Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Indonesia Bisa Capai Target Bauran Energi Terbarukan Lebih Cepat, Ini Strateginya

Kompas.com, 9 Oktober 2025, 10:14 WIB
Manda Firmansyah,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Indonesia perlu perencanaan matang dan terstruktur agar bisa mempercepat pencapaian target bauran energi terbarukan. Dengan strategi yang tepat, Indonesia dapat mencapai 100 persen bauran energi terbarukan pada 2050 atau lebih tinggi dari target kebijakan energi nasional (KEN).

Institute for Essential Services Reform (IESR) dan Indonesia Clean Energy Forum (ICEF) merekomendasikan strategi jangka pendek, jangka menengah, serta jangka panjang untuk menggapai target tersebut.

Baca juga: IEA: Kapasitas Energi Terbarukan Global Berlipat Ganda pada 2030

Strategi jangka pendek

Terdapat tiga strategi dalam 1-2 tahun ke depan agar dapat mempercepat pencapaian target bauran energi terbarukan. Pertama, mengintegrasikan program 100 gigawatt (GW) pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan baterai tersebar ke dalam rencana pembangunan ekonomi desa berbasis energi terbarukan. Rencana tersebut perlu dituangkan dalam regulasi yang kuat seperti Keputusan Presiden (Keppres) atau Peraturan Presiden (Perpres).

Kedua, menambah kuota PLTS atap untuk mendorong partisipasi industri, serta komunitas dan masyarakat dalam transisi energi. Ketiga, menerapkan konsep penggunaan bersama jaringan transmisi (PBJT) untuk memperluas akses energi terbarukan bagi industri. Pelaksanaan PBJT akan menciptakan kondisi yang saling menguntungkan bagi pemerintah, industri, masyarakat, dan PLN.

Menurut Chief Executive Officer (CEO) IESR, Fabby Tumiwa, hal tersebut bisa meningkatkan bauran energi terbarukan nasional tanpa membebani APBN. Pelaksanaan PBJT juga menambah pendapatan dan utilisasi jaringan PLN, memperbaiki kualitas suplai listrik masyarakat di sekitar energi terbarukan yang dibangun, serta menjaga daya saing industri seiring menurunnya jejak karbon industri manufaktur.

Di sisi lain, pelaksanaan program 100 GW PLTS berpotensi mengantarkan Indonesia menjadi model penerapan transisi energi bagi negara berkembang yang menumbuhkan industri rantai pasok energi surya dan baterai. Kata dia, pemerintah perlu menetapkan kerangka institusi yang akan menyusun rencana pelaksanaan program 100 GW PLTS secara mendetail.

Jadi, pembagian peran kementerian/lembaga dalam program tersebut harus jelas. Rencana pelaksanaan program 100 GW PLTS perlu memastikan terbentuknya peluang untuk menciptakan permintaan energi surya yang mendorong terbentuknya rantai pasok industri dalam negeri.

"Selain itu perlu ada penyusunan program edukasi dan pelatihan yang menyiapkan tenaga kerja untuk sektor energi surya dan tenaga kerja di sektor yang menjadi motor pertumbuhan ekonomi desa seperti pertanian, perikanan maupun industri kreatif dan UMKM,” ujar Fabby dalam keterangan tertulis, Rabu (8/10/2025).

Baca juga: Eropa Jadi Pasar Paling Menarik untuk Investasi Energi Terbarukan

Strategi jangka menengah

Terdapat enam strategi dalam 3-4 tahun ke depan untuk membangun kondisi yang memungkinkan (enabling condition) percepatan transisi energi memberikan dampak signifikan. Pertama, memperkuat edukasi, partisipasi dan kepercayaan publik untuk mendukung program transisi energi, termasuk program 100 GW PLTS.

Kedua, menyiapkan regulasi untuk proyek energi terbarukan yang layak dan bankable. Desain perizinan dan penyiapan proyek energi terbarukan harus dirancang supaya resiko pengembangan proyek rendah, cost of fund menurun, serta meningkatkan bankability. Ketiga, menyelaraskan instrumen keuangan dan pasar karbon agar sasaran dan peta jalan terarah.

Keempat, untuk mengantisipasi kebutuhan integrasi energi terbarukan, maka perlu perbaikan operasi sistem kelistrikan dan peningkatan kapasitas pemangku kepentingan sektor kelistrikan. Kelima, mengembangkan ekosistem hidrogen hijau dengan bertumpu pada harga listrik yang murah, serta penguasaan dan efisiensi teknologi. Salah satunya melalui pemberian insentif pada sektor prioritas itu untuk menciptakan permintaan hidrogen.

Keenam, mengarusutamakan pengetahuan maupun keterampilan terkait pekerjaan hijau (green jobs) pada sistem pendidikan dan pelatihan. Anggota ICEF, Sripeni Inten Cahyani menggarisbawahi pentingnya peran Bappenas, Kemenaker, serta Kemdiktisaintek dalam identifikasi kebutuhan kompetisi maupun pengarusutamaan pendidikan dan pelatihan di sektor industri yang akan tumbuh dari proses transisi energi.

Strategi jangka panjang

ICEF dan IESR mendesak pemerintah untuk memastikan kepemimpinan dalam proses transisi energi dengan menciptakan landasan legal yang kuat. Ini agar memberikan kepastian dan konsistensi kebijakan transisi energi dalam jangka panjang.

"Dalam periode pemerintahan Presiden Prabowo, perlu dilakukan penyelarasan kebijakan dan perencanaan energi, pembangunan, dan iklim. Beberapa UU terkait transisi energi seperti UU Energi Baru dan Energi Terbarukan, UU Ketenagalistrikan, butuh diakselerasi agar dapat mendukung quick wins dan enabling condition yang sudah dibangun,” ucapnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
AS Bidik Minyak Venezuela, Importir Terbesar Justru Fokus Transisi Energi
AS Bidik Minyak Venezuela, Importir Terbesar Justru Fokus Transisi Energi
Pemerintah
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
LSM/Figur
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Pemerintah
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
LSM/Figur
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
LSM/Figur
AS Keluar dari UNFCCC, RI Perlu Cari Alternatif Pembiayaan Transisi Energi
AS Keluar dari UNFCCC, RI Perlu Cari Alternatif Pembiayaan Transisi Energi
LSM/Figur
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
Pemerintah
AS Keluar dari 66 Organisasi Internasional, Pakar Sebut Indonesia Cari Alternatif Dana Transisi Energi
AS Keluar dari 66 Organisasi Internasional, Pakar Sebut Indonesia Cari Alternatif Dana Transisi Energi
LSM/Figur
Polutan Ganggu Kesehatan Burung Laut, Ini Dampak Merkuri dan PFAS
Polutan Ganggu Kesehatan Burung Laut, Ini Dampak Merkuri dan PFAS
LSM/Figur
Krisis Iklim Ancam Juhyo, Fenomena Monster Salju di Jepang
Krisis Iklim Ancam Juhyo, Fenomena Monster Salju di Jepang
Pemerintah
Bahaya Bakar Plastik untuk Rumah Tangga, Ahli Jelaskan Dampaknya
Bahaya Bakar Plastik untuk Rumah Tangga, Ahli Jelaskan Dampaknya
LSM/Figur
Pertanian Ancam Ekosistem Terbesar Dunia, 26 Persen Spesies Hilang
Pertanian Ancam Ekosistem Terbesar Dunia, 26 Persen Spesies Hilang
Pemerintah
325.000 Hektare Perairan Wetar Barat Resmi jadi Kawasan Konservasi
325.000 Hektare Perairan Wetar Barat Resmi jadi Kawasan Konservasi
LSM/Figur
AS Keluar dari UNFCCC, PBB Ingatkan Dampak Kebijakan Trump
AS Keluar dari UNFCCC, PBB Ingatkan Dampak Kebijakan Trump
Pemerintah
INDEF: Tanpa Perbaikan Ketenagakerjaan, Program MBG Berisiko Jadi Beban Antar-Generasi
INDEF: Tanpa Perbaikan Ketenagakerjaan, Program MBG Berisiko Jadi Beban Antar-Generasi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau