KOMPAS.com - Sebuah studi baru menunjukkan bahwa paparan gelombang panas yang berulang dapat mempercepat penuaan biologis.
Dampak terburuknya dialami oleh para pekerja luar ruangan, penduduk pedesaan, dan komunitas dengan akses terbatas ke AC atau pendingin ruangan.
Menurut sebuah studi baru, paparan berulang terhadap gelombang panas tampaknya mempercepat penuaan pada manusia, dengan efek merusak yang sebanding dengan merokok, konsumsi alkohol, atau kurangnya olahraga.
Bukti-bukti sebelumnya telah menghubungkan gelombang panas dengan lonjakan kematian jangka pendek. Contohnya, hampir 600 kematian dini terjadi selama satu gelombang panas di Inggris pada tahun ini.
Namun, temuan baru yang diterbitkan dalam Nature Climate Change ini mengungkapkan konsekuensi jangka panjang dari hal tersebut.
Baca juga: Perubahan Iklim dan Gelombang Panas Picu Kebakaran Hutan Terburuk di Eropa Selatan
Melansir Euro News, Selasa (26/8/2025) penelitian ini menganalisis data kesehatan selama 15 tahun dari hampir 24.922 orang dewasa di Taiwan, yang rata-rata memiliki usia biologis 46 tahun.
Studi tersebut menyimpulkan bahwa hanya dengan empat hari tambahan paparan gelombang panas selama dua tahun, terjadi peningkatan usia biologis sekitar sembilan hari.
Dalam studinya ini, para peneliti menggunakan penanda medis rutin seperti tekanan darah, penanda peradangan, kolesterol, dan pengukuran fungsi paru-paru, hati, serta ginjal untuk menghitung "usia biologis" setiap peserta.
Kemudian, mereka membuat model bagaimana usia tersebut berubah seiring dengan paparan gelombang panas.
Studi tersebut menemukan bahwa pekerja kasar, penduduk pedesaan, dan orang-orang yang tinggal di komunitas dengan AC terbatas secara khusus lebih rentan terhadap penuaan akibat gelombang panas.
Sederhananya, orang yang tinggal di daerah dengan lebih banyak hari panas cenderung mengalami penuaan biologis yang lebih cepat dibandingkan mereka yang tinggal di daerah yang lebih sejuk.
“Jika paparan gelombang panas terakumulasi selama beberapa dekade, dampak kesehatannya akan jauh lebih besar daripada yang telah kami laporkan,” kata Dr. Cui Guo, dari Universitas Hong Kong, yang memimpin studi tersebut.
“Gelombang panas juga semakin sering terjadi dan berlangsung lebih lama sehingga dampak kesehatannya bisa jauh lebih besar di masa mendatang,” tambahnya.
Gelombang panas adalah periode suhu tinggi yang tidak biasa dan berlangsung dalam waktu lama, yang definisinya didasarkan pada ambang batas iklim lokal, bukan pada satu suhu universal.
Contohnya, Kantor meteorologi di Inggris, Met Office menyatakan gelombang panas terjadi ketika suhu harian melebihi ambang batas regional selama tiga hari berturut-turut atau lebih.
Batas ini biasanya 25 derajat C di area yang lebih sejuk seperti Wales dan Skotlandia, dan 28 derajat C di zona yang lebih panas termasuk London dan sebagian East Midlands.
Dalam jangka pendek, panas ekstrem memberi tekanan langsung pada sistem pendingin tubuh.
Baca juga: Gelombang Panas Ekstrem Ungkap Kerentanan Jaringan Listrik di Eropa
Berkeringat dan peningkatan aliran darah ke kulit memang membantu mengatur suhu, tetapi respons ini memberikan tekanan ekstra pada jantung dan ginjal.
Jika asupan cairan dan istirahat tidak cukup, hal ini bisa mengakibatkan dehidrasi, kelelahan akibat panas (heat exhaustion), dan dalam kasus parah, serangan panas (heatstroke) yang berpotensi fatal.
Dalam jangka panjang, paparan suhu tinggi yang berulang atau berkepanjangan dapat memperburuk kondisi kesehatan kronis, termasuk penyakit kardiovaskular, pernapasan, dan ginjal.
Para ilmuwan percaya bahwa kerusakan sel kumulatif termasuk kerusakan DNA, stres oksidatif, dan peradangan kronis dapat menjelaskan mengapa paparan panas yang sering tampaknya mempercepat penuaan biologis.
Studi baru ini pun menyoroti pentingnya kebijakan yang mengurangi ketidaksetaraan lingkungan dan memperkuat ketahanan terhadap gelombang panas, terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan.
Studi ini juga menyerukan perlindungan yang ditargetkan dan perencanaan layanan kesehatan yang efisien.
Baca juga: Gelombang Panas Ekstrem Ungkap Kerentanan Jaringan Listrik di Eropa
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya