Penulis
BALI, KOMPAS.com - Ada beberapa lokasi ekosistem mangrove di Bali, salah satunya di Pulau Serangan yang masuk kawasan Tahura Ngurah Rai. Pulau ini bisa dicapai dengan transportasi darat, melewati Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung.
"(area mangrove di) Tahura itu yang terbesar sekitar, mereka punya sekitar 56 persen-an kawasan Mangrove di Bali. Sisanya itu ada di Perancak, Budeng, terus habis itu ada di area Lembongan, ada yang di Bali Utara," jelas Ayu, pemandu Kompas.com sekaligus anggota dari Bendega, startup yang fokus pada peningkatan dan pemanfaatan ekosistem mangrove, Jumat (5/12/2025).
Baca juga:
Bersama tim dari CAST Foundation, kami berangkat dari Dermaga Serangan yang sudah modern, dilengkapi alat pemindaian tiket otomatis dan jalan bersemen yang memadai.
Namun, pemandangannya yang ditawarkan bukanlah langsung tanaman mangrove, melainkan puluhan perahu yang disebut-sebut ditinggalkan pemiliknya saat Covid-19 lalu.
Rumpon tanaman mangrove di Pulau Serangan, Bali, pada Jumat (5/12/2025).Menumpangi kapal mesin beratap, kami menjelajahi beberapa area mangrove yang luasnya sekitar 1.185 hektar ini hingga sampai di titik rumpon yang dilindungi jaring hitam.
Air saat itu sedang pasang sehingga ada beberapa tanaman mangrove kecil yang tenggelam, hanya terlihat puncak daunnya.
Ayu menjelaskan, jenis tanaman mangrove di Pulau Serangan ini cukup beragam yaitu Rhizopora yang paling banyak, disusul Sonneratia, Bruguiera, dan Xylocarpus rumphii.
"Di sini juga ada satu spesies yang unik, maksudnya rare (langka) gitu. Ada Xylocarpus rumphii namanya," ucap Ayu.
Sonneratia, lanjut dia, merupakan tanaman mangrove pionir atau yang paling awal di tahura tersebut.
Salah satu tanaman mangrove di Pulau Serangan, Bali, Jumat (5/12/2025).Butuh waktu bertahun-tahun lamanya agar tanaman mangrove bisa tumbuh maksimal, bahkan ada yang lebih dari 10 sampai 15 tahun.
Beberapa jenis mangrove juga memerlukan kondisi khusus agar tumbuh dengan baik. Menanam Sonneratia, misalnya, tak semudah menancapkan propagul (mangrove yang sudah berkecambah) ke dalam lahan lalu menunggunya tumbuh.
Sonneratia harus mencapai umur tertentu agar bisa ditanam. Selain itu, jenis mangrove ini harus ditanam di tempat yang lebih tinggi agar tidak terkena air terlalu banyak karena tanaman ini memerlukan sinar matahari untuk berfotosintesis.
Dahulu, menurut Ayu, kayu mangrove banyak digunakan sebagai bahan bangunan. Bahkan, beredar anggapan makanan yang dimasak menggunakan arang dari kayu mangrove lebih sedap dari makanan lainnya. Namun, kegiatan tersebut sudah dihentikan.
Saat ini, mangrove bisa dimanfaatkan dengan cara lain. Contohnya, buah mangrove diolah menjadi tepung untuk lantas dibuat menjadi camilan, termasuk brownies.
Baca juga:
Beberapa sampah plastik tersangkut di tanaman mangrove di Pulau Serangan, Bali, pada Jumat (5/12/2025).Area mangrove di Pulau Serangan tak lepas dari ancaman, apalagi lokasinya dekat dengan TPA Suwung. Dari Dermaga Sarangan, misalnya, jaraknya hanya sekitar empat kilometer.
Dari beberapa titik, Kompas.com bisa melihat puncak gunung sampah yang diselingi kendaraan pengeruk yang bergerak. Bahkan, saat keluar dari Dermaga Serangan, tampak antrean truk pengangkut sampah yang mengular.
Sampah, apalagi sampah plastik, bisa mengganggu pertumbuhan tanaman mangrove karena kerap tersangkut di akar atau bagian lainnya.
Ancaman lainnya bagi mangrove adalah sedimentasi. Bila teksturnya padat dan menumpuk di daun mangrove, tanaman tersebut tak akan bisa berfotosintesis.
Alga, salah satu faktor yang menghambat pertumbuhan tanaman mangrove di Pulau Serangan, Bali. Foto ini diambil pada Jumat (5/12/2025)."Sonneratia itu punya akar yang timbul. Nah, akarnya punya fungsi ekologisnya sendiri untuk menyokong si mangrove itu. Ketika tertutup sedimentasi, itu (akar) enggak bakal kuat," jelas Ayu.
Selanjutnya, alih fungsi lahan dan alga juga termasuk ancaman bagi mangrove di Pulau Serangan. Untuk alga, bentuknya hijau bergelombang dan biasanya mengambang di perairan.
"Mereka (alga) akan nempel di bibit (mangrove) itu. Enggak bisa fotosintesis jadinya," tutur Ayu.
Baca juga:
Puncak TPA Suwung Bali dilihat dari area mangrove di Serangan, Jumat (5/12/2025).
Mangrove, menurut Ayu, menjaga daratan dari lautan, sekaligus menjaga lautan dari daratan.
"Kita punya tiga ekosistem besar di laut: Ekosistem mangrove, lamun, dan juga terumbu karang. Semisal enggak ada mangrove, sedimentasinya pasti akan hanyut ke laut dan lalu akan memengaruhi lamun dan terumbu karang
Tidak hanya itu, mangrove juga "menyaring" sampah-sampah manusia agar tidak lepas ke lautan melalui akar-akarnya.
Sebaliknya, mangrove melindungi daratan dari bahaya abrasi akibat laut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya