Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kementan: Sapi Merah Putih Turunan Friesian Holstein, Ada 80 Ekor

Kompas.com, 18 September 2025, 09:09 WIB
Manda Firmansyah,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkapkan, hingga saat ini, sudah ada sekitar 80 ekor sapi Merah Putih dari hasil seleksi dan penelusuran genetik.

Sapi Merah Putih merupakan salah satu strategi sub sektor peternakan dalam beradaptasi dan memitigasi krisis iklim.

"Kami cari gen-gen yang tadi (dapat beradaptasi dan memitigasi krisis iklim), salah satunya tahan terhadap panas ya," ujar Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Rabu (17/9/2024).

Sapi Friesian Holstein (FH) Merah Putih setidaknya memiliki empat genetik ideal, terutama yang menguntungkan bagi produksi susu nasional. Yaitu, keunggulan dari segi kesehatan hewan, reproduksi, tahan terhadap panas, serta memproduksi susu dengan cepat.

Sapi Merah Putih sebenarnya turunan FH yang sudah dikembangbiakkan para peternak di Indonesia.

"Penelusuran genetik (tersebut dilakukan terhadap) sapi-sapi yang kami jaring dari masyarakat. Sapi FH ya, sapi perah. Nah, cuma dinamakan sapi merah putih karena memang ya, ya kami ingin ada beda," tutur Agung.

Selain perbaikan genetik, strategi peternakan dalam beradaptasi dan memitigasi krisis iklim juga dilakukan dengan manajemen pakan ternak ruminansia demi menekan emisi gas rumah kaca (GRK).

"Bagaimana menurunkan produksi karbon dari ternak ruminansia kita melalui penyediaan pakan hijau yang bisa mengurangi produksi karbon," ucapnya.

Di sisi lain, kata dia, peternakan beradaptasi dan memitigasi krisis iklim dengan memodifikasi iklim mikro dalam kandang. Misalnya, membangun kandang sapi perah bersistem close house.

"Jadi, tidak terpengaruh dengan iklim atau perubahan cuaca karena mereka close house dan semua dikendalikan oleh AI, oleh alat. Nah, itu yang tentu salah satu yang kami siasati," ujar Agung.

Menurut Agung, penting untuk mengondisikan lingkungan peternakan agar sesuai kebutuhan hidup unggas serta ternak ruminansia seperti sapi, kambing, dan domba.

Baca juga: Krisis Iklim, Peternakan Sapi Perah Harus Modifikasi Suhu Kandang

Di dalam pameran internasional terbesar di bidang peternakan, ILDEX Indonesia 2025, sebesar 60 persen peralatan dan kandang yang ditampilkan industri-industri peternakan, sudah didesain adaptif terhadap krisis iklim.

Sebanyak 270 booth dari 26 negara berpartisipasi dalam pameran tersebut, kata dia, hampir semua memperkenalkan teknologi di bidang peternakan. Itu termasuk kandang dengan teknologi yang memungkinkan sapi-sapi perah — yang semestinya harus hidup di dataran tinggi dingin dan sejuk — bisa berkembangbiak di dataran rendah.

"Jadi, teknologi itulah yang membuat agar ternak-ternak kita bisa berproduksi dengan baik tanpa harus dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Dan, hampir semua booth tadi menjual teknologi itu," tutur Agung.

Sebelumnya, Indonesia resmi meluncurkan Sapi Merah Putih pada Jumat (29/8/2025). Sapi Merah Putih dikembangkan dari seleksi gen-gen unggul sapi perah lokal, sehingga punya tubuh tinggi, tahan panas, sekaligus menghasilkan emisi metana lebih rendah.

"Jadi, kalau di rekayasa genetik, bukan copot tempel ya. Justru, ini kita deteksi. Mana gen yang tahan panas, ini di boost ya. Gen yang methane (CH4) -nya kurang, ya. Ini yang di boost," ujar Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Epi Taufik, dalam webinar Praktik Peternakan Berkelanjutan.

Epi menilai, pemilihan ternak rendah metana menjadi kunci penting bagi peternakan dalam beradaptasi dan memitigasi krisis iklim. Ini karena metana jauh lebih berbahaya daripada CO2.

Baca juga: Tahan Panas, Sapi Merah Putih Peluang Baru di Tengah Krisis Iklim

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Indonesia Perkuat Pasar Karbon Berintegritas Tinggi
Indonesia Perkuat Pasar Karbon Berintegritas Tinggi
Pemerintah
Bahaya Kabut Asap, Risiko Tinggi Menanti Indonesia dan Negara Tetangga
Bahaya Kabut Asap, Risiko Tinggi Menanti Indonesia dan Negara Tetangga
LSM/Figur
Investasi Swasta untuk Kelestarian Alam Naik Lima Kali Lipat dalam 10 Tahun
Investasi Swasta untuk Kelestarian Alam Naik Lima Kali Lipat dalam 10 Tahun
Pemerintah
Atasi Dampak Buruk Pusat Data, Kota-kota di Dunia Sepakati Perjanjian Global
Atasi Dampak Buruk Pusat Data, Kota-kota di Dunia Sepakati Perjanjian Global
Pemerintah
Pemadaman Listrik Berulang di Sumatera, IESR Waspadai Risiko El Nino
Pemadaman Listrik Berulang di Sumatera, IESR Waspadai Risiko El Nino
LSM/Figur
Inisiatif Bupati Morowali Hadapi Tantangan Industri Nikel
Inisiatif Bupati Morowali Hadapi Tantangan Industri Nikel
Pemerintah
Anggaran Lingkungan Daerah Terbukti Tekan Polusi Udara, Ini Risetnya
Anggaran Lingkungan Daerah Terbukti Tekan Polusi Udara, Ini Risetnya
Pemerintah
Kemhut Revisi Aturan, Peran Kesatuan Pengelolaan Hutan Bakal Diperkuat
Kemhut Revisi Aturan, Peran Kesatuan Pengelolaan Hutan Bakal Diperkuat
Pemerintah
Sektor ESG dan Ekosistem Karbon Jadi Magnet Baru Investasi Strategis
Sektor ESG dan Ekosistem Karbon Jadi Magnet Baru Investasi Strategis
Swasta
Tak Lagi Bebas Flu Burung H5, Australia Kini Darurat Satwa Liar
Tak Lagi Bebas Flu Burung H5, Australia Kini Darurat Satwa Liar
Pemerintah
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Pemerintah
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Pemerintah
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Pemerintah
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
Pemerintah
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau