KOMPAS.com – Tak banyak yang menyadari bahwa sebagian sampah plastik dari sungai-sungai di Pulau Jawa bisa “berlayar” hingga ribuan kilometer menembus Samudra Hindia, bahkan mencapai pesisir Afrika Selatan.
Fakta tersebut diungkapkan Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Muhammad Reza Cordova dalam Lokakarya Internasional “Indonesia-Taiwan Collaboration in Scaling Up Marine Plastic Debris Governance in the Indo-Pacific” di Jakarta, Kamis (6/11/2025).
Reza mengatakan, kebocoran sampah plastik dari daratan menuju laut menjadi salah satu tantangan paling serius di Indonesia.
Melalui hasil riset yang dilakukan bersama timnya, ia menggambarkan bagaimana sampah dari sungai seperti Ciliwung, Citarum, dan Cisadane akhirnya terbawa arus hingga perairan lepas.
“Kami menemukan bahwa sebagian plastik dari sungai di Jawa bagian barat dapat bergerak menuju Samudra Hindia, dan bahkan sampai ke perairan Afrika Selatan dalam waktu kurang dari setahun,” ujar Reza, Kamis.
Sebagai informasi, lokakarya tersebut merupakan bagian dari kerja sama Taiwan-Indonesia Center for Humanities (THC) dan Ocean Affairs Council (OAC) Taiwan dalam proyek tata kelola sampah laut di kawasan Indo-Pasifik.
Baca juga: The Habibie Center Gandeng OAC Taiwan Perkuat Tata Kelola Sampah Laut Indo-Pasifik
Acara tersebut melibatkan pembicara dari Indonesia, Jepang, Filipina, dan Taiwan untuk membahas temuan riset serta upaya pengelolaan sampah laut lintas negara.
Reza melanjutkan, penemuan tersebut berasal dari simulasi dan pelacakan berbasis satelit yang dilakukan tim BRIN menggunakan drifter atau pelampung pelacak di muara sungai Cisadane.
Hasilnya menunjukkan, dua dari 11 drifter yang dilepaskan pada 2020 terdeteksi memasuki Samudra Hindia dan terus bergerak ke arah barat.
“Temuan itu membuktikan bahwa sampah yang dibuang di sungai lokal bisa berkontribusi langsung terhadap polusi laut lintas negara,” tambahnya.
Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Muhammad Reza Cordova dalam Lokakarya Internasional ?Indonesia-Taiwan Collaboration in Scaling Up Marine Plastic Debris Governance in the Indo-Pacific? di Jakarta, Kamis (6/11/2025).Reza menjelaskan bahwa 5,6 juta ton plastik diperkirakan terlepas ke lingkungan setiap tahun di Indonesia.
Dari jumlah tersebut, sekitar 77 persen berasal dari praktik pembakaran terbuka (open burning), sedangkan sebagian besar sisanya disebabkan oleh sampah yang tidak terkelola atau tidak terangkut.
Baca juga: Menteri Lingkungan Hidup: Indonesia Negara Penghasil Sampah Laut Kedua di Dunia
“Uncollected waste adalah sumber utama polusi plastik di Indonesia,” kata Reza, mengutip temuan Systemiq (2017).
Penelitiannya menunjukkan bahwa sungai berperan sebagai jalur utama bagi sampah plastik menuju laut.
Sungai-sungai di Jawa, seperti Ciliwung dan Citarum, menjadi contoh bagaimana sampah dari pemukiman padat dapat mengalir hingga ke wilayah pesisir.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya