Banyak negara berhasil memanfaatkan bonus demografi untuk keluar dari middle income trap atau menjadi negara maju, seperti Jepang, Singapura, dan Korea Selatan. Indonesia perlu memanfaatkan keuntungan dari menurunnya angka ketergantungan atau bonus demografi.
Indonesia memiliki angka ketergantungan yang rendah hingga sekitar tahun 2034. Namun, setelah tahun 2037, angka ketergantungan Indonesia akan semakin tinggi. Artinya, penduduk usia produktif di Indonesia akan menanggung sangat banyak beban.
"Ini gawat lho ya," ujar Direktur Perencanaan Ekonomi Makro dan Pengembangan Model Pembangunan Kementerian PPN/Bappenas, Ibnu Yahya.
Ia berharap program MBG dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan anak-anak generasi penerus bangsa. Setelah tahun 2037, para penerima MBG diharapkan dapat menciptakan nilai tambah tinggi dengan semain produktif di tengah besarnya angka ketergantungan yang dibebankan kepada mereka.
"(MBG) ini dapat menjadi salah satu solusi untuk ya. Habisnya bonus demografi tahun 2037, sehingga kita harus meningkatkan kualitas dari tenaga kerja yang akan masuk setelah 2037," tutur Ibnu.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya