KOMPAS.com - Tanaman akasia berduri (Acacia nilotica) menginvasi sabana Taman Nasional Baluran, Jawa Timur. Tanaman tersebut menekan rumput pakan banteng dan satwa herbivora lainnya, serta mengubah struktur sabana menjadi semak tertutup.
"Di (Taman Nasional) Ujung Kulon, Arenga obtusifolia (tanaman langkap, sejenis palem) membentuk tegakan rapat yang menekan regenerasi tumbuhan pakan badak jawa dan menyederhanakan keanekaragaman vegetasi," kata Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, Lembaga Riset Internasional Lingkungan dan Perubahan Iklim (PPLH LRI LPI) IPB University, Yudi Setiawan kepada Kompas.com, Minggu (4/12/2025).
Baca juga:
Krisis iklim mengubah pola hujan, serta meningkatkan suhu dan frekuensi gangguan, seperti kebakaran dan kekeringan.
Kondisi tersebut melemahkan ekosistem alami, seperti di Taman Nasional Baluran dan Taman Nasional Ujung Kulon, serta memberi "celah ekologis" bagi spesies asing.
Spesies asing tersebut umumnya lebih toleran dan adaptif, serta dapat cepat bertumbuh dengan memanfaatkan "celah ekologis" untuk masuk dan mendominasi.
Baca juga: Kemenhut Translokasi Badak Jawa untuk Perbanyak Populasi
Anakan badak jawa yang baru lahir direkam dalam kamera jebak di TN Ujung Kulon. Invasi akasia berduri mengubah ekosistem Ujung Kulon. Krisis iklim buka celah bagi spesies asing mengancam satwa langka, termasuk badak jawa.Yudi menuturkan, Arenga obtusifolia membahayakan habitat mencari makan yang penting bagi badak jawa yang terancam punah di Taman Nasional Ujung Kulon, dilansir dari laman resmi IPB University.
Sementara itu, penyebaran pohon akasia berduri mengubah struktur sabana asli di Taman Nasional Baluran.
Ia menambahkan, saat ini spesies invasif mengancam keanekaragaman hayati, jasa ekosistem, dan produktivitas di ekosistem khatulistiwa.
Yudi meraih hibah penelitian dari Asia-Pacific Network for Global Change Research untuk mengkaji dinamika dan penyebaran spesies asing invasif (invasive alien species/IAS) di ekosistem khatulistiwa, beserta relevansinya dengan krisis iklim.
Penelitian berifat kolaboratif dengan melibatkan para peneliti dari IPB University lain, Kementerian Kehutanan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta kampus luar negeri, seperti Universiti Putra Malaysia dan Universiti Teknologi Malaysia.
“Studi ini menyelidiki gangguan ekologis yang disebabkan oleh spesies invasif di dua kawasan keanekaragaman hayati penting di Indonesia yaitu Taman Nasional Baluran dan Ujung Kulon," tutur Yudi.
Baca juga:
Wisatawan di Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur.Penelitian tersebut berupaya memprediksi dan mengelola dinamika spesies invasif akibat krisis iklim.
Penelitian ini menggabungkan genomika untuk mendeteksi sifat adaptif dengan penginderaan jauh berbasis satelit dalam memetakan perubahan habitat, serta menggabungkan pemodelan mekanistik untuk memprediksi risiko invasi spasial-temporal.
Selain solusi spesifik lokasi, penelitian bertujuan memajukan kerja sama regional dengan mengembangkan solusi berbasis alam (nature-based solutions/NbS) bersama otoritas kawasan lindung dan pemangku kepentingan utama.
Nantinya, penelitian ini akan mengembangkan platform pemodelan risiko spesies invasif yang dapat direplikasi dan memberikan informasi untuk sistem peringatan dini.
Platform permodelan risiko spesies invasif tersebut juga bisa memberikan panduan strategis yang selaras dengan jalur IAS ASEAN dan target keanekaragaman hayati global pasca-2020.
Dengan menjembatani sains, teknologi, dan kebijakan, penelitian ini diharapkan memperkuat kapasitas regional dalam pengendalian AIS.
Penyajian model baru untuk ketahanan ekologis lintas batas dalam menghadapi percepatan perubahan lingkungan juga diharapkan dapat berkontribusi pada pencapaian SDGs (Sustainable Development Goals) poin ke-13 (aksi iklim) dan ke-15 (kehidupan di darat).
Baca juga: Alarm Punah! Badak Jawa Diprediksi Hilang 50 Tahun Lagi, Translokasi Jadi Jalan
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya