Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Awas, Gelombang Panas Ternyata Bisa Bikin Tubuh Lebih Cepat Tua

Kompas.com, 27 Agustus 2025, 19:59 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber Euronews

KOMPAS.com - Sebuah studi baru menunjukkan bahwa paparan gelombang panas yang berulang dapat mempercepat penuaan biologis.

Dampak terburuknya dialami oleh para pekerja luar ruangan, penduduk pedesaan, dan komunitas dengan akses terbatas ke AC atau pendingin ruangan.

Menurut sebuah studi baru, paparan berulang terhadap gelombang panas tampaknya mempercepat penuaan pada manusia, dengan efek merusak yang sebanding dengan merokok, konsumsi alkohol, atau kurangnya olahraga.

Bukti-bukti sebelumnya telah menghubungkan gelombang panas dengan lonjakan kematian jangka pendek. Contohnya, hampir 600 kematian dini terjadi selama satu gelombang panas di Inggris pada tahun ini.

Namun, temuan baru yang diterbitkan dalam Nature Climate Change ini mengungkapkan konsekuensi jangka panjang dari hal tersebut.

Baca juga: Perubahan Iklim dan Gelombang Panas Picu Kebakaran Hutan Terburuk di Eropa Selatan

Melansir Euro News, Selasa (26/8/2025) penelitian ini menganalisis data kesehatan selama 15 tahun dari hampir 24.922 orang dewasa di Taiwan, yang rata-rata memiliki usia biologis 46 tahun.

Studi tersebut menyimpulkan bahwa hanya dengan empat hari tambahan paparan gelombang panas selama dua tahun, terjadi peningkatan usia biologis sekitar sembilan hari.

Dalam studinya ini, para peneliti menggunakan penanda medis rutin seperti tekanan darah, penanda peradangan, kolesterol, dan pengukuran fungsi paru-paru, hati, serta ginjal untuk menghitung "usia biologis" setiap peserta.

Kemudian, mereka membuat model bagaimana usia tersebut berubah seiring dengan paparan gelombang panas.

Studi tersebut menemukan bahwa pekerja kasar, penduduk pedesaan, dan orang-orang yang tinggal di komunitas dengan AC terbatas secara khusus lebih rentan terhadap penuaan akibat gelombang panas.

Sederhananya, orang yang tinggal di daerah dengan lebih banyak hari panas cenderung mengalami penuaan biologis yang lebih cepat dibandingkan mereka yang tinggal di daerah yang lebih sejuk.

“Jika paparan gelombang panas terakumulasi selama beberapa dekade, dampak kesehatannya akan jauh lebih besar daripada yang telah kami laporkan,” kata Dr. Cui Guo, dari Universitas Hong Kong, yang memimpin studi tersebut.

“Gelombang panas juga semakin sering terjadi dan berlangsung lebih lama sehingga dampak kesehatannya bisa jauh lebih besar di masa mendatang,” tambahnya.

Gelombang panas adalah periode suhu tinggi yang tidak biasa dan berlangsung dalam waktu lama, yang definisinya didasarkan pada ambang batas iklim lokal, bukan pada satu suhu universal.

Contohnya, Kantor meteorologi di Inggris, Met Office menyatakan gelombang panas terjadi ketika suhu harian melebihi ambang batas regional selama tiga hari berturut-turut atau lebih.

Batas ini biasanya 25 derajat C di area yang lebih sejuk seperti Wales dan Skotlandia, dan 28 derajat C di zona yang lebih panas termasuk London dan sebagian East Midlands.

Dalam jangka pendek, panas ekstrem memberi tekanan langsung pada sistem pendingin tubuh.

Baca juga: Gelombang Panas Ekstrem Ungkap Kerentanan Jaringan Listrik di Eropa

Berkeringat dan peningkatan aliran darah ke kulit memang membantu mengatur suhu, tetapi respons ini memberikan tekanan ekstra pada jantung dan ginjal.

Jika asupan cairan dan istirahat tidak cukup, hal ini bisa mengakibatkan dehidrasi, kelelahan akibat panas (heat exhaustion), dan dalam kasus parah, serangan panas (heatstroke) yang berpotensi fatal.

Dalam jangka panjang, paparan suhu tinggi yang berulang atau berkepanjangan dapat memperburuk kondisi kesehatan kronis, termasuk penyakit kardiovaskular, pernapasan, dan ginjal.

Para ilmuwan percaya bahwa kerusakan sel kumulatif termasuk kerusakan DNA, stres oksidatif, dan peradangan kronis dapat menjelaskan mengapa paparan panas yang sering tampaknya mempercepat penuaan biologis.

Studi baru ini pun menyoroti pentingnya kebijakan yang mengurangi ketidaksetaraan lingkungan dan memperkuat ketahanan terhadap gelombang panas, terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan.

Studi ini juga menyerukan perlindungan yang ditargetkan dan perencanaan layanan kesehatan yang efisien.

Baca juga: Gelombang Panas Ekstrem Ungkap Kerentanan Jaringan Listrik di Eropa

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Swasta
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
BUMN
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
LSM/Figur
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Pemerintah
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Pemerintah
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Pemerintah
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Pemerintah
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Pemerintah
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Pemerintah
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
Pemerintah
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Pemerintah
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
LSM/Figur
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Pemerintah
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk 'Urban Farming' Tanaman Anggur
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk "Urban Farming" Tanaman Anggur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau