Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Peneliti Ungkap Krisis Iklim Tentukan Nasib Tempat Tinggal Kita

Kompas.com, 27 Desember 2025, 15:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com-Perubahan iklim telah membentuk kembali tempat dan cara orang hidup, dari desa pertanian hingga kota-kota pesisir.

Hal terungkap dalam penelitian yang dipimpin oleh Profesor François Gemenne, salah satu spesialis terkemuka Eropa tentang migrasi iklim.

Penelitian internasional selama empat tahun bernama HABITABLE tersebut menggabungkan survei rumah tangga, wawancara, dan kelompok fokus dengan diskusi para ahli untuk memahami bagaimana orang memandang dan merespons risiko iklim.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa kesadaran akan migrasi terkait iklim semakin meningkat.

"Migrasi karena iklim bukan hanya dipandang sebagai masalah yang memengaruhi pulau-pulau kecil, banyak orang Eropa sekarang menganggap diri mereka juga berisiko," kata Gemenne, dikutip dari Phys, Kamis (18/12/2025).

Baca juga: AI Bisa Prediksi Kemungkinan Migrasi yang Disebabkan Iklim

Misalnya, dalam survei Obs'COP yang merupakan survei opini iklim internasional tahunan, ditemukan bahwa lebih dari 1 dari 5 orang Prancis berpikir mereka mungkin harus meninggalkan rumah mereka dalam dekade berikutnya karena perubahan iklim.

Namun keputusan untuk pindah atau tetap tinggal seringkali lebih kompleks.

Konsep baru dalam prediksi migrasi

Sebelumnya, sebagian besar model migrasi iklim fokus pada ambang batas fisik seperti kenaikan suhu tau permukaan laut untuk memprediksi migrasi.

Namun, dalam studi baru, peneliti HABITABLE memperkenalkan konsep baru yang disebut titik kritis sosial, momen ketika keputusan beberapa rumah tangga memicu pergerakan komunitas yang lebih luas.

Contohnya begini, ketika terjadi kegagalan panen berulang atau banjir, beberapa keluarga mungkin memutuskan untuk pergi. Kepergian mereka dapat mendorong tetangga untuk mengikuti, berpotensi mendorong seluruh desa menuju tingkat migrasi yang lebih tinggi.

Gemenne pun menekankan orang-orang merespons tekanan iklim secara sangat berbeda tergantung pada ketahanan ekonomi, sosial, atau bahkan psikologis mereka.

Seperti yang terjadi di Asia Tenggara saat tim HABITABLE mempelajari komunitas di sepanjang sungai Mekong di Thailand.

Baca juga: Bencana Makin Parah, Kebijakan Energi Indonesia Dinilai Tak Menjawab Krisis Iklim

Penelitian menunjukkan tekanan yang lebih luas seperti utang, penurunan stok ikan dan keterbatasan mata pencaharian, terutama bagi perempuan seringkali lebih memengaruhi keputusan migrasi daripada faktor iklim saja.

“Memahami faktor-faktor tersebut dapat menjelaskan mengapa peristiwa serupa menghasilkan hasil migrasi yang berbeda di tempat yang berbeda,” kata Gemenne.

Sara Vigil, peneliti senior di Stockholm Environment Institute di Bangkok menambahkan penelitian ini memperluas gambaran dari sekedar mengidentifikasi siapa yang rentan menjadi mempertanyakan mengapa orang dan tempat tertentu menjadi lebih rentan karena perubahan iklim.

"Dampak perubahan iklim terhadap migrasi dibentuk oleh ketidak setaraan struktural yang lebih dalam, termasuk peran gender, akses yang tidak merata terhadap sumber daya dan hierarki sosial yang mengakar," katanya. 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Pemerintah
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Pemerintah
IEA: Permintaan Global Baterai Litium-Ion Melonjak Tajam
IEA: Permintaan Global Baterai Litium-Ion Melonjak Tajam
Pemerintah
Ketika Fenomena 'Overwork' Dirasakan Banyak Para Pekerja Muda...
Ketika Fenomena "Overwork" Dirasakan Banyak Para Pekerja Muda...
LSM/Figur
Krisis Finansial Global Bisa Muncul Akibat Pemerintah Abai Risiko Iklim
Krisis Finansial Global Bisa Muncul Akibat Pemerintah Abai Risiko Iklim
Pemerintah
81 Persen Perusahaan di Indonesia Sulit Dapat Kandidat Sesuai Kebutuhan
81 Persen Perusahaan di Indonesia Sulit Dapat Kandidat Sesuai Kebutuhan
Swasta
Atasi Krisis Pangan Global, Sistem Agrifood Perlu Perubahan Total
Atasi Krisis Pangan Global, Sistem Agrifood Perlu Perubahan Total
Pemerintah
Bandara Heathrow Targetkan Pemakaian Avtur Berkelanjutan 5,6 Persen pada 2026
Bandara Heathrow Targetkan Pemakaian Avtur Berkelanjutan 5,6 Persen pada 2026
Pemerintah
Selandia Baru Ungkap Besarnya Potensi Panas Bumi di Sulawesi Utara
Selandia Baru Ungkap Besarnya Potensi Panas Bumi di Sulawesi Utara
BUMN
Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi
Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi
LSM/Figur
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi hingga Sepekan ke Depan
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?
Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?
LSM/Figur
2 Nuri Maluku Diamankan dari Kapal di Banda, BKSDA Perketat Pengawasan Jalur Laut
2 Nuri Maluku Diamankan dari Kapal di Banda, BKSDA Perketat Pengawasan Jalur Laut
Pemerintah
Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi
Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi
LSM/Figur
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau