“Alga cepat sekali tumbuh dan bisa menutupi karang muda. Jadi, untuk penanaman pertama kali, monitoring dilakukan tiap dua minggu, lalu ke depan minimal sebulan sekali untuk bersih-bersih,” imbuhnya.
Baca juga: Di Konferensi Laut Dunia, Indonesia Janji Lindungi Terumbu Karang dari Krisis Iklim
Sebagai informasi, SDC adalah komunitas diving yang beranggotakan pekerja PT Vale Indonesia dari lintas departemen dan divisi. Selain menyalurkan kecintaannya pada menyelam, para anggotanya juga turut berpartisipasi pada program transplantasi yang diinisiasi perusahaan.
Namun, mengingat penyelaman intensif hanya memungkinkan pada akhir pekan, SDC menggandeng sejumlah komunitas selam lain, kelompok nelayan, serta ke depannya akan melibatkan sekolah-sekolah agar kegiatan monitoring berjalan reguler.
Lebih lanjut, Merrylin mengatakan, nursery atau pembibitan karang di dekat lokasi tanam juga tengah disiapkan.
“Kami pasang pipa paralon putih sebagai ‘park’ bibit. Ke depan, kami tak perlu ambil bibit dari jauh, kami bisa perbanyak dari sini,” katanya.
Baca juga: Pemutihan Massal Ancam 84 Persen Terumbu Karang Dunia
Sebagai informasi, pada fase baseline dan uji coba sebelumnya, jenis karang yang ditransplantasi dominan berasal dari spesies Acropora. Dalam satu tahun periode monitoring, karang tersebut menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik.
Oleh karena itu, dilakukan upaya penambahan jenis karang lainnya untuk meningkatkan keanekaragaman spesies. Namun, fragmen karang yang ditanam pada tahap ini masih berasal dari luar daerah, sebagai bagian dari uji coba dan seleksi spesies yang cocok
Dengan adanya nursery, tim dapat membiakkan bibit sendiri dari indukan yang sudah adaptif sehingga biaya berkurang, rantai pasok lebih pendek, dan tingkat keberhasilan tanam meningkat karena bibit berasal dari perairan yang sama.
Selain itu, pembibitan mandiri juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar karena dapat dibudidayakan dan dipanen secara berkelanjutan. Di pasaran, kata Merrylin, karang hias memiliki nilai tinggi, bahkan berpotensi untuk diekspor.
Baca juga: Peneliti dari Ocean Gardener Temukan Koloni Karang Raksasa di Nusa Penida
“Kalau pembibitan di nursery berjalan, karang bisa dipanen atau diperbanyak setiap enam hingga 12 bulan tergantung jenisnya,” katanya.
Namun, ia menekankan, realisasi tersebut masih lama karena perlu membutuhkan kajian dalam dan aturan ketat agar tidak memicu pengambilan masif dari alam.
Hingga kini sudah terpasang sekitar 90 set spider yang terdiri dari 40 unit awal dan tambahan 50 unit.
“Kami berencana menambah sekitar 50 lagi, tetapi harus bertahap sesuai hasil monitoring. Jangan sampai tidak dapat di monitor dan di pelihara,” ujarnya.
Baca juga: Konservasi Lingkungan Berpotensi Tingkatkan 10 Persen Populasi Ikan di Terumbu Karang
Program transplantasi karang di pesisir Malili yang sudah berjalan sejak 2022, setelah studi dasar (baseline) dilakukan pada 2022, memberikan hasil menggembirakan. Awalnya hanya ditanam karang jenis Acropora sebagai uji coba, lalu diperluas dengan beragam spesies lain pada 2023–2024.
“Dari 1.000 fragmen yang sudah diturunkan, hanya sekitar dua persen yang mati sehingga tingkat kelangsungan hidup mencapai 98 persen. Saat penyelaman terakhir, kami bahkan menemukan hiu. Ini menjadi tanda bahwa ekosistem mulai pulih. Sebab, hiu tidak mungkin datang kalau karangnya rusak,” kata Reza.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya