Kedua, India melakukan lelang terbalik atau penawaran kompetitif yang inovatif. Jadi, bukan hanya penawaran kompetitif berskala lima megawatt atau 10 megawatt, melainkan sudah pada skala gigawatt.
Lelang berskala besar menciptakan alur kerja yang cukup dapat diprediksi bagi para pengembang energi terbarukan.
"Itu menarik minat banyak pemain global dan modal global untuk masuk ke India karena mereka tahu bahwa ini akan terjadi berulang kali," ujar Nikit dalam acara CSO Roundtable on Indonesia's 100 GW Solar Power Ambition: Lesson Learned from India and Beyond di Jakarta, Selasa (16/12/2025).
Baca juga:
Untuk membangun kepercayaan investor, India membentuk Solar Energy Corporation of India (SECI), sebuah entitas milik pemerintah.
SECI menggabungkan proyek pembangkit listrik berskala kecil, mengubahnya menjadi lelang berukuran gigawatt. SECI juga menstandarisasi dokumen penawaran dan power purchase agreement (PPA), serta menyediakan kerangka kerja yang andal untuk investasi.
Ketiga, India memprioritaskan pengurangan risiko daripada menawarkan subsidi. Kata dia, subsidi hanya diberikan pada tahun-tahun awal untuk menstimulasi proyek EBT.
"Wawasan penting kedua bagi Indonesia adalah bahwa pengurangan risiko lebih penting daripada menawarkan subsidi atau insentif," tutur Nikit.
Keempat, menciptakan ekosistem yang memungkinkan sektor swasta turut berkontribusi dalam pengembangan EBT.
India memastikan bahwa perusahaan utilitas lokal bukanlah satu-satunya pembeli energi surya. Bahkan, India mendorong penggunaan energi surya untuk non-perushaaan utilitas.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya