Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gas Flaring Lesatkan Emisi Karbon, Sumbang 389 Juta Ton pada 2024

Kompas.com, 21 Juli 2025, 16:43 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber Guardian

KOMPAS.com - Laporan Bank Dunia menunjukkan bahwa pada tahun 2024, industri bahan bakar fosil menyumbang 389 juta ton polusi karbon ke atmosfer karena praktik pembakaran gas yang tidak perlu.

Ini merupakan pemborosan energi yang sangat besar dan dampaknya pada pemanasan global setara dengan emisi karbon seluruh negara Prancis.

Pembakaran gas (flaring) adalah cara untuk menghilangkan gas seperti metana yang muncul saat memompa minyak dari dalam tanah.

Praktik ini rutin dilakukan di banyak negara karena seringkali lebih murah membakar gas daripada menangkap, mengangkut, memproses, dan menjualnya.

Menurut laporan, dikutip dari Guardian, Jumat (18/7/2025), praktik pembakaran gas secara global terus meningkat dan mencapai rekor tertinggi sejak 2007, meskipun ada kekhawatiran yang meningkat tentang keamanan energi dan krisis iklim.

Laporan kemudian menunjukkan bahwa pada tahun 2024, sebanyak 151 miliar meter kubik gas dibakar selama proses produksi minyak dan gas, jumlah ini meningkat 3 miliar meter kubik dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca juga: Pertamina Kembangkan Aplikasi Greenomina untuk Dorong Gaya Hidup Rendah Emisi

"Pembakaran gas itu pemborosan yang tidak perlu dan merupakan peluang terlewatkan untuk memperkuat ketahanan energi dan meningkatkan akses terhadap listrik yang andal," kata Zubin Bamji, manajer kemitraan Global Flaring and Methane Reduction (GFMR) Bank Dunia, yang menyusun laporan tersebut.

Ia juga mengungkapkan, seringkali aturan untuk menghentikan pembakaran gas itu lemah dan tidak ditegakkan dengan baik. Akibatnya, perusahaan tidak punya motivasi untuk berhenti karena mereka tidak dikenakan biaya atas polusi yang mereka ciptakan.

Laporan tersebut juga menemukan bahwa sembilan negara yakni Rusia, Iran, Irak, AS, Venezuela, Aljazair, Libya, Meksiko, dan Nigeria bertanggung jawab atas tiga perempat dari seluruh pembakaran gas pada tahun 2024. Sebagian besar dari pelanggar terburuk adalah negara-negara dengan perusahaan minyak milik negara.

Meskipun ada upaya untuk menghentikan pembakaran gas, laporan menunjukkan bahwa jumlah gas yang dibakar untuk setiap barel minyak yang dihasilkan tetap tinggi selama 15 tahun terakhir.

Andrew Baxter, seorang ahli minyak dan gas dari organisasi nirlaba Environmental Defense Fund, yang tidak terlibat dalam laporan tersebut, mengatakan sangat kecewa karena tingkat pembakaran gas saat ini kembali tinggi seperti tahun 2007.

Menurutnya, membakar gas sebanyak itu adalah pemborosan sumber daya yang parah dan berdampak sangat buruk bagi iklim serta kesehatan manusia.

Badan Energi Internasional (IEA) mendesak agar praktik pembakaran gas dihentikan total pada tahun 2030, kecuali dalam kondisi darurat. Gas yang dibakar tahun lalu itu senilai 63 miliar dolar AS, jumlah ini lebih dari separuh biaya yang dibutuhkan untuk menghentikan flaring secara keseluruhan.

Jonathan Banks dari Clean Air Task Force, yang juga tidak terlibat dalam laporan, menyatakan bahwa solusi untuk masalah pembakaran gas sudah diketahui dan seringkali tidak mahal. Namun, hambatan utamanya adalah kurangnya kemauan politik dan tekanan regulasi untuk menerapkan solusi tersebut secara luas.

Baca juga: Pulihkan Kondisi Tanah dan Tekan Emisi, PUM Tawarkan Pengolahan Sekam Jadi Biochar

Lebih lanjut, laporan menunjukkan pula adanya kemajuan, dengan menyebutkan negara-negara seperti Angola, Mesir, Indonesia, dan Kazakhstan sebagai contoh produsen minyak dan gas yang berhasil mengurangi praktik pembakaran gas.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
IPB University Raih Peringkat 48 Global Bidang Agriculture & Forestry versi QS WUR
IPB University Raih Peringkat 48 Global Bidang Agriculture & Forestry versi QS WUR
Pemerintah
Hujan di Indonesia Diprediksi hingga Akhir Maret 2026, Panas Masih Mengintai
Hujan di Indonesia Diprediksi hingga Akhir Maret 2026, Panas Masih Mengintai
Pemerintah
Karhutla Indonesia 2025 Capai 359.000 Hektar, Ini 7 Provinsi yang Rawan
Karhutla Indonesia 2025 Capai 359.000 Hektar, Ini 7 Provinsi yang Rawan
Pemerintah
Konservasionis Orangutan Birute Galdikas Meninggal, Ingin Dimakamkan di Kalteng
Konservasionis Orangutan Birute Galdikas Meninggal, Ingin Dimakamkan di Kalteng
Pemerintah
Tapak Tilas Kejayaan Tanggulangin, Sentra Tas yang Jadi Incaran Pejabat dan Turis
Tapak Tilas Kejayaan Tanggulangin, Sentra Tas yang Jadi Incaran Pejabat dan Turis
Swasta
Kapan Permintaan Minyak Bumi Global Mencapai Puncak?
Kapan Permintaan Minyak Bumi Global Mencapai Puncak?
Swasta
BRIN Temukan Spesies Tanaman Endemik Baru Mirip Lidah Kucing di Sumut
BRIN Temukan Spesies Tanaman Endemik Baru Mirip Lidah Kucing di Sumut
Pemerintah
Punya Potensi EBT Besar, NTT Percepat Transisi Energi
Punya Potensi EBT Besar, NTT Percepat Transisi Energi
Pemerintah
Karhutla Awal 2026 Naik Dibandingkan Tahun El Nino 2019 dan 2023, Ada Apa?
Karhutla Awal 2026 Naik Dibandingkan Tahun El Nino 2019 dan 2023, Ada Apa?
Pemerintah
Indonesia Masuk Daftar Negara Paling Berpolusi di Dunia 2025 Versi IQAir
Indonesia Masuk Daftar Negara Paling Berpolusi di Dunia 2025 Versi IQAir
LSM/Figur
Indonesia Butuh Lebih dari Sekadar WFH, Ahli Jelaskan Alasannya
Indonesia Butuh Lebih dari Sekadar WFH, Ahli Jelaskan Alasannya
LSM/Figur
Polusi Plastik Mulai Cemari Hutan Dunia
Polusi Plastik Mulai Cemari Hutan Dunia
LSM/Figur
Bisakah Kebun Kelapa Sawit Jadi Hutan Lagi? Ini Penjelasan KLH Soal Reforestasi
Bisakah Kebun Kelapa Sawit Jadi Hutan Lagi? Ini Penjelasan KLH Soal Reforestasi
Pemerintah
Ini Negara dengan Kualitas Udara Terburuk di Dunia 2025, Ada Pakistan
Ini Negara dengan Kualitas Udara Terburuk di Dunia 2025, Ada Pakistan
LSM/Figur
AI Bantu Perluasan dan Perawatan Ruang Terbuka Hijau di Kota
AI Bantu Perluasan dan Perawatan Ruang Terbuka Hijau di Kota
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau