Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bukan Cuma Beri Peringatan, Taiwan Tetapkan Panas Ekstrem sebagai Bencana Alam

Kompas.com, 10 November 2025, 18:32 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Taiwan sedang mengambil tindakan hukum dan administrasi yang serius terhadap ancaman gelombang panas.

Langkah itu dilakukan dengan mengklasifikasikan panas ekstrem sebagai peristiwa cuaca tingkat bencana sebagai respons terhadap gelombang panas yang makin intensif.

Dengan pengklasifikasian ini, pemerintah Taiwan dapat mengaktifkan mekanisme dan sumber daya darurat yang biasanya disediakan untuk gempa bumi atau topan.

Termasuk juga dimungkinkannya bagi kebijakan resmi 'cuti suhu tinggi' karena Taiwan bakal menghadapi cuaca ekstrem yang lebih sering dan berkepanjangan.

Melansir Eco Business, Rabu (5/11/2025) Badan Meteorologi Pusat Taiwan (CWA), mengatakan bahwa ibu kota Taiwan, Taipei, kini mengalami lebih dari 70 hari dalam setahun dengan suhu di atas 35 derajat C.

Untuk mengatasi meningkatnya risiko terkait panas, badan tersebut berencana untuk mengubah Undang-Undang Meteorologi agar suhu tinggi masuk ke dalam definisi hukum cuaca berbahaya, sehingga memberikan dasar hukum bagi penangguhan kerja dan sekolah terkait panas di masa mendatang setelah standar ditetapkan.

Baca juga: Gunakan AI, Kerugian Infrastruktur karena Bencana Alam Bisa Berkurang 15 Persen

Laporan "State of the Climate in Asia 2024" dari Organisasi Meteorologi Dunia, menyebut kawasan tersebut menghangat sekitar 1,04 derajat C di atas garis dasar tahun 1991 hingga 2020, hampir dua kali lipat laju pemanasan rata-rata global.

Direktur Jenderal CWA, Lu Kuo-chen, mengatakan pada 3 November bahwa rancangan amandemen diperkirakan akan diumumkan akhir bulan ini dan dapat disahkan paling cepat tahun depan.

"Kami berharap dapat segera menerapkannya setelah amandemen disetujui," kata Lu.

“Peristiwa panas ekstrem semakin sering terjadi, dan Taiwan tidak terkecuali,” katanya lagi.

Ia menekankan bahwa mengakui panas sebagai bentuk bencana cuaca hanya langkah pertama.

Lu menambahkan bahwa depresi tropis, yang dikenal sebagai pemicu banjir besar seperti banjir bandang dahsyat tahun 2018 di Taiwan selatan, mungkin juga akan ditambahkan ke kategori yang sama.

Selain itu, lembaga pemerintah dan industri juga harus menyiapkan rencana adaptasi, karena dampak panas ekstrem bervariasi di berbagai sektor. Mulai dari petani dan nelayan hingga pekerja konstruksi dan pelajar.

Lebih lanjut, jika amandemen ini disahkan, CWA akan mendapatkan wewenang untuk mengeluarkan peringatan suhu tinggi yang lebih lokal, melampaui peringatan yang berlaku saat ini di seluruh wilayah.

Badan tersebut mengatakan bahwa mereka bertujuan untuk memberikan prakiraan yang lebih terperinci di masa mendatang, berpotensi hingga ke tingkat kota atau distrik.

Dengan begitu bisnis dapat menghadapi gangguan jangka pendek ketika peringatan suhu tinggi memicu penangguhan kerja, terutama di bidang konstruksi, logistik, dan manufaktur.

Namun, aturan yang lebih jelas juga dapat membantu perusahaan merencanakan jadwal dan melindungi pekerja secara lebih efektif, sehingga mengurangi risiko liabilitas.

Di pasar seperti Hong Kong, perdagangan saham terkadang dihentikan selama peringatan cuaca buruk, yang menunjukkan bahwa penutupan terkait cuaca juga dapat berdampak pada sistem keuangan.

Namun CWA sendiri belum menetapkan standar suhu yang dianggap bencana.

Berdasarkan pedoman internal saat ini, peringatan kuning dikeluarkan untuk suhu di atas 36 derajat C, oranye untuk di atas 38 derajat C atau tiga hari berturut-turut di atas 36 derajat C, dan merah ketika suhu melebihi 38 derajat C selama tiga hari berturut-turut.

Baca juga: Musim Panas Ekstrem di Eropa Sebabkan Kerugian 43 Miliar Euro

Langkah Taiwan ini mencerminkan tren yang berkembang di seluruh Asia, di mana pemerintah dan otoritas lokal sedang mengembangkan kerangka kerja formal untuk mengelola lonjakan suhu dan melindungi kelompok rentan.

Misalnya di Jepang. Tahun ini, pihak berwenang meluncurkan sistem baru bernama 'Peringatan Khusus Serangan Panas' yang memberi peringatan bahaya gelombang panas yang dapat menyebabkan kondisi medis serius yakni heatstroke.

Sistem tersebut beroperasi selama tujuh bulan, dari April hingga Oktober.

Perusahaan-perusahaan Jepang telah mulai menerapkan siklus kerja-istirahat di luar ruangan yang lebih ketat dan jadwal shift untuk melindungi pekerja dari sengatan panas.

Sementara India telah meluncurkan "Rencana Aksi Panas" yang mencakup ambang batas peringatan dini, kesiapsiagaan rumah sakit, dan kampanye kesadaran masyarakat.

Terlepas dari upaya tersebut, para analisis memperingatkan masih banyak kota yang bergantung pada solusi jangka pendek dan kekurangan pendanaan serta infrastruktur berkelanjutan untuk melindungi populasi besar yang rentan.

Baca juga: Kata Walhi, RI dan Brasil Kontraproduktif Atasi Krisis Iklim jika Transisi Energi Andalkan Lahan

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau