KOMPAS.com-Perubahan iklim telah membentuk kembali tempat dan cara orang hidup, dari desa pertanian hingga kota-kota pesisir.
Hal terungkap dalam penelitian yang dipimpin oleh Profesor François Gemenne, salah satu spesialis terkemuka Eropa tentang migrasi iklim.
Penelitian internasional selama empat tahun bernama HABITABLE tersebut menggabungkan survei rumah tangga, wawancara, dan kelompok fokus dengan diskusi para ahli untuk memahami bagaimana orang memandang dan merespons risiko iklim.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa kesadaran akan migrasi terkait iklim semakin meningkat.
"Migrasi karena iklim bukan hanya dipandang sebagai masalah yang memengaruhi pulau-pulau kecil, banyak orang Eropa sekarang menganggap diri mereka juga berisiko," kata Gemenne, dikutip dari Phys, Kamis (18/12/2025).
Baca juga: AI Bisa Prediksi Kemungkinan Migrasi yang Disebabkan Iklim
Misalnya, dalam survei Obs'COP yang merupakan survei opini iklim internasional tahunan, ditemukan bahwa lebih dari 1 dari 5 orang Prancis berpikir mereka mungkin harus meninggalkan rumah mereka dalam dekade berikutnya karena perubahan iklim.
Namun keputusan untuk pindah atau tetap tinggal seringkali lebih kompleks.
Sebelumnya, sebagian besar model migrasi iklim fokus pada ambang batas fisik seperti kenaikan suhu tau permukaan laut untuk memprediksi migrasi.
Namun, dalam studi baru, peneliti HABITABLE memperkenalkan konsep baru yang disebut titik kritis sosial, momen ketika keputusan beberapa rumah tangga memicu pergerakan komunitas yang lebih luas.
Contohnya begini, ketika terjadi kegagalan panen berulang atau banjir, beberapa keluarga mungkin memutuskan untuk pergi. Kepergian mereka dapat mendorong tetangga untuk mengikuti, berpotensi mendorong seluruh desa menuju tingkat migrasi yang lebih tinggi.
Gemenne pun menekankan orang-orang merespons tekanan iklim secara sangat berbeda tergantung pada ketahanan ekonomi, sosial, atau bahkan psikologis mereka.
Seperti yang terjadi di Asia Tenggara saat tim HABITABLE mempelajari komunitas di sepanjang sungai Mekong di Thailand.
Baca juga: Bencana Makin Parah, Kebijakan Energi Indonesia Dinilai Tak Menjawab Krisis Iklim
Penelitian menunjukkan tekanan yang lebih luas seperti utang, penurunan stok ikan dan keterbatasan mata pencaharian, terutama bagi perempuan seringkali lebih memengaruhi keputusan migrasi daripada faktor iklim saja.
“Memahami faktor-faktor tersebut dapat menjelaskan mengapa peristiwa serupa menghasilkan hasil migrasi yang berbeda di tempat yang berbeda,” kata Gemenne.
Sara Vigil, peneliti senior di Stockholm Environment Institute di Bangkok menambahkan penelitian ini memperluas gambaran dari sekedar mengidentifikasi siapa yang rentan menjadi mempertanyakan mengapa orang dan tempat tertentu menjadi lebih rentan karena perubahan iklim.
"Dampak perubahan iklim terhadap migrasi dibentuk oleh ketidak setaraan struktural yang lebih dalam, termasuk peran gender, akses yang tidak merata terhadap sumber daya dan hierarki sosial yang mengakar," katanya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya