“Dalam situasi ekonomi yang penuh tantangan di kawasan ini, para pelaku bisnis bergerak lebih awal memanfaatkan digitalisasi dan AI untuk meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi risiko, dan menciptakan nilai jangka panjang," papar Martin.
Di sisi lain, survei ini juga menunjukkan adanya Green Impact Gap yakni kesenjangan antara target keberlanjutan dan aksi nyata untuk mencapainya.
Tahun ini, 97 persen perusahaan di Indonesia memiliki target keberlanjutan meski kurang dari separuh yang mengambil langkah nyata untuk mencapainya. Akan tetapi, 89 persen perusahaan yakin bisa mencapai target iklim di 2030.
Memasuki tahun ketiga, survei Schneider Electric Green Impact Gap dilakukan terhadap 4.500 pemimpin bisnis di sembilan negara di Asia yakni Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Filipina, Singapura, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.
Survei dilakukan bersama mitra Milieu Insight dan menargetkan eksekutif tingkat menengah hingga senior di sektor swasta. Para responden menjawab 30 pertanyaan mengenai prioritas keberlanjutan dan dampaknya terhadap bisnis mereka.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya