"Pengalaman saja tidak cukup. Kelompok paling tua, kaum Tradisionalis, sering kali menolak perubahan, yang dapat menghambat kemajuan keberlanjutan," kata dia.
Di sisi lain, Donkor juga mengatakan direktur yang lebih muda juga tidak selalu meningkatkan keberlanjutan.
"Generasi seperti Gen X dan milenial sering kali memprioritaskan tujuan jangka pendek dan pertumbuhan karier pribadi daripada komitmen lingkungan dan sosial jangka panjang," ucap Donkor.
Meskipun mereka membawa energi dan keterampilan yang melek teknologi, sifat-sifat tersebut tidak secara otomatis diterjemahkan ke dalam tindakan dan hasil keberlanjutan di ruang rapat.
Peneliti pun menyarankan perusahaan untuk memasukkan generasi Baby Boomer dalam susunan dewan direksi mereka jika ingin memprioritaskan keberlanjutan.
"Pada akhirnya, perpaduan generasi menambah nilai, tetapi penelitian kami menunjukkan bahwa generasi Baby Boomer sangat penting untuk mengarahkan perusahaan menuju dampak lingkungan dan sosial yang berkelanjutan," pungkas Donkor.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya