“Beras masih jadi komoditas utama. Maka penting memastikan petani lokal ikut memproduksi secara berkelanjutan,” kata Puji.
Ia juga menyoroti bahwa ketidakpastian iklim memperburuk tantangan produksi. Perubahan pola cuaca mempengaruhi siklus tanam, dan mendorong risiko gagal panen.
Menurut Puji, selain mengejar swasembada, ketahanan pangan bisa dibangun lewat pendekatan berbasis pangan lokal. Diversifikasi dan pemanfaatan sumber daya hayati yang lebih adaptif dinilai lebih logis dalam konteks krisis iklim.
“Tanaman lokal juga lebih kuat dari hama dan gulma, karena dia lebih adaptif. Jadi bisa mendorong penguatan ketahanan pangan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan risiko jika percepatan produksi dilakukan tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan. Pembukaan lahan secara masif berisiko merusak keanekaragaman hayati.
Baca juga: IPB Rilis Inovasi Berbasis AI untuk Tingkatkan Ketahanan Pangan
Praktik pertanian monokultur pun berpotensi meningkatkan penggunaan pupuk kimia, yang bisa merusak tanah dan menyumbang emisi.
Karena itu, Puji menekankan pentingnya perencanaan yang berbasis zonasi, karakteristik tanah, dan iklim lokal.
“Setiap wilayah punya iklim yang unik, dan ini harus diperhitungkan dalam perencanaan pertanian,” ujar Puji.
Produksi juga perlu diawasi lewat pendekatan intensifikasi yang berkelanjutan, agar tidak hanya mendorong output jangka pendek, tapi menjaga ekosistem dalam jangka panjang.
“Dengan begitu, swasembada tidak bertabrakan dengan keberlanjutan lingkungan,” tutupnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya