Dalam studi yang dipublikasikan di Marine Pollution Bulletin (2024) ditemukan pola yang jelas. Semakin buruk sistem pengelolaan sampah di hulu, semakin besar pula beban plastik di hilir sungai dan pesisir.
Citarum, misalnya, menjadi salah satu sungai yang paling tercemar plastik di Indonesia. Selain sampah rumah tangga, limbah tekstil dari industri di sekitarnya turut memperparah polusi.
“Citarum membawa beban plastik yang besar, dan limbah industri memainkan peran signifikan dalam polusi tersebut,” kata Reza.
Baca juga: Peneliti The Habibie Center: Mendadak Merasa Hampa, Seperti Ditinggal Orang Tua Sendiri
Di sisi lain, pesisir Indonesia yang membentang 99.093 kilometer (km) berfungsi seperti “penampung raksasa” dari berbagai sumber sampah.
Riset terbaru menunjukkan bahwa akumulasi plastik di pesisir dan ekosistem mangrove meningkat 41,68 persen dalam enam tahun terakhir.
Dalam kawasan mangrove, tim BRIN mencatat lebih dari 88 persen sampah yang ditemukan adalah plastik, dengan kepadatan rata-rata lebih dari lima item per meter persegi.
Jenis yang paling dominan, antara lain styrofoam, kemasan makanan sekali pakai, dan kantong plastik.
Masalah plastik tidak berhenti di sampah makro. Reza menyoroti bahwa mikroplastik dan nanoplastik kini telah menjadi ancaman baru bagi ekosistem laut Indonesia.
Fragmen-fragmen kecil itu telah ditemukan di perairan permukaan, sedimen laut, hingga organisme laut seperti ikan dan burung.
Baca juga: KLH Tempatkan Tim Khusus Tangani Sampah Laut di Bali
“Plastik tidak hancur, mereka terpecah menjadi bagian-bagian kecil. Itulah yang membuatnya berbahaya,” tegas Reza.
Hingga pertengahan 2024, telah tercatat sekitar 200 publikasi ilmiah terkait mikroplastik di Indonesia, sebagian besar berasal dari studi mahasiswa pascasarjana dan lembaga riset nasional.
Temuan tersebut mengonfirmasi bahwa wilayah dengan populasi padat seperti Jawa memiliki konsentrasi mikroplastik tertinggi di Asia Tenggara.
Namun di balik persoalan itu, Reza juga menyoroti adanya peluang dari sektor industri daur ulang plastik di Indonesia.
Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, terdapat 128 industri daur ulang di Indonesia, dengan 72 persen di antaranya berlokasi di Pulau Jawa.
“Produksi daur ulang nasional baru mencapai sekitar 49,5 persen dari total kapasitas industri. Artinya, masih ada ruang besar untuk ekspansi,” jelasnya.
Baca juga: BRIN Kembangkan Kapal Pengangkut Sampah Laut
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya