KOMPAS.com - Beruang dilaporkan kerap muncul di Osaki, kota di timur laut Jepang. Saking intensnya pemberitaan di media terkait kemunculan beruang, jumlah wisatawan ke kota tersebut dikabarkan menurun pada tahun 2025.
"Tahun ini sangat buruk. Selalu ada beruang di wilayah ini, jadi orang-orang sudah terbiasa dengan mereka. Tapi tahun ini berbeda… ini menjadi topik pembicaraan terbesar," ujar seorang pejabat di divisi pengembangan lingkungan pedesaan Osaki, Kazuhide Otomo, dilansir dari The Guardian, Jumat (2/1/2026).
Baca juga:
Ilustrasi Osaki, Jepang.
Pihak berwenang Osaki melaporkan 400 penampakan beruang pada tahun 2025, jauh lebih tinggi ketimbang tahun 2024 yang kurang dari 100 penampakan beruang.
Berbagai peristiwa serangan beruang ke warga pun dilaporkan. Seorang perempuan berusia 70-an menderita luka serius di wajahnya ketika diserang beruang di luar rumahnya setelah memetik sayuran.
Insiden serupa dilaporkan juga terjadi di berbagai wilayah lainnya, dengan prefektur paling utara sebagai pusat gelombang serangan beruang yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Kementerian Lingkungan Hidup Jepang melaporkan 197 kasus serangan beruang selama periode April-November 2025. Bahkan, korban meninggal dunia akibat serangan beruang tersebut mencapai 13 orang, rekor tertinggi sejak mulai dihitung pada tahun 2008.
Beruang memasuki kawasan permukiman untuk mencari makanan. Sebab, panen biji ek dan biji pohon beech cukup buruk di habitat alami mereka.
Di kota yang dikenal dengan mata air panas Naruko Onsen ini, penduduk berharap tahun 2026 dapat membawa kelegaan.
Hal tersebut berkaitan dengan buruknya panen buah pohon beech yang diduga hanya terjadi dalam siklus dua tahun. Beberapa ilmuwan mengaitkannya dengan krisis iklim dan musim panas intens.
Di sisi lain, Jepang sudah kekurangan pemburu beruang berlisensi saat populasi beruang terus bertambah.
Saat ini, kebanyakan pemburu sudah lanjut usia, sedangkan yang lainnya hanya mempunyai sedikit atau tanpa pengalaman membunuh beruang.
Baca juga:
Ilustrasi beruang hitam Asiatik atau Asiatic black bear (Ursus thibetanus).Berdasarkan makalah yang ditulis sejumlah peneliti Jepang pada tahun 2019, kenaikan suhu selama 40 tahun terakhir telah mengganggu siklus panen biji pohon ek.
Kenaikan suhu akibat krisis iklim tersebut juga memperpendek siklus panen biji pohon ek hanya menjadi dua tahun, bukan tiga hingga empat tahun seperti sebelumnya, dilansir dari Japan Times.
Merujuk laporan para peneliti Amerika Serikat, musim dingin yang hangat akibat krisis iklim juga menganggu pola hibernasi beruang.
Imbasnya, beruang semakin aktif lebih lama hingga musim dingin, atau bahkan tidak berhibernasi sama sekali.
Tak hanya itu, terdapat peringatan risiko konflik antara manusia dan beruang pada masa depan.
Kendati demikian, mitigasi krisis iklim di tingkat global dinilai mengalami kemunduran. Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-30 (COP30) di Belem, Brasil, pada November 2025 berakhir tanpa konsensus tentang transisi energi dari bahan bakar fosil yang merupakan sumber emisi gas rumah kaca (GRK) terbesar.
“Tidak ada elemen penting dalam COP tahun ini. Kegiatan COP masa mendatang mungkin akan seperti ini untuk sementara waktu. Tanpa kerangka kerja baru yang menggantikan Perjanjian Paris, COP akan menjadi tempat untuk menegaskan pemahaman bersama di antara negara-negara, dan untuk mengambil langkah-langkah bertahap ke depan," tutur peneliti di Mitsubishi Research Institute dan pakar kredit karbon, Kenichiro Yamaguchi, yang menghadiri konferensi di Belem, Brasil.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya