KOMPAS.com - Penggunaan antibiotik yang tidak terkontrol dalam perikanan budi daya di Indonesia memicu ancaman antimicrobial resistance (AMR).
Direktur Kelautan dan Perikanan Kementerian PPN/Bappenas, Mohammad Rahmat Mulianda, menyebut banyak pelaku usaha masih memakai antibiotik tanpa mematuhi Cara Budi Daya Ikan yang Baik (CBIB).
"Karena mereka bisa beli di marketplace, produk dari mana pun. Mereka tidak berpikir bahwa ikannya nantinya mengakumulasi antibiotik," ujarnya dalam Peluncuran Rencana Aksi Bersama Pengembangan Pangan Akuatik Indonesia, Rabu (10/9/2025).
Pemerintah, katanya, akan memperketat regulasi penggunaan antibiotik di sektor perikanan budi daya. Tantangan terbesar, menurutnya, adalah menyosialisasikan aturan tersebut kepada pelaku usaha informal agar mereka mematuhi CBIB.
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Mala Nurilmala mengatakan, para pelaku usaha perlu diedukasi tentang penggunaan antibiotik yang saat ini dijual bebas.
Baca juga: KKP Ungkap Pendapatan Sektor Perikanan Indonesia Capai Rp116 Triliun
Selain itu, perlu pula melakukan monitoring terhadap produksi antibiotik agar produsen menjual produk yang berkualitas dan sesuai standar.
Ke depannya, kata dia, akan banyak kasus lingkungan tercemar metil merkuri (MeHg), kadmium (Cd), merkuri (Hg), dan timbal (Pb) karena penggunaan antibiotik asal-asalan dalam perikanan budi daya.
Pengelolaan lingkungan yang buruk berdampak pada tercemarnya produk perikanan budi daya. Misalnya, kerang di Muara Baru yang tercemar Hg dan Pb.
"Siapa nih yang mengontrol ini? Sementara masyarakat kan banyak yang tidak tahu, banyak dijual, segala macam, tapi ternyata bukannya menyehatkan yang di dalam definisi ikan itu sehat, segala macam, kok ternyata ikan itu mengandung logam berat lah, kemudian keracunan dan sebagainya," ucapnya.
Rahmat menegaskan perlunya pendekatan One Health, yang melihat keterhubungan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Ia berharap ke depan tidak ada lagi pelaku usaha yang asal menggunakan antibiotik.
"Tidak ada lagi masa depan yang sembarangan dalam penggunaan antibiotik, suka-suka dosisnya, dan efeknya tidak diperhatikan oleh konsumen," katanya.
Baca juga: Menteri KKP: Perikanan Tangkap Harus Dekati Nol, Misi 1.100 Kampung Nelayan Strateginya
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya