Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jelajah Mangrove di Pulau Serangan Bali, Terancam Sampah dan Sedimentasi

Kompas.com, 10 Desember 2025, 10:35 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

BALI, KOMPAS.com - Ada beberapa lokasi ekosistem mangrove di Bali, salah satunya di Pulau Serangan yang masuk kawasan Tahura Ngurah Rai. Pulau ini bisa dicapai dengan transportasi darat, melewati Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung.

"(area mangrove di) Tahura itu yang terbesar sekitar, mereka punya sekitar 56 persen-an kawasan Mangrove di Bali. Sisanya itu ada di Perancak, Budeng, terus habis itu ada di area Lembongan, ada yang di Bali Utara," jelas Ayu, pemandu Kompas.com sekaligus anggota dari Bendega, startup yang fokus pada peningkatan dan pemanfaatan ekosistem mangrove, Jumat (5/12/2025).

Baca juga:

Bersama tim dari CAST Foundation, kami berangkat dari Dermaga Serangan yang sudah modern, dilengkapi alat pemindaian tiket otomatis dan jalan bersemen yang memadai.

Namun, pemandangannya yang ditawarkan bukanlah langsung tanaman mangrove, melainkan puluhan perahu yang disebut-sebut ditinggalkan pemiliknya saat Covid-19 lalu. 

Kondisi ekosistem mangrove Pulau Serangan, Bali saat ini

Rumpon tanaman mangrove di Pulau Serangan, Bali, pada Jumat (5/12/2025).KOMPAS.com/Ni Nyoman Wira Rumpon tanaman mangrove di Pulau Serangan, Bali, pada Jumat (5/12/2025).

Menumpangi kapal mesin beratap, kami menjelajahi beberapa area mangrove yang luasnya sekitar 1.185 hektar ini hingga sampai di titik rumpon yang dilindungi jaring hitam.

Air saat itu sedang pasang sehingga ada beberapa tanaman mangrove kecil yang tenggelam, hanya terlihat puncak daunnya.

Ayu menjelaskan, jenis tanaman mangrove di Pulau Serangan ini cukup beragam yaitu Rhizopora yang paling banyak, disusul Sonneratia, Bruguiera, dan Xylocarpus rumphii.

"Di sini juga ada satu spesies yang unik, maksudnya rare (langka) gitu. Ada Xylocarpus rumphii namanya," ucap Ayu. 

Sonneratia, lanjut dia, merupakan tanaman mangrove pionir atau yang paling awal di tahura tersebut. 

Salah satu tanaman mangrove di Pulau Serangan, Bali, Jumat (5/12/2025).KOMPAS.com/Ni Nyoman Wira Salah satu tanaman mangrove di Pulau Serangan, Bali, Jumat (5/12/2025).

Butuh waktu bertahun-tahun lamanya agar tanaman mangrove bisa tumbuh maksimal, bahkan ada yang lebih dari 10 sampai 15 tahun. 

Beberapa jenis mangrove juga memerlukan kondisi khusus agar tumbuh dengan baik. Menanam Sonneratia, misalnya, tak semudah menancapkan propagul (mangrove yang sudah berkecambah) ke dalam lahan lalu menunggunya tumbuh.

Sonneratia harus mencapai umur tertentu agar bisa ditanam. Selain itu, jenis mangrove ini harus ditanam di tempat yang lebih tinggi agar tidak terkena air terlalu banyak karena tanaman ini memerlukan sinar matahari untuk berfotosintesis.

Dahulu, menurut Ayu, kayu mangrove banyak digunakan sebagai bahan bangunan. Bahkan, beredar anggapan makanan yang dimasak menggunakan arang dari kayu mangrove lebih sedap dari makanan lainnya. Namun, kegiatan tersebut sudah dihentikan.

Saat ini, mangrove bisa dimanfaatkan dengan cara lain. Contohnya, buah mangrove diolah menjadi tepung untuk lantas dibuat menjadi camilan, termasuk brownies. 

Baca juga:

Sampah dan sedimentasi, ancaman mangrove di Serangan

Beberapa sampah plastik tersangkut di tanaman mangrove di Pulau Serangan, Bali, pada Jumat (5/12/2025).KOMPAS.com/Ni Nyoman Wira Beberapa sampah plastik tersangkut di tanaman mangrove di Pulau Serangan, Bali, pada Jumat (5/12/2025).

Area mangrove di Pulau Serangan tak lepas dari ancaman, apalagi lokasinya dekat dengan TPA Suwung. Dari Dermaga Sarangan, misalnya, jaraknya hanya sekitar empat kilometer. 

Dari beberapa titik, Kompas.com bisa melihat puncak gunung sampah yang diselingi kendaraan pengeruk yang bergerak. Bahkan, saat keluar dari Dermaga Serangan, tampak antrean truk pengangkut sampah yang mengular. 

Sampah, apalagi sampah plastik, bisa mengganggu pertumbuhan tanaman mangrove karena kerap tersangkut di akar atau bagian lainnya.

Ancaman lainnya bagi mangrove adalah sedimentasi. Bila teksturnya padat dan menumpuk di daun mangrove, tanaman tersebut tak akan bisa berfotosintesis. 

Alga, salah satu faktor yang menghambat pertumbuhan tanaman mangrove di Pulau Serangan, Bali. Foto ini diambil pada Jumat (5/12/2025).KOMPAS.com/Ni Nyoman Wira Alga, salah satu faktor yang menghambat pertumbuhan tanaman mangrove di Pulau Serangan, Bali. Foto ini diambil pada Jumat (5/12/2025).

"Sonneratia itu punya akar yang timbul. Nah, akarnya punya fungsi ekologisnya sendiri untuk menyokong si mangrove itu. Ketika tertutup sedimentasi, itu (akar) enggak bakal kuat," jelas Ayu. 

Selanjutnya, alih fungsi lahan dan alga juga termasuk ancaman bagi mangrove di Pulau Serangan. Untuk alga, bentuknya hijau bergelombang dan biasanya mengambang di perairan.

"Mereka (alga) akan nempel di bibit (mangrove) itu. Enggak bisa fotosintesis jadinya," tutur Ayu. 

Baca juga:

Puncak TPA Suwung Bali dilihat dari area mangrove di Serangan, Jumat (5/12/2025).KOMPAS.com/Ni Nyoman Wira Puncak TPA Suwung Bali dilihat dari area mangrove di Serangan, Jumat (5/12/2025).

Mangrove, menurut Ayu, menjaga daratan dari lautan, sekaligus menjaga lautan dari daratan.

"Kita punya tiga ekosistem besar di laut: Ekosistem mangrove, lamun, dan juga terumbu karang. Semisal enggak ada mangrove, sedimentasinya pasti akan hanyut ke laut dan lalu akan memengaruhi lamun dan terumbu karang

Tidak hanya itu, mangrove juga "menyaring" sampah-sampah manusia agar tidak lepas ke lautan melalui akar-akarnya. 

Sebaliknya, mangrove melindungi daratan dari bahaya abrasi akibat laut. 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
LSM/Figur
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Swasta
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau