Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Belajar dari India, Indonesia Dinilai Perlu Target Ambisius EBT

Kompas.com, 7 Januari 2026, 11:18 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sebagai sesama negara berkembang, Indonesia dapat berkaca dari pengalaman India dalam mengembangkan energi baru terbarukan (EBT) di dalam negeri.

India dinilai memahami ketergantungannya terhadap energi fosil sangat tinggi, dan mulai memikirkan untuk beralih ke EBT dengan mengatur target capaiannya melalui peraturan perundang-undangan ketenagalistrikan. Saat ini, India dinilai telah menjadi pemain utama dalam pasar EBT global.

Baca juga:

"Jadi penting untuk punya target dan India melaksanakan itu dengan konsisten walaupun pemerintahnya ganti. Bahkan, ketika ganti pemerintah, targetnya dinaikkan lebih ambisius," ujar Chief Executive Officer (CEO) Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa kepada Kompas.com, Selasa (6/1/2025).

Belajar dari India terkait target bauran energi baru terbarukan

Tingkatkan target dan integrasikan pengembangan EBT 

Ilustrasi Stasiun Kereta Api New Delhi di India. India dinilai sukses jadi pemain utama EBT global. Indonesia bisa meniru strategi target EBT, industri surya, dan konsistensi kebijakan ini.Dok. Wikimedia Commons/Sumita Roy Dutta Ilustrasi Stasiun Kereta Api New Delhi di India. India dinilai sukses jadi pemain utama EBT global. Indonesia bisa meniru strategi target EBT, industri surya, dan konsistensi kebijakan ini.

India terus meningkatkan target bauran EBT untuk mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM) dan batu bara.

Di sisi lain, India juga mengintegrasikan pengembangan EBT dengan industri dalam negeri.

Imbasnya, ada insentif ekonomi langsung dari penggunaan EBT karena India mempunyai industri panel surya dengan kapasitas produksi mencapai 100 gigawatt (GW).

"Yang tadinya tuh kecil sekali, pada 2010 India hanya punya kurang dari satu GW ya industri modul surya, sekarang (kapasitasnya lebih dari) 100 GW," tutur Fabby.

Selain itu, India juga membangun industri turbin angin untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB).

"India menggunakan target domestik itu sebagai demand (permintaan) untuk industri energi terbarukan. Kalau Indonesia mau mempelajari keberhasilan India, ya itu bisa diterapkan. Ada targetnya, dilaksanakan secara konsisten, kemudian dihubungkan dengan pembangunan industri," jelas dia.

Baca juga:

India dinilai sukses jadi pemain utama EBT global. Indonesia bisa meniru strategi target EBT, industri surya, dan konsistensi kebijakan ini.UNSPLASH/SARANG PANDE India dinilai sukses jadi pemain utama EBT global. Indonesia bisa meniru strategi target EBT, industri surya, dan konsistensi kebijakan ini.

Sebelumnya, Associate Adjunct Professor at the Goldman School of Public Policy of the University of California, Berkeley and Co-Faculty Director of the India Energy and Climate Center, Nikit Abhyankar mengatakan, India menawarkan pengalaman dan pengetahuan berharga bagi Indonesia untuk pengembangan EBT di dalam negeri.

Terdapat beberapa strategi yang berhasil diterapkan di India dan dapat dicontoh oleh Indonesia.

Pertama, komitmen politik dan visi politik yang sangat kuat pada tingkat pengambilan keputusan tertinggi. Misalnya, Presiden Prabowo Subianto menargetkan 100 gigawatt (GW) pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Komitmen politik tersebut harus bisa menggerakkan birokrasi dan berbagai mekanisme lainnya.

Di tingkat regulasi, Indonesia perlu menerapkan kewajiban portofolio energi terbarukan, yang mengharuskan perusahaan utilitas untuk membelinya dalam persentase tertentu.

Kata Nikit, saat ini India mensyaratkan 20 persen dan akan meningkat menjadi lebih dari 43 persen pada 2030.

Ilustrasi panel surya. India dinilai sukses jadi pemain utama EBT global. Indonesia bisa meniru strategi target EBT, industri surya, dan konsistensi kebijakan ini.Kompas.com/Aisyah Sekar Ayu Maharani Ilustrasi panel surya. India dinilai sukses jadi pemain utama EBT global. Indonesia bisa meniru strategi target EBT, industri surya, dan konsistensi kebijakan ini.

Kedua, India melakukan lelang terbalik atau penawaran kompetitif yang inovatif. Jadi, bukan hanya penawaran kompetitif berskala lima megawatt atau 10 megawatt, melainkan sudah pada skala gigawatt.

Lelang berskala besar menciptakan alur kerja yang cukup dapat diprediksi bagi para pengembang energi terbarukan.

"Itu menarik minat banyak pemain global dan modal global untuk masuk ke India karena mereka tahu bahwa ini akan terjadi berulang kali," ujar Nikit dalam acara CSO Roundtable on Indonesia's 100 GW Solar Power Ambition: Lesson Learned from India and Beyond di Jakarta, Selasa (16/12/2025).

Baca juga:

Untuk membangun kepercayaan investor, India membentuk Solar Energy Corporation of India (SECI), sebuah entitas milik pemerintah.

SECI menggabungkan proyek pembangkit listrik berskala kecil, mengubahnya menjadi lelang berukuran gigawatt. SECI juga menstandarisasi dokumen penawaran dan power purchase agreement (PPA), serta menyediakan kerangka kerja yang andal untuk investasi.

Ketiga, India memprioritaskan pengurangan risiko daripada menawarkan subsidi. Kata dia, subsidi hanya diberikan pada tahun-tahun awal untuk menstimulasi proyek EBT.

"Wawasan penting kedua bagi Indonesia adalah bahwa pengurangan risiko lebih penting daripada menawarkan subsidi atau insentif," tutur Nikit.

Keempat, menciptakan ekosistem yang memungkinkan sektor swasta turut berkontribusi dalam pengembangan EBT.

India memastikan bahwa perusahaan utilitas lokal bukanlah satu-satunya pembeli energi surya. Bahkan, India mendorong penggunaan energi surya untuk non-perushaaan utilitas.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kebijakan Pencegahan Kanker Serviks di Indonesia Dinilai Belum Menyeluruh
Kebijakan Pencegahan Kanker Serviks di Indonesia Dinilai Belum Menyeluruh
LSM/Figur
Cerita Satrio Wiratama, Bayi Panda Pertama di Indonesia yang Jadi Simbol Diplomasi
Cerita Satrio Wiratama, Bayi Panda Pertama di Indonesia yang Jadi Simbol Diplomasi
Pemerintah
Di Tengah Krisis Ekologis, Riset Ungkap Peran Sekolah Bentuk Perilaku Ramah Lingkungan Siswa
Di Tengah Krisis Ekologis, Riset Ungkap Peran Sekolah Bentuk Perilaku Ramah Lingkungan Siswa
LSM/Figur
Deforestasi Skala Kecil Jadi Ancaman Serius Iklim Dunia, Mengapa?
Deforestasi Skala Kecil Jadi Ancaman Serius Iklim Dunia, Mengapa?
Pemerintah
Desa Terdampak Banjir Sumatera Disebut Lebih Banyak dari yang Dilaporkan
Desa Terdampak Banjir Sumatera Disebut Lebih Banyak dari yang Dilaporkan
Pemerintah
Generasi Baby Boomer Dinilai Efektif Dorong Keberlanjutan Perusahaan
Generasi Baby Boomer Dinilai Efektif Dorong Keberlanjutan Perusahaan
Pemerintah
Korea Selatan dan China Perluas Kerja Sama Terkait Krisis Iklim
Korea Selatan dan China Perluas Kerja Sama Terkait Krisis Iklim
Pemerintah
Banjir Sumatera, United Tractors Salurkan Bantuan untuk Pemulihan Pasca-bencana
Banjir Sumatera, United Tractors Salurkan Bantuan untuk Pemulihan Pasca-bencana
Swasta
Sharing Desa Bakti BCA, Nicholas Saputra Ingatkan Jaga Alam dan Budaya untuk Pengalaman Berkualitas
Sharing Desa Bakti BCA, Nicholas Saputra Ingatkan Jaga Alam dan Budaya untuk Pengalaman Berkualitas
Swasta
AS Mundur dari 66 Organisasi PBB dan Non-PBB, Ini Daftarnya
AS Mundur dari 66 Organisasi PBB dan Non-PBB, Ini Daftarnya
Pemerintah
Hampir Sebagian Pantai Dunia Terancam Hilang akibat Perubahan Iklim
Hampir Sebagian Pantai Dunia Terancam Hilang akibat Perubahan Iklim
LSM/Figur
Mengapa AS Ingin Membeli Greenland? Keamanan hingga Cadangan Mineral
Mengapa AS Ingin Membeli Greenland? Keamanan hingga Cadangan Mineral
Pemerintah
Trump Tarik Amerika Serikat dari PBB, Pendanaan Organisasi Lingkungan Dihentikan
Trump Tarik Amerika Serikat dari PBB, Pendanaan Organisasi Lingkungan Dihentikan
Pemerintah
Fluktuasi Harga Batu Bara Disebut Hantui Indonesia karena Ketergantungan Energi Fosil
Fluktuasi Harga Batu Bara Disebut Hantui Indonesia karena Ketergantungan Energi Fosil
LSM/Figur
Pria Lebih Rentan, Mikroplastik Bisa Menyumbat Arteri dan Percepat Serangan Jantung
Pria Lebih Rentan, Mikroplastik Bisa Menyumbat Arteri dan Percepat Serangan Jantung
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau