Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Benarkah Mikroplastik Bisa Masuk ke Dalam Tubuh Manusia?

Kompas.com, 15 Januari 2026, 18:46 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pada Februari 2025 lalu, terdapat studi yang menemukan banyak serpihan kecil plastik polietilen dan polimer dari sampel jaringan otak manusia yang telah meninggal. 

Temuan tersebut mengejutkan, meskipun waktu itu dampak mikroplastik dan nanoplastik dalam tubuh masih belum jelas.

Baca juga:

"Saya tentunya tidak merasa nyaman dengan banyaknya plastik di otak saya," ucap toksikolog sekaligus pemimpin studi tersebut, Matthew Campen, dilansir dari Slate, Kamis (15/1/2026).

Selain di otak, ada pula beberapa studi yang menemukan mikroplastik di bagian tubuh lain, dari testis hingga arteri. Temuan itu erat kaitannya dengan polusi plastik dalam makanan, minuman, dan udara. 

Kendati demikian, tidak sedikit peneliti yang mengkritik studi tentang mikroplastik dalam tubuh. Salah satunya karena dinilai keliru. 

Benarkah mikroplastik bisa masuk ke dalam tubuh?

Bukti keliru tentang mikroplastik bisa mengakibatkan kebijakan salah arah

Penelitian mikroplastik di otak manusia memicu kontroversi. Sejumlah ahli menilai metodenya lemah dan berisiko salah arah.Freepik Penelitian mikroplastik di otak manusia memicu kontroversi. Sejumlah ahli menilai metodenya lemah dan berisiko salah arah.

Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian partikel mikroplastik, terutama pada jaringan manusia, berkembang pesat.

Perlombaan untuk mempublikasikan temuan tersebut dinilai telah menyebabkan hasil yang terburu-buru. Pemeriksaan ilmiah rutin bahkan terkadang diabaikan.

Bukti yang keliru tentang tingkat mikroplastik dalam tubuh manusia bisa mengakibatkan peraturan dan kebijakan yang salah arah.

Bukti yang keliru juga dapat membantu para pelobi industri plastik untuk mengabaikan kekhawatiran yang sebenarnya, dengan mengklaim bahwa kekhawatiran itu tidak berdasar.

Menanggapi tren penelitian mikroplastik di dalam tubuh manusia, pada bulan November 2025 lalu, sekelompok peneliti mempublikasikan surat yang mengkritik sejumlah studi tentang mikroplastik.

Sekelompok peneliti itu menyoroti kurangnya langkah validasi dan tantangan metodologis, seperti kontrol kontaminasi yang terbatas.

"Makalah tentang mikroplastik di otak hanyalah lelucon. Lemak diketahui menyebabkan hasil positif palsu untuk polietilen. Otak memiliki (kira-kira) 60 persen lemak," ucap Dr Dušan Materi? dari Helmholtz Centre for Environmental Research di Jerman, salah satu penulis surat tersebut, dilansir dari The Guardian.

Ia dan rekan-rekannya menuturkan, kenaikan tingkat obesitas bisa menjadi penjelasan alternatif untuk bioakumulasi "mikroplastik" di otak manusia yang dilaporkan dalam penelitian itu.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari 'Paman Sam'
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari "Paman Sam"
LSM/Figur
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
LSM/Figur
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
LSM/Figur
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
LSM/Figur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Pemerintah
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
LSM/Figur
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
LSM/Figur
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Swasta
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Pemerintah
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Pemerintah
Kue Delapan Jam, 'Waktu' Jadi Bahan Utama
Kue Delapan Jam, "Waktu" Jadi Bahan Utama
Swasta
Video Viral Anak Gajah Diduga Terjerat, Kemenhut Sebut Lokasinya di Malaysia
Video Viral Anak Gajah Diduga Terjerat, Kemenhut Sebut Lokasinya di Malaysia
Pemerintah
Satgas Transisi Energi dan Usulan Potensi Dana Pungutan Batu Bara Rp 675 Triliun
Satgas Transisi Energi dan Usulan Potensi Dana Pungutan Batu Bara Rp 675 Triliun
LSM/Figur
Waspada, Ancaman Kebakaran Hutan di Indonesia Lebih Berat Saat Musim Kemarau 2026
Waspada, Ancaman Kebakaran Hutan di Indonesia Lebih Berat Saat Musim Kemarau 2026
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau