tempat Ratih bekerja sebelumnya—pada akhirnya membawa AIKO menjadi “juru selamat” dalam identifikasi kayu.
Untuk diketahui, AIKO merupakan alat berbasis computer vision yang berfungsi untuk memeriksa gambar penampang kayu hasil pemotretan, lalu mencocokkannya dengan gambar serupa yang telah tersimpan di cloud atau server.
Aplikasi itu memberikan informasi yang sangat lengkap mengenai kayu tersebut, mencakup nama lokal, nama latin, nama dagang, klasifikasi, berat jenis, kelas kekuatan, kelas keawetan, dan potensi penggunaannya.
Baca juga: Petani NTB Ungkap Manfaat Tanaman Bioteknologi, Hemat dan Tahan Kering
Data yang disediakan AIKO diharapkan mampu menunjang kinerja para pelaku usaha dan industri di sektor perkayuan. Bagi industri, ketepatan dalam mengenali jenis kayu sangat penting agar proses produksi dapat berlangsung secara efisien dan sesuai peruntukan. Hal ini disebabkan oleh perlakuan, perawatan, serta penggunaan setiap jenis kayu yang berbeda-beda.
Selain itu, kemampuan identifikasi cepat dan akurat dari AIKO juga berguna bagi petugas bea cukai ketika memverifikasi kecocokan antara dokumen pengiriman dan jenis kayu pada barang. Fungsi serupa juga dibutuhkan oleh aparat penegak hukum untuk memastikan jenis kayu yang menjadi barang bukti, baik saat di lapangan maupun dalam persidangan.
Bahkan, baru-baru ini Ratih diminta menjadi saksi kunci dalam kasus ambruknya jembatan akibat penggunaan material kayu yang tidak sesuai dengan kualifikasi teknis.
Ia juga pernah diminta mengidentifikasi jenis kayu yang digunakan pada meja dan kursi di sekolah yang ternyata tidak sesuai spesifikasi sehingga berbahaya bagi peserta didik.
“Jujur saya agak marah (mendapati temuan tersebut kala itu). Ini kan (infrastruktur) buat (menunjang) anak-anak belajar. Kok bisa dibuat dengan spesifikasi yang tidak sesuai dengan ketetapan Kementerian Pendidikan?,” tutur Ratih.
Identifikasi anatomi kayu bukan satu-satunya metode yang bisa digunakan peneliti untuk memahami seluk-beluk kayu.
Dalam perkembangan terbaru, pendekatan genetik mulai diadopsi oleh para ilmuwan kehutanan untuk melacak asal usul kayu secara lebih presisi, bahkan pada spesimen yang telah kehilangan struktur anatomisnya karena pengolahan.
Adalah Fifi Gus Dwiyanti, Dosen Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB, yang menggeluti pendekatan forensik DNA untuk mendukung identifikasi kayu, khususnya dalam konteks pemberantasan perdagangan kayu ilegal.
“Saat struktur anatominya rusak atau tidak lagi dapat diidentifikasi secara visual, maka DNA menjadi kunci,” ujar Fifi saat diwawancarai Kompas.com, Selasa (13/5/2025).
Menurut Fifi, prinsip dasar forensik DNA kayu serupa dengan forensik DNA manusia. Setiap spesies tanaman memiliki sekuens DNA khas yang dapat digunakan sebagai penanda genetik.
Dengan mengekstraksi dan menganalisis DNA dari sampel kayu, peneliti dapat mengidentifikasi spesies tumbuhan asalnya, bahkan hingga menentukan populasi atau wilayah geografis tertentu.
Proses tersebut tentu tidak sederhana. Kayu adalah jaringan yang sudah mati dan mengalami lignifikasi—pengendapan lignin yang memperkuat dinding sel—sehingga membuat isolasi DNA jauh lebih rumit dibandingkan jaringan daun atau akar.
Namun, dengan teknik molekuler yang terus berkembang, DNA dari kayu, bahkan dari mebel tua atau serpihan arang, kini bisa ditelusuri asal-usulnya.
“Dibutuhkan metode ekstraksi khusus dan penyesuaian protokol laboratorium agar DNA bisa diperoleh dari matriks kayu yang kompleks,” kata Fifi yang telah melakukan riset forensik DNA kayu sejak 2015.
Baca juga: Menelusuri Jejak Kayu Ilegal lewat Forensik DNA, Harapan Baru dalam Penegakan Hukum Kehutanan
Riset Fifi telah menghasilkan sejumlah penanda genetik (DNA barcode) untuk beberapa spesies kayu komersial di Indonesia, seperti meranti (Shorea leprosula), merbau (Intsia bijuga), sonokeling (Dalbergia latifolia), dan ulin (Eusideroxylon zwageri). Penanda ini kemudian disusun dalam basis data referensi yang dapat digunakan untuk pembanding.
Baru-baru ini, bersama World Resources Institute (WRI) Indonesia, Fifi mengembangkan database genetika kayu ramin (Gonystylus bancanus) sebagai bagian dari sistem identifikasi kayu berbasis DNA.
Bersama sejumlah peneliti dan WRI Indonesia, Fifi mengumpulkan sampel jaringan pohon ramin di kawasan Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah.Untuk membangun database genetika ramin, Fifi dan tim IPB turun langsung ke habitat alaminya guna mengumpulkan sampel jaringan pohon.
Pada Sabtu (17/5/2025), tim Kompas.com ikut mendampingi mereka menelusuri hutan gambut di kawasan Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah—sekitar dua jam perjalanan dari Palangkaraya.
Menggunakan bor manual, Fifi dan timnya mengambil inti kayu untuk dianalisis. Ia juga membawa palu dan pencungkil kayu untuk mengambil sampel batang serta ketapel guna menjangkau daun.
Fifi tak menampik, profesi yang digelutinya begitu menantang. Untuk mengambil sampel, Fifi harus menuju habitat asli yang kerap berada di hutan pedalaman.
“Medan berlumpur, alat berat, dan lokasi yang begitu pelosok telah menjadi risiko pekerjaan. Beruntung, rekan-rekan tim begitu mendukung sehingga perjalanan aman dan lancar. Bonusnya, saya bisa melihat banyak flora dan fauna langsung di habitat aslinya, termasuk yang endemik,” ucap dia.
Fifi menekankan, pendekatan DNA sangat berguna dalam konteks penegakan hukum, seperti halnya pendekatan anatomi kayu. Ketika aparat menemukan balok kayu tanpa dokumen sah atau kayu dalam kontainer ekspor tidak sesuai dengan spesies yang tertera di dokumen, misalnya, analisis DNA dapat digunakan sebagai bukti ilmiah untuk pengadilan.
Baca juga: Lawan Pembalakan, IPB-WRI Indonesia Kembangkan Database Genetika Ramin
Metode tersebut juga penting dalam mendukung implementasi sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK) serta dalam kerja sama internasional untuk menghentikan perdagangan kayu ilegal lintas batas.
“Ini bukan hanya soal kayu. Ini soal keadilan ekologis dan perlindungan terhadap hutan tropis yang makin terancam,” tutur Fifi.
Baik pendekatan anatomi seperti yang dikembangkan oleh Ratih Damayanti ataupun pendekatan genetik yang digeluti Fifi Gus Dwiyanti saling melengkapi dalam praktik bioforensik kayu di Indonesia.
Dalam konteks penegakan hukum, identifikasi awal bisa dilakukan secara makroskopis atau dengan bantuan AIKO. Jika diperlukan verifikasi lebih dalam, terutama untuk spesies yang mirip secara anatomi atau untuk sampel yang telah mengalami pelapukan atau proses kimiawi, maka analisis DNA dapat dilakukan.
Keduanya pun menjadi investigator dalam proyek Wood Identification (Wood ID) yang diinisiasi WRI Indonesia. Proyek ini bertujuan mengurangi pembalakan liar dengan mempercepat penerapan teknologi identifikasi kayu untuk memverifikasi klaim terkait spesies serta asal-usul kayu dan produk hutan, sekaligus memperkuat penegakan hukum di Indonesia melalui pemberian bukti ilmiah terkait identifikasi kayu.
Proyek Wood ID yang diinisiasi WRI Indonesia bertujuan mengurangi pembalakan liar dengan mempercepat penerapan teknologi identifikasi kayu.Sebagai teknologi identifikasi, Wood ID memfasilitasi pengembangan database yang menjadi sumber referensi identifikasi kayu, memungkinkan identifikasi spesies dan asal kayu secara akurat. Selain itu, Wood ID aktif berkontribusi dalam mengembangkan pedoman yang dapat menjadi panduan penanganan forensik kayu bagi lembaga penegak hukum.
dalam membentuk kerangka hukum yang mengatur standar forensik kayu bagi lembaga penegak hukum.
Di tengah urgensi pelestarian hutan dan meningkatnya tekanan terhadap keanekaragaman hayati akibat perubahan iklim serta praktik pembalakan liar, kiprah Ratih Damayanti dan Fifi Gus Dwiyanti menjadi fondasi penting dalam membangun sistem identifikasi kayu yang kuat di Indonesia.
Ratih melalui pendekatan anatomi kayu dan inovasi berbasis teknologi seperti AIKO memastikan bahwa ilmu pengetahuan mampu menjangkau hingga ke lini kebijakan dan penegakan hukum.
Sementara itu, Fifi melengkapi upaya tersebut dengan pendekatan genetika melalui forensik DNA yang membuka kemungkinan pelacakan asal-usul kayu meski struktur fisiknya telah rusak.
Keduanya tak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu kehutanan modern, tetapi juga membuktikan bahwa sains memiliki peran strategis dalam menjaga keadilan ekologis.
Di tangan para srikandi peneliti, seperti Ratih dan Fifi, pohon tak sekadar dilihat sebagai sumber ekonomi, tetapi juga sebagai penopang kehidupan yang harus dikenali, dijaga, dilindungi, dan dipertanggungjawabkan hingga ke akarnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya