Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Generasi Baby Boomer Dinilai Efektif Dorong Keberlanjutan Perusahaan

Kompas.com, 8 Januari 2026, 17:19 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Generasi Baby Boomer yang lahir tahun 1946–1964 bisa menjadi penentu agenda keberlanjutan sebuah perusahaan, menurut studi terbaru dari Murdoch University.

Studi berjudul "Does Older Mean Better? Analyses of Boards' Influence on Sustainability Performance," ini menganalisis apakah komposisi generasi dewan direksi memengaruhi seberapa baik kinerja perusahaan dalam hal keberlanjutan.

Baca juga: 

"Kami menemukan bahwa meskipun generasi (Baby) Boomer memiliki pengaruh positif terhadap FSP (kinerja keberlanjutan perusahaan), anggota Generasi Tradisionalis, Generasi X, dan Generasi Y kurang peduli terhadap FSP," bunyi studi tersebut, dilansir dari Wiley Online Library, Kamis (8/1/2026).

Adapun studi ini dipublikasikan di Business Strategy and the Environment.

Boomer berperan dalam agenda keberlanjutan perusahaan

Pengalaman saja tak cukup untuk menjalankan agenda keberlanjutan

Studi internasional menilai Baby Boomer memiliki visi jangka panjang dan pola kolaboratif yang memperkuat kinerja ESG perusahaan.PEXELS/PAVEL DANILYUK Studi internasional menilai Baby Boomer memiliki visi jangka panjang dan pola kolaboratif yang memperkuat kinerja ESG perusahaan.

Para peneliti menggunakan data dari 2.162 perusahaan publik di Amerika Serikat. Mereka menilai bagaimana Generasi Tradisionalis (lahir sebelum tahun 1946), Baby Boomer (1946–1964), Generasi X (1965–1981), dan Milenial (1982–2000) memengaruhi keberlanjutan perusahaan.

Keberlanjutan kemudian diukur menggunakan tolok ukur ESG (Environmental, Social, Governance) global dari LSEG, sistem peringkat yang diakui secara internasional yang memberi skor perusahaan berdasarkan kinerja lingkungan, sosial, dan tata kelola mereka.

Menurut hasil penelitian, dewan direksi yang terdiri dari generasi Baby Boomer menunjukkan peningkatan kinerja keberlanjutan.

Sementara itu, generasi Tradisionalis, Gen X, dan Milenial dinilai cenderung kurang peduli.

Penulis utama studi ini, Augustine Donkor dari Murdoch Business School, mengatakan bahwa direktur dari generasi Baby Boomer memberikan kombinasi unik antara pengalaman luas dan pemikiran jangka panjang.

Mereka disebut memilik pendekatan yang berorientasi pada konsensus memperkuat preferensi yang kuat untuk kolaborasi.

"Jika perusahaan ingin memperkuat kinerja keberlanjutan mereka, memiliki Baby Boomer di ruang rapat adalah langkah yang cerdas," kata Donkor, dilansir dari Phys.org

Baca juga: 

Menurut Donkor, generasi Baby Boomer membawa visi jangka panjang dan pola pikir kolaboratif yang selaras dengan tujuan lingkungan dan sosial.

Penelitian pun menunjukkan menunjukkan bahwa kehadiran mereka dapat memengaruhi ke arah keputusan yang melindungi planet dan kesuksesan jangka panjang perusahaan.

Donkor mengatakan bahwa temuan mereka menyanggah keyakinan umum bahwa para direktur yang lebih tua meningkatkan kinerja lingkungan dan sosial semata-mata karena pengalaman dan kematangan mereka.

"Pengalaman saja tidak cukup. Kelompok paling tua, kaum Tradisionalis, sering kali menolak perubahan, yang dapat menghambat kemajuan keberlanjutan," kata dia.

Milenial cenderung berorientasi pertumbuhan karier pribadi

Direktur yang lebih muda tak selalu meningkatkan keberlanjutan

Studi internasional menilai Baby Boomer memiliki visi jangka panjang dan pola kolaboratif yang memperkuat kinerja ESG perusahaan.PEXELS/FAUXELS Studi internasional menilai Baby Boomer memiliki visi jangka panjang dan pola kolaboratif yang memperkuat kinerja ESG perusahaan.

Di sisi lain, Donkor juga mengatakan direktur yang lebih muda juga tidak selalu meningkatkan keberlanjutan.

"Generasi seperti Gen X dan milenial sering kali memprioritaskan tujuan jangka pendek dan pertumbuhan karier pribadi daripada komitmen lingkungan dan sosial jangka panjang," ucap Donkor.

Meskipun mereka membawa energi dan keterampilan yang melek teknologi, sifat-sifat tersebut tidak secara otomatis diterjemahkan ke dalam tindakan dan hasil keberlanjutan di ruang rapat.

Peneliti pun menyarankan perusahaan untuk memasukkan generasi Baby Boomer dalam susunan dewan direksi mereka jika ingin memprioritaskan keberlanjutan.

"Pada akhirnya, perpaduan generasi menambah nilai, tetapi penelitian kami menunjukkan bahwa generasi Baby Boomer sangat penting untuk mengarahkan perusahaan menuju dampak lingkungan dan sosial yang berkelanjutan," pungkas Donkor.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
LSM/Figur
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Pemerintah
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
LSM/Figur
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
LSM/Figur
AS Keluar dari UNFCCC, RI Perlu Cari Alternatif Pembiayaan Transisi Energi
AS Keluar dari UNFCCC, RI Perlu Cari Alternatif Pembiayaan Transisi Energi
LSM/Figur
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
Pemerintah
AS Keluar dari 66 Organisasi Internasional, Pakar Sebut Indonesia Cari Alternatif Dana Transisi Energi
AS Keluar dari 66 Organisasi Internasional, Pakar Sebut Indonesia Cari Alternatif Dana Transisi Energi
LSM/Figur
Polutan Ganggu Kesehatan Burung Laut, Ini Dampak Merkuri dan PFAS
Polutan Ganggu Kesehatan Burung Laut, Ini Dampak Merkuri dan PFAS
LSM/Figur
Krisis Iklim Ancam Juhyo, Fenomena Monster Salju di Jepang
Krisis Iklim Ancam Juhyo, Fenomena Monster Salju di Jepang
Pemerintah
Bahaya Bakar Plastik untuk Rumah Tangga, Ahli Jelaskan Dampaknya
Bahaya Bakar Plastik untuk Rumah Tangga, Ahli Jelaskan Dampaknya
LSM/Figur
Pertanian Ancam Ekosistem Terbesar Dunia, 26 Persen Spesies Hilang
Pertanian Ancam Ekosistem Terbesar Dunia, 26 Persen Spesies Hilang
Pemerintah
325.000 Hektare Perairan Wetar Barat Resmi jadi Kawasan Konservasi
325.000 Hektare Perairan Wetar Barat Resmi jadi Kawasan Konservasi
LSM/Figur
AS Keluar dari UNFCCC, PBB Ingatkan Dampak Kebijakan Trump
AS Keluar dari UNFCCC, PBB Ingatkan Dampak Kebijakan Trump
Pemerintah
INDEF: Tanpa Perbaikan Ketenagakerjaan, Program MBG Berisiko Jadi Beban Antar-Generasi
INDEF: Tanpa Perbaikan Ketenagakerjaan, Program MBG Berisiko Jadi Beban Antar-Generasi
LSM/Figur
Fenomena Plastik Berminyak di Pantai, Disebut akibat Minyak Tumpah di Laut
Fenomena Plastik Berminyak di Pantai, Disebut akibat Minyak Tumpah di Laut
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau