Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
CERITA LESTARI

Melihat Upaya Konservasi Tanaman dan Fauna Endemik Sulawesi di Taman Kehati Sawerigading Wallacea

Kompas.com, 2 Oktober 2025, 08:03 WIB
HTRMN,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

Inovasi efisiensi dan berkelanjutan

Taman Kehati Sawerigading Wallacea menerapkan berbagai inovasi yang efisien dan berkelanjutan. Misting system (pengkabutan otomatis) di greenhouse menjaga kelembapan dan suhu tanaman. Sistem ini menyemprot setiap 15–20 menit selama 5 detik, bergantian di empat rumah kaca, sekaligus menghemat tenaga dan listrik karena ditopang PLTA Vale.

Baca juga: Kontribusi Vale Intervensi Stunting di Kabupaten Bandung

“Pengabutan otomatis 15–20 menit sekali selama 5 detik, bergantian di tiap greenhouse, untuk menjaga kelembapan dan suhu,” terang Abkar.

Inovasi lainnya adalah coco grow, media tanam menggunakan serabut kelapa yang disiram air kelapa. Metode ini dapat mempercepat perakaran dari sekitar 1 bulan menjadi 2–3 minggu. Teknik ini biasanya digunakan pada pencangkokan tanaman buah pada program biodiversitas, termasuk dengen, dengan target 500 cangkok tahun ini.

“Air kelapa itu mengandung ion—kalium, kalsium, magnesium—yang merangsang pertumbuhan akar,” kata Abkar menjelaskan alasan penggunaan air kelapa pada metode coco grow.

Ada pula pupuk organik cair berbahan Hydrilla, gulma air yang tumbuh masif di danau. Inovasi ini terbukti mampu mengurangi populasi gulma tersebut sambil menghemat biaya kompos karena dibuat sendiri oleh Vale Indonesia.

Baca juga: Sulawesi, Timor, dan Sumbawa Bisa Hidup 100 Persen dari Energi Terbarukan

Manajemen bibit dilakukan dengan teliti. Setiap bibit yang siap ditanam akan melalui proses root-balling dan diberi geo-tagging. Bahkan, untuk tanaman endemik berukuran besar (tinggi 2–3 meter), root-balling dilakukan di hutan sebelum ditambang.

Tanaman-tanaman tersebut kemudian dipindahkan sementara ke nursery untuk diremajakan, lalu dikembalikan ke lahan aslinya setelah penambangan selesai.

Lewat Taman Kehati Sawerigading Wallacea, Vale Indonesia juga memiliki program donasi bibit dengan target sekitar 25.000 batang per tahun. Realisasi terbaru telah mencapai lebih kurang 15.000 batang.

Bibit-bibit tersebut disalurkan ke instansi pemerintah seperti Dinas Lingkungan Hidup (DLH), sekolah, hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM), terutama di area Sulawesi Selatan.

Baca juga: Mengenal Rusa Timor, Jenis Rusa di Indonesia yang Rentan Punah

Konservasi di Taman Kehati Sawerigading Wallacea tak hanya berfokus pada flora, tetapi juga fauna. Salah satunya, Rusa Timor yang didatangkan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Selatan. Rusa yang saat ini ada merupakan generasi kelima hasil pengembangbiakkan di taman tersebut.

Selain rusa, Taman Kehati Sawerigading Wallacea juga menjadi habitat bagi berbagai jenis kupu-kupu lokal, burung liar, lebah, dan tawon. Semua ini menjadi indikator keberhasilan konservasi lingkungan.

Dibuka untuk edukasi dan rekreasi publik

Di luar fungsinya sebagai pusat konservasi, Taman Kehati Sawerigading Wallacea juga menjadi wadah edukasi dan rekreasi bagi publik, termasuk pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum. Pengunjung pada hari kerja, Senin hingga Jumat, harus mengajukan izin terlebih dahulu.

Namun, pada Sabtu dan Minggu, taman terbuka untuk umum. Abkar menjelaskan prosedur kunjungannya.

Baca juga: Vale Dukung Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Morowali

“Hari kerja harus izin atau (berkirim) surat ke Departemen Eksternal, sedangkan Sabtu hingga Minggu (fasilitas ini) terbuka untuk umum,” katanya.

Area-area yang bisa didatangi di Taman Kehati Sawerigading Wallaceag antara lain zona nursery (termasuk greenhouse, set area, area transisi, dan open area), arboretum dengan 74 jenis lokal dan endemik, taman buah, taman tambang atau edu-mining, kandang rusa, serta jalur jogging. Taman ini juga direncanakan akan memiliki dome kupu-kupu.

Selain itu, tersedia pula wooden house dan DOJO sebagai pusat pelatihan lingkungan. Semua fasilitas ini dirancang untuk mendukung misi konservasi, edukasi, dan rekreasi yang terintegrasi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
LSM/Figur
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Pemerintah
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
LSM/Figur
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
LSM/Figur
AS Keluar dari UNFCCC, RI Perlu Cari Alternatif Pembiayaan Transisi Energi
AS Keluar dari UNFCCC, RI Perlu Cari Alternatif Pembiayaan Transisi Energi
LSM/Figur
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
Pemerintah
AS Keluar dari 66 Organisasi Internasional, Pakar Sebut Indonesia Cari Alternatif Dana Transisi Energi
AS Keluar dari 66 Organisasi Internasional, Pakar Sebut Indonesia Cari Alternatif Dana Transisi Energi
LSM/Figur
Polutan Ganggu Kesehatan Burung Laut, Ini Dampak Merkuri dan PFAS
Polutan Ganggu Kesehatan Burung Laut, Ini Dampak Merkuri dan PFAS
LSM/Figur
Krisis Iklim Ancam Juhyo, Fenomena Monster Salju di Jepang
Krisis Iklim Ancam Juhyo, Fenomena Monster Salju di Jepang
Pemerintah
Bahaya Bakar Plastik untuk Rumah Tangga, Ahli Jelaskan Dampaknya
Bahaya Bakar Plastik untuk Rumah Tangga, Ahli Jelaskan Dampaknya
LSM/Figur
Pertanian Ancam Ekosistem Terbesar Dunia, 26 Persen Spesies Hilang
Pertanian Ancam Ekosistem Terbesar Dunia, 26 Persen Spesies Hilang
Pemerintah
325.000 Hektare Perairan Wetar Barat Resmi jadi Kawasan Konservasi
325.000 Hektare Perairan Wetar Barat Resmi jadi Kawasan Konservasi
LSM/Figur
AS Keluar dari UNFCCC, PBB Ingatkan Dampak Kebijakan Trump
AS Keluar dari UNFCCC, PBB Ingatkan Dampak Kebijakan Trump
Pemerintah
INDEF: Tanpa Perbaikan Ketenagakerjaan, Program MBG Berisiko Jadi Beban Antar-Generasi
INDEF: Tanpa Perbaikan Ketenagakerjaan, Program MBG Berisiko Jadi Beban Antar-Generasi
LSM/Figur
Fenomena Plastik Berminyak di Pantai, Disebut akibat Minyak Tumpah di Laut
Fenomena Plastik Berminyak di Pantai, Disebut akibat Minyak Tumpah di Laut
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau