Misalnya saja dengan mengajari anak memasak dengan sisa makanan, menunjukkan cara membuat anggaran dan membingkai belanja hemat sebagai belanja yang cerdas.
Sekolah dapat memasukkan pelajaran tentang perencanaan makanan, sementara inisiatif lokal dapat menyelenggarakan lokakarya yang menghubungkan berhemat dengan keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat.
Baca juga: Ancaman Tersembunyi Perubahan Iklim, Bikin Nutrisi Makanan Turun
"Jika kita menginginkan perubahan yang langgeng, kita perlu mempromosikan berhemat sebagai norma sosial, bukan hanya mengandalkan dorongan sesaat,” ungkap Iorfa.
Ketika orang membangun rutinitas seperti merencanakan makan, memanfaatkan kembali sisa makanan, dan berbelanja dengan penuh kesadaran, pemborosan secara alami akan berkurang.
Pemborosan makanan lebih dari sekadar ketidaknyamanan, melainkan krisis.
Sepertiga dari semua makanan yang diproduksi tidak pernah dimakan, bahkan ketika miliaran orang berjuang melawan kelaparan.
Pada tahun 2023, lebih dari 2,3 miliar orang menghadapi kerawanan pangan, dan jumlah tersebut dapat meningkat seiring pertumbuhan populasi.
Pada tahun 2050, hampir 10 miliar orang akan membutuhkan makanan, namun sistem kita saat ini sudah terlalu banyak membuang sampah. Mengurangi sampah bukan hanya tentang menghemat uang atau membersihkan piring, tetapi tentang bertahan hidup.
Setiap makanan yang dihemat berarti lebih sedikit sumber daya yang terbuang, lebih sedikit tekanan terhadap lingkungan, dan lebih banyak makanan yang menjangkau mereka yang benar-benar membutuhkannya.
Studi dipublikasikan di Food Quality and Preference.
Baca juga: Pentingnya Pengelolaan Pangan Berkelanjutan di Tengah Gejolak Global
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya