Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kelaparan Global Bisa Diatasi dengan Kurang dari 1 Persen Anggaran Militer

Kompas.com, 20 November 2025, 17:31 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Program Pangan Dunia PBB (WFP) mengungkapkan untuk mengakhiri kelaparan pada tahun 2030 hanya memerlukan biaya 93 miliar dolar AS per tahun.

Angka tersebut kurang dari satu persen yang dihabiskan untuk anggaran militer selama satu dekade terakhir yang jumlahnya mencapai 21,9 triliun dolar AS.

Laporan Global Outlook tahun 2026 yang dirilis organisasi PBB tersebut juga memperkirakan 318 juta orang akan menghadapi tingkat kelaparan pada tingkat krisis atau lebih buruk pada 2026.

Jumlah tersebut dua kali lipat dari angka yang tercatat pada 2019.

WFP menyebut hal itu terjadi karena dukungan internasional untuk orang-orang paling lapar di dunia berjalan lambat, terfragmentasi, dan kekurangan dana.

Baca juga: Laut Kunci Atasi Krisis Pangan Dunia, tapi Indonesia Tak Serius Menjaga

Artinya, banyak orang yang tinggal di lokasi bermasalah di dunia seperti dilanda konflik, krisis iklim, kemungkinan besar tidak akan dapat menerima bantuan yang memadai tahun depan.

“Kaum termiskin membayar harga tertinggi,” kata Amina Mohammed, Wakil Sekretaris Jenderal PBB.

Ketika bangsa, organisasi, atau individu yang kuat, terlibat dalam konflik, pihak yang lemah atau tidak bersalah yang menanggung beban penderitaan yang paling berat.

Seperti yang terjadi pada warga sipil tak berdosa di Sudan, Gaza, Haiti, Yaman, Sahel, Republik Demokratik Kongo, dan banyak tempat lainnya.

Keluarga-keluarga di tempat tersebut harus menanggung dampak untuk perang yang tidak mereka mulai dan untuk keputusan yang dibuat di ruangan-ruangan di mana suara mereka tidak pernah didengar.

Melansir laman resmi United Nations, Selasa (18/11/2025) dalam hal ini WFP menjadi garda depan untuk memberikan bantuan vital bagi orang-orang di garis depan konflik dan bencana serta mereka yang terpaksa meninggalkan rumahnya.

Baca juga: Intervensi Pangan Berkelanjutan Perlu Libatkan Anak dan Remaja

Tetapi kini, menurut Direktur Eksekutif WFP Cindy McCain, organisasi ini juga menggeser fokus menuju investasi strategis dan solusi berkelanjutan untuk secara fundamental mengakhiri kerawanan pangan, bukan hanya mengobati gejalanya.

Pada tahun 2026, badan tersebut berencana untuk membantu 110 juta orang rentan dengan perkiraan biaya sebesar 13 miliar dolar AS yang meliputi penyediaan makanan darurat, dukungan gizi, program ketahanan masyarakat, dan bantuan teknis untuk memperkuat sistem nasional.

McCain menambahkan di seluruh dunia, kelaparan makin kerap terjadi.

"Solusi dini, efektif, dan inovatif dapat menyelamatkan nyawa dan mengubah kehidupan tetapi kami sangat membutuhkan lebih banyak dukungan untuk melanjutkan pekerjaan penting ini,” katanya.

Termasuk di antaranya berinvestasi dalam adaptasi iklim, mendorong perdamaian, dan mendukung pasar lokal, sekaligus memastikan perempuan dan kaum muda memiliki rasa kepemilikan dan kekuatan dalam pengambilan keputusan.

Itu semua merupakan beberapa prioritas utama yang krusial untuk mengakhiri kelaparan dunia.

Baca juga: Sinergi Pangan dan Energi Masa Depan

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BMKG Prediksi Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Produksi Sawit Bisa Tertekan
BMKG Prediksi Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Produksi Sawit Bisa Tertekan
LSM/Figur
ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
Pemerintah
Raja Juli Temui Tiga Menteri Jepang, Bahas Investasi Karbon hingga Komodo
Raja Juli Temui Tiga Menteri Jepang, Bahas Investasi Karbon hingga Komodo
Pemerintah
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
Pemerintah
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
LSM/Figur
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
LSM/Figur
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau