KOMPAS.com - Emisi metana Brasil meningkat sebesar 6 persen antara tahun 2020 hingga 2023, mencapai 21,1 juta ton pada tahun lalu.
Ini adalah kenaikan emisi tertinggi kedua yang pernah tercatat di negara tersebut.
Dan berhubung Brasil adalah eksportir daging sapi terbesar di dunia, sebagian besar emisi ini didorong oleh industri peternakan sapi mereka.
Melansir Know ESG, Kamis (28/8/2025), Climate Observatory menyebut sekitar tiga perempat dari emisi metana Brasil pada tahun 2023 berasal dari peternakan sapi potong dan sapi perah.
Jumlah ini mencapai 14,5 juta ton metana, yang setara dengan 406 juta ton setara karbon dioksida (CO2).
Metana dianggap lebih berbahaya bagi iklim daripada karbon dioksida karena gas ini memerangkap panas jauh lebih banyak di atmosfer.
Di banyak negara, sumber utama metana adalah bahan bakar fosil. Namun, di Brasil, sumber utamanya adalah produksi makanan, terutama dari proses pencernaan sapi.
Baca juga: Perusahaan Susu dan Kopi Lambat Atasi Emisi Metana
Metana sebagian besar dilepaskan saat sapi bersendawa selama proses pencernaan, tetapi juga berasal dari kotoran hewan dan lahan pertanian padi yang diairi.
Para ahli pun mengatakan bahwa Brasil perlu menciptakan strategi sendiri untuk mengurangi emisi.
Sebagai contoh, Selandia Baru, negara penghasil ternak besar lainnya, telah menemukan cara-cara untuk mengurangi emisi metana dari peternakan.
Tantangan Brasil bahkan lebih besar karena negara ini memiliki populasi sapi terbesar kedua di dunia dan industri daging sapinya memasok daging ke banyak negara di seluruh dunia.
Saat ini, Brasil adalah negara penghasil emisi metana terbesar kelima di dunia, setelah Cina, Amerika Serikat, India, dan Rusia.
Mengingat Brasil akan menjadi tuan rumah konferensi iklim COP 30 di Belem akhir tahun ini, ada tekanan internasional yang meningkat agar Brasil mengatasi masalah metana yang terus naik dan melakukan tindakan nyata.
Baca juga: Emisi Metana Diremehkan, Jutaan Ton Berpotensi Tak Terlaporkan
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya