Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Survei: 32 Persen CEO Indonesia Klaim Perusahaannya Terapkan Keberlanjutan

Kompas.com, 29 November 2025, 20:20 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Survei Schneider Electric mengungkapkan bahwa 32 persen pemimpin atau CEO perusahaan mengakui perusahaannya menerapkan agenda keberlanjutan. Angka ini naik dari yang sebelumnya 23 persen pada 2023 ketika survei pertama kali digelar.

Sementara, 43 persen CEO menyatakan keberlanjutan meningkatkan citra dan reputasi perusahaan dan 49 persen memprioritaskan agenda keberlanjutan untuk mendorong efisiensi biaya.

"Sebanyak 51 persen CEO juga menilai keberlanjutan dapat menciptakan peluang bisnis, hal tersebut konsisten dengan hasil di tahun 2023. Angka ini menunjukkan perubahan pandangan bahwa keberlanjutan kini bukan lagi sebagai agenda pelengkap, melainkan bagian inti dari strategi bisnis untuk menghadapi dinamika pasar," kata Schneider Electric, Sabtu (29/11/2025).

Baca juga: Survei Deloitte: Eksekutif Terus Berinvestasi dalam Keberlanjutan

Survei menunjukkan, ketidakpastian ekonomi, regulasi, dan kebijakan masih menjadi penghambat utama investasi keberlanjutan di Indonesia. Hambatan seperti minimnya insentif (turun menjadi 33 persen), kurangnya data pasar (turun menjadi 21 persen), serta hambatan birokrasi (turun menjadi 36 persen), sejak 2023.

Kondisi tersebut menandakan iklim investasi keberlanjutan di Indonesia makin kondusif bagi pelaku usaha. Di sisi lain, kecerdasan buatan atau artificial intellgence (AI) dinilai membantu perusahaan mengelola risiko finansial maupun konsumsi energi.

Tercatat, 37 persen perusahaan menggunakan AI guna mengoptimalkan proses dan pemanfaatan sumber daya, menjadikannya teknologi digital yang paling banyak diterapkan untuk keberlanjutan. Angka tersebut melonjak signifikan dari 2024.

Banyak perusahaan memanfaatkan AI untuk keberlanjutan terletak pada otomatisasi pengumpulan dan pelaporan data (49 persen), optimasi konsumsi energi (43 persen), serta dukungan untuk desain dan pengembangan produk (47 persen).

"Pemanfaatan AI untuk optimasi energi ini secara langsung menjawab risiko energi yang terus berulang, di mana hampir 45 persen perusahaan di Indonesia masih menyebut bahwa fluktuasi harga energi sebagai risiko utama," jelas Schneider.

Baca juga: Konsumen dan Investor akan Semakin Kritis terhadap Sustainability Washing

Hasil survei juga melaporkan 51 persen responden menyebutkan inovasi dan daya saing sebagai pendorong utama agenda keberlanjutan, naik dari tahun sebelumnya yakni 48 persen.

Selain itu, 65 persen CEO menyatakan investasi pada inovasi dan teknologi menjadi kebutuhan mendesak untuk menghadapi lonjakan permintaan daya komputasi, sekaligus memastikan operasional yang lebih efisien serta rendah emisi.

“Perusahaan di Indonesia menjadikan keberlanjutan sebagai langkah strategis untuk terus bertumbuh di tengah situasi bisnis yang penuh dinamika,” kata President Director Schneider Electric Indonesia & Timor Leste, Martin Setiawan.

Kebijakan Hijau Perusahaan

Dalam surveinya, Schneider membeberkan 37 persen pemimpin bisnis di Indonesia telah menerapkan kebijakan green IT untuk menurunkan jejak karbon dari proses komputasi dan penyimpanan data.

Pada saat yang sama, hambatan dekarbonisasi terus menurun termasuk berkurangnya laporan mengenai minimnya alternatif energi bersih, kurangnya sumber daya pendukung, imaturitas teknologi energi bersih, maupun hambatan regulasi.

Dengan semakin jelasnya kontribusi keberlanjutan terhadap kinerja bisnis, rencana investasi perusahaan Indonesia tetap stabil, dengan 40 persen di antaranya berencana mengalokasikan sedikitnya 1 juta dollar AS untuk inisiatif keberlanjutan dalam dua tahun ke depan.

Kendati begitu, masih ada tantangan terkait investasi berupa ketidakpastian ekonmomi, kebijakan, regulasi, hingga ketidakstabilan geopolitik.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
LSM/Figur
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Swasta
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Pemerintah
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Pemerintah
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Pemerintah
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
Pemerintah
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Pemerintah
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
LSM/Figur
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau