KOMPAS.com - Riset menunjukkan bahwa 11 dari 214 desa di Daerah Aliran Sungai (DAS) Tamiang, Aceh, cukup rawan mengalami banjir bandang. Sementara itu, desa lainnya masuk kategori rawan sedang.
Hal ini diketahui berdasarkan disertasi berjudul Karakteristik Hidrologi dan Potensi Banjir Bandang di Kawasan Humid Tropics: Kasus DAS Tamiang Aceh tahun 2020, yang menganalisis perubahan tutupan lahan periode 1996-2018.
Baca juga:
Peneliti dari IPB University, Cut Azizah, mengatakan, lokasi atau jarak desa dari sungai menentukan kerentanan terhadap bahaya banjir bandang.
Wilayah desa yang berdekatan dengan sungai merupakan wilayah paling rentan apabila terjadi banjir bandang. Menurut dia, 70 persen desa di DAS Tamiang berdekatan dengan badan air, dengan sebagian permukiman berada di dalam sempadan sungai.
Sebab, sebagian besar masyarakat tinggal di pinggir sungai dan menggunakannya sebagai sumber air ataupun mata pencaharian.
"Banjir bandang yang cepat dan umumnya membawa debris akan menghancurkan wilayah desa di sepanjang sungai, walaupun lokasi pemicu bukan di desa tersebut," tulis Cut Azizah, dikutip Selasa (6/1/2026).
SDN I Kuala Simpang di Kabupaten Aceh Tamiang, masih terendap lumpur sisa banjir bandang.Banjir di DAS Tamiang terjadi setiap tahunnya. Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tahun 2018, ada 37 peristiwa banjir di wilayah tersebut selama 2003-2018.
Cut Azizah menuliskan bahwa tahun 2018 dan tahun 2012 merupakan tahun terbanyak kasus banjir.
"Oktober dan Desember merupakan bulan yang paling sering terjadi banjir, sedangkan Juli dan Agustus merupakan bulan yang belum pernah terjadi banjir. Pola hujan ekuatorial dengan puncak pada Bulan Mei dan Bulan Oktober menyebabkan banjir di DAS Tamiang," tulis Cut Azizah.
Ia menambahkan, banjir yang terjadi pada Oktober bertepatan dengan periode puncak hujan di DAS Tamiang. Sementara itu, curah hujan lebih sedikit pada bulan Juli dengan laju di atas 60 milimeter per hari.
Baca juga:
Sebelumnya, tercatat banjir bandang di DAS Tamiang terjadi enam kali, dengan empat di antaranya dapat diidentifikasi yaitu pada Sabtu (23/12/2006), Sabtu (20/12/2014), Minggu (9/4/2017), serta Sabtu (2/12/2017).
Cut Azizah menuliskan, banjir tahun 2006 merupakan banjir bandang terparah yang membawa debris kayu dan pohon.
Simulasi model Hydrologic Engineering Center's Hydrologic Modeling System (HEC HMS) menunjukkan, banjir bandang di DAS Tamiang diakibatkan curah hujan 63-111 milimeter per hari yang menghasilkan debit puncak 559-1.664 meter kubik per detik.
"Waktu kedatangan banjir bandang (waktu konsentrasi) di outlet (Kota Kuala Simpang) adalah 48 jam, sehingga diketahui banjir bandang pada hari kejadian diakibatkan akumulasi hujan dua hari sebelumnya," tulis dia.
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah memulihkan kembali Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) IKK Rantau di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh pasca bencana banjir dan longsor.Dalam risetnya, Cut Azizah menyampaikan pemetaan hujan deras dapat memprediksi wilayah potensial banjir dan tanah longsor yang menyebabkan banjir bandang.
Akumulasi curah hujan lima hari sebelumnya menjadi pendekatan yang bisa memperkirakan lokasi hujan deras dan kelembapan tanah karena hujan.
Cut Azizah merujuk data historis curah hujan Climate Hazards Group InfraRed Precipitation with Station (CHIRPS) 1981-2018, yang menunjukkan sebaran curah hujan lebih dari 150 milimeter sebesar 53 persen dari luasan DAS Tamiang, dan sedang atau 100–150 milimeter seluas 47 persen.
"Wilayah tinggi terdapat di bagian hulu dan sedikit di bagian hilir," tulis Cut Azizah.
Potensi banjir bandang sedang terkonsentrasi di wilayah DAS bagian dalam dan rendah di punggung atas DAS.
Sementara itu, potensi banjir bandang tinggi seluas 167 kilometer persegi terdapat di wilayah hulu barat laut yang mencakup Desa Lokop dan sekitarnya. Wilayah itu termasuk dalam Kecamatan Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur.
Lokasi potensi banjir bandang DAS Tamiang yang terletak di bagian hulu mendukung penelitian sebelumnya tahun 2014, 2009, dan 2017 yang menemukan umumnya insiden terjadi di wilayah hulu DAS.
Baca juga:
Penelitiannya juga mencatat alih fungsi lahan DAS Tamiang mengakibatkan hilangnya sabana atau padang rumput, dan bertambahnya penggunaan lahan permukiman hingga 73 persen.
Kemudian, perubahan lahan menjadi perkebunan kelapa sawit sebesar 71 persen, berkurangnya hutan mangrove sebesar 63 persen, dan menurunnya penggunaan lahan pertanian lahan kering sebesar 62 persen.
"Pola perubahan penggunaan lahan DAS Tamiang dari tahun 1995 ke tahun 2003 didominasi oleh hutan lahan kering primer berubah menjadi hutan lahan kering sekunder, hutan lahan kering sekunder berubah menjadi belukar dan pertanian lahan kering, hutan mangrove berubah menjadi belukar, dan belukar berubah menjadi perkebunan," tulis Cut Azizah.
Perubahan penggunaan lahan paling luas terjadi pada penggunaan lahan hutan kering primer.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya