Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Spesies Invasif Menekan Tumbuhan Pakan Badak Jawa, Dampak Krisis Iklim

Kompas.com, 5 Januari 2026, 09:10 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Tanaman akasia berduri (Acacia nilotica) menginvasi sabana Taman Nasional Baluran, Jawa Timur. Tanaman tersebut menekan rumput pakan banteng dan satwa herbivora lainnya, serta mengubah struktur sabana menjadi semak tertutup.

"Di (Taman Nasional) Ujung Kulon, Arenga obtusifolia (tanaman langkap, sejenis palem) membentuk tegakan rapat yang menekan regenerasi tumbuhan pakan badak jawa dan menyederhanakan keanekaragaman vegetasi," kata Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, Lembaga Riset Internasional Lingkungan dan Perubahan Iklim (PPLH LRI LPI) IPB University, Yudi Setiawan kepada Kompas.com, Minggu (4/12/2025).

Baca juga: 

Krisis iklim mengubah pola hujan, serta meningkatkan suhu dan frekuensi gangguan, seperti kebakaran dan kekeringan.

Kondisi tersebut melemahkan ekosistem alami, seperti di Taman Nasional Baluran dan Taman Nasional Ujung Kulon, serta memberi "celah ekologis" bagi spesies asing.

Spesies asing tersebut umumnya lebih toleran dan adaptif, serta dapat cepat bertumbuh dengan memanfaatkan "celah ekologis" untuk masuk dan mendominasi.

Baca juga: Kemenhut Translokasi Badak Jawa untuk Perbanyak Populasi

Krisis iklim ancam populasi satwa langka terancam punah

Arenga obtusifolia bahayakan populasi badak jawa di Ujung Kulon

Anakan badak jawa yang baru lahir direkam dalam kamera jebak di TN Ujung Kulon. Invasi akasia berduri mengubah ekosistem Ujung Kulon. Krisis iklim buka celah bagi spesies asing mengancam satwa langka, termasuk badak jawa.Dok. KLHK Anakan badak jawa yang baru lahir direkam dalam kamera jebak di TN Ujung Kulon. Invasi akasia berduri mengubah ekosistem Ujung Kulon. Krisis iklim buka celah bagi spesies asing mengancam satwa langka, termasuk badak jawa.

Yudi menuturkan, Arenga obtusifolia membahayakan habitat mencari makan yang penting bagi badak jawa yang terancam punah di Taman Nasional Ujung Kulon, dilansir dari laman resmi IPB University.

Sementara itu, penyebaran pohon akasia berduri mengubah struktur sabana asli di Taman Nasional Baluran.

Ia menambahkan, saat ini spesies invasif mengancam keanekaragaman hayati, jasa ekosistem, dan produktivitas di ekosistem khatulistiwa.

Yudi meraih hibah penelitian dari Asia-Pacific Network for Global Change Research untuk mengkaji dinamika dan penyebaran spesies asing invasif (invasive alien species/IAS) di ekosistem khatulistiwa, beserta relevansinya dengan krisis iklim.

Penelitian berifat kolaboratif dengan melibatkan para peneliti dari IPB University lain, Kementerian Kehutanan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta kampus luar negeri, seperti Universiti Putra Malaysia dan Universiti Teknologi Malaysia.

“Studi ini menyelidiki gangguan ekologis yang disebabkan oleh spesies invasif di dua kawasan keanekaragaman hayati penting di Indonesia yaitu Taman Nasional Baluran dan Ujung Kulon," tutur Yudi.

Baca juga:

Memprediksi dinamika spesies invasif akibat krisis iklim

Wisatawan di Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur.KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA Wisatawan di Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur.

Penelitian tersebut berupaya memprediksi dan mengelola dinamika spesies invasif akibat krisis iklim.

Penelitian ini menggabungkan genomika untuk mendeteksi sifat adaptif dengan penginderaan jauh berbasis satelit dalam memetakan perubahan habitat, serta menggabungkan pemodelan mekanistik untuk memprediksi risiko invasi spasial-temporal.

Selain solusi spesifik lokasi, penelitian bertujuan memajukan kerja sama regional dengan mengembangkan solusi berbasis alam (nature-based solutions/NbS) bersama otoritas kawasan lindung dan pemangku kepentingan utama.

Nantinya, penelitian ini akan mengembangkan platform pemodelan risiko spesies invasif yang dapat direplikasi dan memberikan informasi untuk sistem peringatan dini.

Platform permodelan risiko spesies invasif tersebut juga bisa memberikan panduan strategis yang selaras dengan jalur IAS ASEAN dan target keanekaragaman hayati global pasca-2020.

Dengan menjembatani sains, teknologi, dan kebijakan, penelitian ini diharapkan memperkuat kapasitas regional dalam pengendalian AIS.

Penyajian model baru untuk ketahanan ekologis lintas batas dalam menghadapi percepatan perubahan lingkungan juga diharapkan dapat berkontribusi pada pencapaian SDGs (Sustainable Development Goals) poin ke-13 (aksi iklim) dan ke-15 (kehidupan di darat).

Baca juga: Alarm Punah! Badak Jawa Diprediksi Hilang 50 Tahun Lagi, Translokasi Jadi Jalan

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Guru Besar Unpad Sebut Banjir Sumatera Tak Cuma Dipicu Hujan Ekstrem
Guru Besar Unpad Sebut Banjir Sumatera Tak Cuma Dipicu Hujan Ekstrem
LSM/Figur
Ilmuwan Ungkap Bahaya Mikroplastik untuk Lautan dan Suhu Bumi
Ilmuwan Ungkap Bahaya Mikroplastik untuk Lautan dan Suhu Bumi
LSM/Figur
Belajar dari India, Indonesia Dinilai Perlu Target Ambisius EBT
Belajar dari India, Indonesia Dinilai Perlu Target Ambisius EBT
LSM/Figur
Pakar Ungkap Peran Hutan dan Iklim Mikro untuk Kurangi Risiko Banjir Bandang
Pakar Ungkap Peran Hutan dan Iklim Mikro untuk Kurangi Risiko Banjir Bandang
LSM/Figur
Kemenhut Gandeng Ahli Investigasi 11 Subyek Hukum Terkait Banjir Sumatera Utara
Kemenhut Gandeng Ahli Investigasi 11 Subyek Hukum Terkait Banjir Sumatera Utara
Pemerintah
PBB Buka Pelaporan Keanekaragaman Hayati, Masyarakat Adat Bisa Lapor
PBB Buka Pelaporan Keanekaragaman Hayati, Masyarakat Adat Bisa Lapor
Pemerintah
Banjir Sumatera Cerminan Kegagalan Pemanfaatan Bentang Alam
Banjir Sumatera Cerminan Kegagalan Pemanfaatan Bentang Alam
LSM/Figur
Perluas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kemendes Gandeng BRI
Perluas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kemendes Gandeng BRI
BUMN
Riset Ungkap 11 Desa di DAS Tamiang Aceh Rawan Banjir Bandang
Riset Ungkap 11 Desa di DAS Tamiang Aceh Rawan Banjir Bandang
LSM/Figur
Krisis Pengungsi Global Disebut Akan Makin Parah Tanpa Investasi Jangka Panjang
Krisis Pengungsi Global Disebut Akan Makin Parah Tanpa Investasi Jangka Panjang
LSM/Figur
Tutupan Hutan DAS Tamiang Aceh Tergerus Sawit dan Permukiman Selama 20 Tahun
Tutupan Hutan DAS Tamiang Aceh Tergerus Sawit dan Permukiman Selama 20 Tahun
LSM/Figur
Suhu Bumi Meningkat, Kupu-kupu Monarch Makin Rentan Parasit
Suhu Bumi Meningkat, Kupu-kupu Monarch Makin Rentan Parasit
LSM/Figur
Di Balik Manuver AS ke Venezuela, Trump Ingin Dunia Tetap Bergantung pada Minyak?
Di Balik Manuver AS ke Venezuela, Trump Ingin Dunia Tetap Bergantung pada Minyak?
LSM/Figur
Bayi Panda Lahir di Taman Safari, Presiden Prabowo Beri Nama Satrio Wiratama
Bayi Panda Lahir di Taman Safari, Presiden Prabowo Beri Nama Satrio Wiratama
Pemerintah
Dukung Literasi Papua, WVI dan Mitra Universitas Terbitkan Buku Cerita Anak
Dukung Literasi Papua, WVI dan Mitra Universitas Terbitkan Buku Cerita Anak
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau